
Agnia masuk kedalam mobil dengan tersungut, dia bahkan menarik handle pintu mobil pada saat tangan Zian masih memegangi pintu mobil untuknya, Zian pun hanya terkekeh penuh kemenangan lalu berjalan mengitari mobil dan masuk dari pintu sebelahnya dengan membuka kancing jas yang dikenakannya.
Tanpa sadar kedua manik lentik Agnia mengikuti setiap gerak dari pria yang terpaut usia 17 tahun dengan nya itu, hingga pria itu masuk dan duduk disampingnya.
Gue gak bohong, makin hari dia kok makin ganteng aja, apalagi kalau dia senyum gitu. Astaga ... kok gue jadi norak. Agnia membatin dengan kedua mata tetap mengarah pada Zian.
"Apa? Hem ...?" tanya Zian lalu menatap wajahnya sendiri pada spion mobil.
Agnia mengerjapkan kedua mata, dengan cepat dia membuang wajahnya ke arah sebaliknya, seolah takut Zian tahu jika dia memperhatikannya dari luar sampai dalam mobil.
"Apaan ... gak ada! Aku lapar!" gumamnya pelan.
"Mau makan aku? Eeh maksudnya mau makan!" goda Zian yang kembali memperhatikan bibir Agnia yang masih terlihat membengkak karena ulahnya tadi.
Agnia menoleh kembali, Makin ganteng, tapi makin norak, tapi gue suka. Emang gue yang bego apa gimana sih! Agnia kembali bermonolog dalam hatinya.
Zian pun melajukan mobilnya, Zian berencana mengajaknya makan terlebih dahulu sebelum mengantarkannya pulang.
"Kita mau makan dimana sih? Perasaan dari tadi cuma muter muter daerah sini terus deh!"
"Kita makan dimana saja asal tidak makan di resto itu!" tunjuk Zian menggunakan dagunya pada resto yang terletak disebelah kiri.
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa!" jawabnya dengan mengerdikkan bahu.
Agnia menatap resto yang Zian tunjuk sebelumnya, dia tidak merasa ada yang aneh ataupun ganjal ditempat itu, namun sedetik kemudian dia ingat jika Regi adalah homeband diresto itu, dan biasanya pertunjukan bandnya itu sudah dimulai saat ini.
"Hih ... dasar, cemburu boleh! Tapi fikirkan cacing-cacing diperut Nia! Mereka gak bakal peduli juga kalau ada yang cemburu." Tukasnya dengan melipat tanganya.
"Siapa yang cemburu?"
"Om Zian lah ... masa Nia? Lagian nih ya, Nia itu gak ada hubungan apa-apa sama Regi! Dia itu cuma temen aja, sahabat gitu!"
"Tidak ada yang namanya wanita dan laki-laki berteman apalagi bersahabat Nia! Pasti ada unsur lain, kalau gak sekarang ya nanti! Lagi pula aku tetap tidak suka dengan bocah itu."
"Ihh ... nyebelin banget! Semuanya aja temen-temen Nia, Om gak suka!"
Agnia mengatupkan mulutnya, dengan kedua mata terbelalak tidsk percaya apa yang dikatakan Zian.
"Kenapa? Kamu tidak percaya?" tangannya dengan menghentikan mobilnya disebuah resto.
"Percaya deh percaya ... tapi masa Nia gak boleh punya temen, gimana nanti Nia kuliah? Gila aja." sungutnya kesal.
Belum apa-apa udah posesif banget.
Selera makannya hilang tiba-tiba, wajahnya pun ditekuk dengan bibir yang mencebik, Zian menatapnya kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Aku akan segera bicara dengan ibumu, mungkin setelah kita makan!" godanya kembali.
"Hei ... kenapa buru-buru sekali!"
Zian membuka seat belt yang membelit tubuhnya, "Bukankah tempo hari kamu yang ingin disegerakan?"
"Ya... tapi gak ... maksudnya bukan berarti hari ini juga!"
Zian tergelak, dia mengacak rambut Agnia, "Dasar labil ... kemarin minta cepet sekarang tidak mau! Ayo turun, lebih baik kita makan saja!"
Gadis itu terpaku ditempatnya, usianya terlalu muda, pikirannya pun kerap berubah rubah, namun tidak membuat Zian mengurungkan niatnya untuk segera menikahinya.
"Tapi Om tidak akan bilang mommy hari ini kan?"
"Tidak, mungkin besok!" ujarnya dengan keluar dari mobil.
"Om ...! Hari ini sama besok sama aja! Itu terlalu cepat! Lagi pula ... aah... tau ahhkk!!"
.
.
.
__ADS_1
Upnya dikit dulu ya gaes, othor lagi dikejar deatline di RL. maafkeun