Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 273


__ADS_3

"Baby ... katakan apa yang kau rasakan Hem?"


Agnia menggelengkan kepalanya, dia memang tidak merasakan apapun bahkan tidak sama sekali berasa jika dia tengah hamil.


"Baby! Jangan membuatku bingung." Ujar Zian lalu menoleh pada Dokter Siska. "Dok ... tolong periksa sekali lagi, istriku kenapa?"


Siska hanya mengulum senyuman, terlihat perubahan yang kentara dari mereka, Agnia yang terlihat bingung sampai otak nya tidak mampu berfikir dengan jernih, bahagia bercampur juga dengan rasa khawatir juga haru dan Zian yang tengah bahagia sampai bisa sepanik itu melihat istri kecilnya menangis.


"Coba tenang dulu ya! Tarik nafas lalu hembuskan, tarik lagi nafas ... tahan!" ujar Siska agar Agnia tenang.


Namun bukan Agnia yang mengikuti instruksi nya, melainkan Zian yang menarik nafas panjang lalu di embuskannya.


Lamat lamat Agnia terkekeh sambil menangis melihat suaminya melakukan hal itu. Tampak wajahnya yang khawatir juga sangat konyol. Bagitu juga dengan dokter Siska dan suster yang mengulum senyuman.


"Mereka lucu ya Dok."


"Mereka sama sama bahagia, saking bahagianya sampai keduanya terlihat konyol dengan rasa khawatir." desis Siska pada suster yang mematung disampingnya. Suster pun mengangguk mengiyakan, dengan kedua mata yang terus menatap mereka.


Melihat Agnia terkekeh, Zian ikut tertawa kecil, merengkuh tubuhnya kedalam pelukannya. Begitupun dengan Agnia yang merekatkan kedua tangannya dipinggang sang suami.


"Kamu bikin Nia malu hubby!" bisiknya pelan.


"Aku sangat khawatir baby! Apa aku konyol?"


"Banget! Ayo kita keluar, aku malu!"


"Aku juga ... tapi ada sesuat yang harus aku tanyakan pada dokter. Setelah itu kita baru pergi ok!"


Agnia mengangguk pelan, lalu keduanya duduk didepan meja dokter Siska.


"Aku sudah resepkan vitamin dan obat penguat kandungan ya! Nanti tinggal ambil di apotek."


Zian mengangguk, begitu juga dengan Agnia,


"Dok ... kok aku gak ngerasain apa apa ya. Gimana kalau ternyata aku tidak hamil?" tanya Agnia dengan ragu ragu dan perasaan malu bertanya.


Siska tersenyum, "Setiap wanita yang hamil memang mengalami gejala yang berbeda beda. Ada yang parah sampai tidak bisa menelan makanan, bahkan ada yang harus benar benar badrest, ada juga yang tidak sadar jika dia hamil dan baru ketauan setelah perutnya membesar. Ada juga yang unik, yaitu semua gejala kehamilan dirasakan justru oleh suaminya."


"Nah ... sepertinya kita mengalami hal itu baby! Iya kan. Aku dok yang hampir dua minggu ini sakit, kepalaku pusing dan terakhir juga mengalami mual mual." jelas Zian yang menyela pembicaraan Siska.


"Oh iya ... jarang sekali lho itu terjadi. Benar benar unik! Tapi itu tidak masalah kan? Maksudnya tidak membuat pekerjaanmu terganggu?"

__ADS_1


"Sedikit sih! Tapi tidak apa ... karena aku suami siaga, aku tidak masalah ya kan baby?"


Iya tidak masalah buatmu, tapi masalah buat gue, harus terus berduaan sepanjang hari. batin Agnia.


"Tapi kalau misalkan aku mengkomsumsi obat obatan dan juga suplemen apa tidak berpengaruh pada kehamilannya kan?" tanya Zian konyol.


Siska terkekeh, "Ya tidak tuan ... yang hamil bukan anda, tapi istri anda. Anda hanya mengalami gejala nya saja. Dan di ilmu kedokteran itu ada, namanya sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Kalaupun anda minum obat keras sekalipun ya tidak akan terpengaruh pada kehamilan istri anda." jelas Siska.


Agnia memejamkan mata, kenapa Zian terlihat sangat bodoh saat ini. Dia saja yang tidak tahu apa apa tentang ilmu kehamilan bisa berfikir logis mengenai hal itu yang benar benar tidak ada hubungannya sama sekali.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan?" Dokter Siska mengulum senyuman.


"Kalau mengenai hubu---" Ucapannya terjeda karena Agnia membekam mulutnya.


"Maaf dok ... tidak ada lagi yang ingin ditanyakan! Ayo hubby kita pulang saja." ujar Agnia beranjak dari duduknya.


Setelah Dokter Siska memberikan resep vitamin dan segala macam peringatan tentang kehamilan, keduanya bergegas keluar. Agnia sampai menarik tangan Zian karena pria itu terus bertanya perihal kehamilan, semua pantangan dan segala hal hal receh yang tidak perlu dia tanyakan.


"Ayo cepetan! Om nanya gituan malah bikin kita malu tahu!"


"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin tahu apa kita masih bisa melakukan hubungan suami istri kalau sedang hamil!" tukas Zian saat mereka keluar dari ruangan Dokter Siska.


"Udah deh ah!" Agnia menghentakkan kaki nya dengan kesal, berjalan lebih dulu dan membiarkan Zian di belakangnya.


Mereka berdua berjalan ke luar, dan melihat dokter Irsan yang tengah terburu buru keluar.


"Si Irsan kenapa?" gumam Zian saat melihat Irsan masuk kedalam mobilnya.


"Kepo banget sih! Ya mau pulang lah ... memangnya kemana." ketus Agnia mencubit hidung mancung Zian.


"Baby galak sekali! Bawaan bayi yaa." ujarnya mengelus perut rata sang istri, sementara dia hanya mendengus pelan.


Keduanya kembali berjalan ke arah apotek,


Zian menyuruhnya duduk di ruang pengambilan obat itu, sementara dia menyerahkan resep obat dan vitamin dari dokter Siska. Agnia bisa menatap punggung tegap suaminya yang tengah mengantri.


Dia menghela nafas, masih belum percaya jika dirinya kini tengah mengandung. Ada seseorang yang harus dia jaga. Pun dengan ke khawatiran yang menyertainya.


"Sedang mikirin apa hem?" ujar Zian yamg entah dari kapan terduduk disampingnya.


"Eeh ... enggak kok!"

__ADS_1


"Kuliahmu?"


Agnia terdiam, namun menatap Zian yang tengah menatapnya.


"Kau tenang saja ... bisa ambil cuti dulu kan." seutas senyum terlihat dibibir Zian.


Agnia membulatkan kedua matanya, "Mulai aja belum ... udah ambil cuti, lagi an Om itu norak banget tahu gak hari ini. Ngeselin tahu gak dari tadi!"


"Baby!"


"Udah ah gak usah ngomong ...!" Agnia bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Zian.


Gadis yang baru saja tahu jika dirinya hamil itu berjalan ke arah luar, sementara Zian menyusulnya dari belakang.


Brukk


"Aw ...!"


"Maaf kau tidak apa apa kan?"


Agnia bertabrakan dengan seseorang yang sejak awal datang dia hindari. Namun justru malah bertemu. Agnia membulaykan kerua matanya saat bertemu dokter Sam, dia langsung menundukan kepalanya.


"Tidak apa apa! Maaf permisi."


Dokter Sam mengernyit, menatap Agnia yang terlihat tidak asing baginya.


"Tunggu ... apa aku mengenalmu?"


Langkah Agnia dipercepat, dia tidak ingin kembali menengok ke belakang lagi.


"Dia Agnia kan?" gumam Dokter Sam.


Tepat pada saat Zian melewatinya dan mendengar gumamannya. Langkah Zian terhenti untuk menoleh pada pria berjubah putih itu lalu kembali menatap Agnia yang semakin jauh.


Dokter Sam yang masih melihat kearah Agnia pun terlihat berfikir.


"Benar ... aku rasa itu Agnia, wajahnya tidak berubah sejak aku terakhir melihatnya."


.


.

__ADS_1


Nah lho ... malah ketemu wkwkwkwk...


Yo like dan komen yang banyak ya. Makasih


__ADS_2