Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 237


__ADS_3

Agnia tertawa sendiri dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya, "Aku ketularan lebay kan jadinya!"


"Apa lebay? Ini sangat romantis baby!" ujarnya dengan menggelitik pinggang Agnia hingga dia terpingkal.


Tak lama, interkomnya berbunyi, staff yang membantunya memberitahu jika meeting akan segera di mulai.


"Aku harus pergi meeting dulu! Kau tunggu disini dan jangan kemana mana!" ucapnya merapikan kembali rambut Agnia.


"Sekretaris baru tidak boleh ikut?"


Zian menggelengkan kepala, "Kau masih dalam masa training baby! Dan training pertamamu baru saja gagal!" ujarnya mengecup bibir Agnia sekilas, membuat Agnia mendengus pelan,


"Kenapa tidak boleh ikut?"


"Aku hanya meeting dengan beberapa kepala cabang yang berkaitan dengan laporan! Disana tidak ada hiburan, pasti akan membuatmu bosan, atau kau kan kaget nanti!"


"Kaget? Memangnya kenapa? Kau galak sama bawahanmu?"


"Tidak baby! Aku sangat baik dan lembut, dan itu sangat membosankan!" ucapnya dengan kedua alis naik turun, Zian mengecup bibirnya sekali lagi, "Aku pergi ya! Hanya di lantai tujuh, dan tidak akan lama." sambungnya lagi lalu mengambil berkas diatas meja dan berjalan keluar dari ruangan.


Agnia hanya menatapnya hingga pria dewasa itu menghilang dibalik pintu, dia menghela nafas kemudian turun dari meja.


"Membosankan kayak apa?" gumamnya dengan mengherdikkan bahu, dia lantas menyambar tas miliknya dan masuk ke dalam toilet.


Gadis itu merapikan pakaiannya, lalu berdecak saat melihat bercak kemerahan di lehernya.

__ADS_1


"Bisa bisanya tuh om om bikin beginian disini!" gumamnya namun tersenyum, dengan wajah Zian yang menahan has ratnya kembali membayang di fikirannya. "Kasian!!"Gumamnya dengan menyisir rambut panjangnya, tak lupa juga kembali mengolesi liptin pada bibir yang terlihat sedikit membengkak karena ulah pria yang menjadi suaminya itu.


Setelah merapikan kembali riasan dan juga dirinya, Agnia keluar. Dia kembali duduk di kursi milik Zian dan melihat berkas berkasnya yang berantakan. Pengaruh tidak adanya Kim memang besar, Zian kesulitan bahkan sekedar merapikan berkas yang sudah selesai dia periksa dan yang belum. Agnia berinisiatif membereskannya, pengalaman magang di Global globe yang kerap memisah misah berkas ternyata sangat berguna saat ini, hanya melihat nomoe kode yang saling beruntun atau nomor halaman dari balik berkas, nama perusahaan atau judul yang tertera.


Dering telepon terdengar nyaring, Agnia mencari asal bunyi ponsel itu, karena dipaatikan itu bukan bunyi dering ponsel miliknya.


"Eh ini ponsel Zian!" gumamnya saat menemukan ponsel Zian yang tergeletak dibawah berkas berkas.


"Gue anterin aja kali ya! Takut ada telefon masuk yang penting!" gumamnya dengan memasukkan ponsel Zian di dalam saku blazernya.


Dia pun keluar untuk mengantarkannya ke ruangan meeting yang terletak di lantai tujuh, dia berjalan masuk kedalam lift menuju ke sana.


Ting


Agnia hendak bertanya, namun sepertinya staff wanita itu tengah buru buru dengan wajah yang sedih dan terlihat menahan air mata. Dan saat tiba di lorong pertigaan, dia sudah bisa mendengar Zian yang tengah berteriak disusul oleh suara gebrakan di meja.


Langkah kakinya dipercepat, ingin segera tahu apa yang terjadi. Dan dia kembali mencari ruangan meeting, tak lama dia menemukannya. Suara bariton Zian terdengar jelas saat Agnia berada di depan sebuah pintu, dia melihat ruangan itu dari kaca jendela.


Terlihat jelas Zian yang tengah marah, bahkan melempar map berwarna merah pada seseorang di depannya, hingga berkas didalam map merah itu berhamburan keluar.


"Apa kalian tidak becus bekerja hah? Laporan yang bahkan tidak bisa aku mengerti!"


Agnia tersentak kaget, hingga tubuhnya berjingkat saking kerasnya suara Zian. Amarah yang bahkan lebih menakutkan dibandingkan saat dia mengusirnya dari rumah kala itu.


"Perbaiki hari ini juga! Kalau perlu tidak ada yang boleh pulang sebelum selesai."

__ADS_1


Beberapa pria mengangguk dengan kepala yang tertunduk, mendengarkan bentakan demi bentakan dari Zian tanpa ada yang menyelanya sedikitpu.


Agnia tertegun, wajah Zian sangat serius, bahkan menakutkan, dan dia hanya bisa berdiri memperhatikannya.


Namun tiba tiba saja pintu terbuka, Agnia mematung ditempatnya saat Zian kini berdiri di depannya dengan tatapan tajam dan raut wajah tegang dengan urat urat kemarahan.


Agnia menelan saliva dengan berat, dan mengulas senyuman tipis, Zian keluar dari ruangan dan menarik tangannya tanpa mengatakan apapun.


"Sayang! Ada apa?" lirihnya dengan langkah mengikuti Zian menuju lift.


"Maaf Nia hanya ingin nganterin ponsel ini karena tadi ada yang nelefon!"


Zian terdiam, hingga mereka masuk kedalam lift, terlihat jelas pria dewasa itu tengah menahan amarahnya, rahangnya menegang dengan mulut yang terkatup.


"Om!!"


"Jangan bicara Nia! Aku sedang kesal."


.


.


...Yeee ... marah marah! Orang cuma mau nganterin hape, malah dimarahi, kalo othor jadi sekretarisnya, othor palu tuh pala si Om... kwkwkw Pake palu cinta tapi yaa....


...3 bab untuk hari ini hihihi ... lanjut besok yaa readers terlope lope aku....

__ADS_1


__ADS_2