Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 126


__ADS_3

Agnia berpamitan dengan bi Nur dan juga Aya yang menangis histeris karena dia akan pergi dari rumah itu, gadis kecil itu meraung bahkan meronta-ronta saat melihat kepergian Agnia, begitupun dengan Agnia yang menitikkan air matanya.


"Nanti kak Nia main kesini ya! Atau Aya yang main ke tempat kak Nia oke!" ucap Agnia dengan ibu jari dan jari telunjuk yang direkatkan.


Aya mengangguk lirih, masih dengan sesegukan dia memeluk Agnia, "Nanti Aya gak ada yang ngajarin belajar, ibu kan sibuk kerja!"


"Iya kan Kak Aya nanti bisa maen ke sini buat ngajarin Aya!"


Agnia terus memeluk gadis kecil itu dengan sesekali memberikan elusan hangat dipunggungnya. Dave berdecak kesal karena menurutnya, gadis kecil itu terlalu berlebihan.


"Ayo kita pergi Nia! Bukankah nanti sekretaris Kim akan menjemputmu?" tukas Dave berbalik arah dan tidak mengatakan apapun lagi.


Setelah berpamitan, Agnia menyusul ayahnya yang telah melangkah lebih dulu, dia masuk kedalam mobil dengan wajah yang ditekuknya.


"Daddy gak punya empati, terhadap orang lain karena status sosial!" ujarnya kesal.


"Tidak begitu Nia, Daddy hanya tidak ingin mereka memanfaatkan mu! Karena orang miskin seperti itu hanya akan jadi parasit untuk kita, mereka terbiasa dengan uluran tangan dan juga belas kasihan, atau berpura-pura, persis seperti mereka itu." terang Dave, yang melajukan kendaraannya sesaat setelah Agnia memasang seat belt di tubuhnya.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah hotel yang tidak asing lagi bagi Agnia, dia terperangah saat melihatnya.


Ini kan hotel milik om Zian?


"Dad ... apa lebih baik kita tinggal di apartemen saja? Biar saat Daddy balik ke Singapura, Nia gak repot lagi pindahan?" ujarnya dengan menoleh kearah Dave.


"Oke sweetheart, tapi baru besok kita ke apartemen oke, orang yang Daddy suruh, sedang menyiapkannya." jawab Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari ruas jalan.


Agnia menghela nafas, Oke Nia, lo harus tenang, Om Zian gak ada di sini malem-malem, jujur gue belum siap kalau Daddy tahu tentang hubungan yang rumit gue dengan om Zian.


.


.


Awan panas dengan terik matahari mulai meredup, berhenti dan berganti dengan senja yang mulai beranjak dari peraduannya, Agnia bisa bernafas lega, berguling kesana dan jemari diatas ranjang king side dikamar hotel itu tanpa khawatir bertemu Zian saat hendak masuk.


Dave masuk dengan pakaian jas lengkap hasil tangan profesional yang membalut tubuhnya yang tegap, berdiri dengan tegak disebuah cermin, membuat Agnia mengerutkan dahi.


"Daddy jadi pergi?" tanyanya dengan berguling lalu duduk ditepi ranjang, memperhatikan punggung ayahnya dari belakang.


"Ini acara penting untuk Daddy, selain bertemu teman lama, disana juga banyak relasi Daddy."

__ADS_1


"Huum ...!"


"Kenapa? Apa Nia mau ikut?"


"Sekretaris Kim sudah ngabarin Nia, dia bilang mau jemput sebentar lagi!"


Dave berbalik ke arah putri kandung yang tengah menatapnya, "Nia ada urusan apa dengan sekretaris itu?"


"Itu___"


Ucapan Agnia terhenti saat ponselnya berdering, dia mencari arah suara benda pipih itu diatas ranjang lalu meraihnya.


"Sekretaris Kim! Daddy, Nia pergi dulu!" ujarnya dengan mengecup pipi ayahnya setelah menyambar tas selempang diatas sofa. Dia pun segera keluar dari kamar hotel untuk menemui Kim yang menunggunya di lobby.


Agnia berjalan tergesa-gesa dan masuk kedalam lift dengan segera, entah kenapa dia menjadi takut jikalau bertemu dengan Zian saat itu, setelah beberapa menit, akhirnya dia sampai di lobby.


Kedua manik hitamnya menyisir lobby hotel, dan menemukan sekretaris Kim yang tengah melambaikan tangan kepada nya. Agnia pun mengayunkan kaki menghampirinya.


"Sekretaris Kim? Emangnya kita mau kemana sih?"


"Rahasia dong!"


Keduanya masuk kedalam mobil, lalu melaju ke butik kenamaan. Agnia menoleh, "Ngapain ke sini? Sekretaris Kim mau beli baju?"


Agnia terperanjat, "Aku? Untuk apa?"


Kim belum sempat menjawabnya, dia sudah lebih dulu keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Agnia.


"Ayo kau akan tahu nanti!" ucapnya menunggu Agnia keluar.


Gadis itu menurut saja, dia keluar dan berjalan disamping Sekretaris Kim dan masuk kedalam butik.


"Kim ... kau lama sekali?" seru Zian yang sudah menunggunya sejak tadi.


Agnia sontak tersentak, Gue sengaja ngehindar, malah ketemu disini!


Zian mengulum senyum saat kedua manik beradu pandang dengannya, dengan balutan jas berwarna hitam yang sangat cocok dikenakan nya.


Tunggu ... apa dia juga ke acara Daddy? batin Agnia menduga-duga, dengan sudut mata melirik Kim.

__ADS_1


Sekretaris loyal seorang Zian itu seolah mengerti dugaan Agnia, dia menganggukkan kepalanya dengan bibir yang dikulum.


Benar Nia, Tuan Zian memang berencana mengajakmu ke acara Daddy mu, tanpa dia tahu, kamu itu putri dari tuan Dave.


"Nia?" Zian berjalan mendekat kearahnya.


"Stop ... berhenti disitu? Nia mau tanya... Apa Om dan sekertaris Kim bersekongkol?"


"Apa maksudmu bersekongkol?" tanya Zian heran.


Sekretaris Kim berjalan dengan cepat menarik Agnia, "Ayo Nia, mereka sudah mempersiapkan gaun yang cantik untukmu!"


Agnia melewati Zian begitu saja, dia masuk kedalam dan mengikuti Kim, seorang penjaga butik tersenyum ke arahnya, lalu menyerahkan sebuah gaun berwarna peach.


Kim mengambilnya, karena Agnia hanya diam saja, dia lantas menarik Agnia masuk kedalam fiting room.


"Sekretaris Kim? Apa ini juga rencanamu?"


"Benar, dan ini kejutan untukmu Nia, kau akan tahu sejauh mana tuan Zian mencintaimu dan serius dengan ucapanmu, saat dia bertemu Daddy mu! Kamu pasti akan melihatnya, dan jika mengecewakan, kamu bisa tinggalkan dia. Seru kan?" ujar Kim tanpa tedeng aling- aling.


Agnia terdiam sejenak, mencoba untuk mencerna semua perkataan dari Kim, dan anehnya isi kepalanya menyetujui ide itu, dia mengulum senyuman dengan tatapan setuju kearah Kim.


"Bagaimana? Seru bukan? Kamu pasti akan melihatnya, dan setelah itu baru bisa bisa memutuskan! Agar kamu yakin terhadapnya."


"Kau benar Sekretaris Kim! Aku ingin melihat bagaimana dia menghadapi Daddy, dan meminta restu darinya!" ujarnya dengan terkekeh.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Agnia keluar, dalam balutan dress mini berwarna peach dengan mengekspos punggungnya sebagian, membuat Agnia semakin cantik.


Zian tertegun menatapnya, lalu mengulurkan tangan kearahnya. Bak tersengat listrik, kedua manusia berbeda generasi itu saat kedua tangannya bersentuhan.


"Kamu cantik sekali Nia?"


"Masa! Eeh maksudku makasih!"


Zian semakin menggenggam erat dengan menautkan jari-jarinya disela jari Agnia yang tidak lebih besar itu, "Aku serius dengan ucapanku ... aku tidak sabar untuk mengabiskan malam ini denganmu!"


Agnia mencubit pinggangnya, membuyarkan fikiran kotor dari Zian, "Sembarangan!"


Pria itu meringis, "Aku bercanda Nia ... bercanda, masa tidak boleh bercanda!" ujarnya dengan menggosok pinggangnya yang sakit.

__ADS_1


"Rasain!"


Kim menggelengkan kepalanya, "Sudah ... mari kita pergi! Aku akan mengantar kalian."


__ADS_2