
Cecilia mengerdikkan bahu, ikut menatap Serly yang tengah berdiri di depan parkiran motor, sesaat kemudian motor sport merah melaju dengan perlahan dan berhenti tepat di depannya.
Serly terlihat mengernyit, tak lama kemudian bibirnya mengulas senyuman saat helm dipasangkan keatas kepalanya.
Agnia membulatkan kedua matanya, begitu juga dengan Cecilia dan juga Nita.
"Itu Regi? Motor punya Regi kan? Gue gak salah lihat? Regi pacaran sama si kutu kupret Serly? Gak mungkin banget. Gue gak percaya ... mana mungkin Regi mau sama cewe kayak Serly!" cerocos Nita tanpa titik dan koma.
"Tapi itu jelas motor Regi Nit! Jaketnya juga. Si Regi kan sering pake jaket itu."
"Udahlah guys biarin aja! Mungkin mereka emang pacaran, gak ada salahnya. Gue aja tadinya gak suka sama suami gue kan." timpal Agnia, namun dalam hatinya pun dia sebenarnya sangat menyayangkan jika itu benar Regi. Regi cowok baik, dia pantes dapetin yang lebih baik dari Serly ... bahkan dari gue sekalipun. batin Agnia.
"Gue cabut duluan!" Agnia beranjak pergi, sementara Cecilia dan juga Nita masih terperangah tak percaya.
.
.
Agnia berjalan sendirian, mengambil nafas perlahan lahan lalu di embuskan, udara di sekitar kampus memang masih sangat segar karena masih banyaknya pohon pohon beringin yang besar. Suasana hatinya cukup tenang, sambil menikmati pemandangan bukit buatan dan juga hamparan hijau yang menyertainya.
Namun saat melihat ke arah gedung fakultas, kedua matanya menangkap sosok yang dia duga sebelumnya bersama Serly, dan dia benar benar tidak salah lihat.
"Itu Regi kan? Terus yang tadi sama Serly siapa?" gumamnya dengan terus memperhatikan Regi yang berjalan bersama satu orang temannya.
Agnia sengaja memperlambat langkahnya, agar bisa memastikan jika orang yang dia lihat itu adalah Regi.
Dan benar saja, mereka saling berpapasan saat dipersimpangan jalan, Agnia tersenyum lega, begitu juga Regi yang tersenyum canggung.
"Lo belum pulang?" tanya Regi saat kedua matanya beradu pandang.
"Ini mau! Lo sendiri?"
"Belum sih ... gue masih ada urusan!"
Ingin rasanya Agnia bertanya perihal motor dan jaket Regi yang dia lihat tadi, tapi rasanya semakin canggung saja.
"Ooh ... lo jadi ambil jurusan bisnis Gi?"
"Jadi kok! Lo sendiri?"
Dari pertanyaannya, cukup jelas jika Regi pun mengalami hal yang sama. Hingga teman yang bersamanya menyapa Agnia.
"Lo Agnia kan? Anak Harapan Bangsa. Kenalin gue Aris, sahabatnya Regi, eeh temen satu band nya juga." ujarnya menyodorkan tangan.
__ADS_1
Belum sempet menjawab apalagi menyambut tangannya, Regi lebih dulu menarik tangan Aris hingga dia berdecak. "Apaan sih cuma kenalan doang masa gak boleh. Iya kan Nia!"
Agnia hanya mengulum senyuman, emang tidak salah, toh hanya berkenalan saja.
"Gue tahu ... oke! Paham." kedua tangan Aris merentang ke atas, lalu terkekeh. "Si Dirga jadi pinjem motor lo Gi?"
Regi mengangguk, dan anggukannya itu membuat Agnia tahu jika yang bersama Serly ternyata Dirga.
"Dirga? Yang tadi sama lo Gi?"
"Hm ... sepupu jauh gue! Jangan di anggap kalau dia candain lo Nia, dia orangnya freak banget gitu."
"Eeh enggak kok!"
"Lah ... terus kita ke studio pake apaan? Motor lo kagak ada?" timpal Aris.
"Bis juga banyak kali Ris ..."
"Udah bosen Gi gue naik bis mulu, sekolah tiga tahun naik bis terus." kelakar Aris membuat Agnia mengulum senyuman.
"Eh Nia ... lo gak dijemput?"
Tidak jauh dari sana, Cecilia dan Nita yang juga melihat Agnia tengah bersama Regi pun bergegas menghampiri.
"Gi ... lo?"
"Lah ... terus yang pake motor sama jaket lo siapa?"
Regi mengernyit, dia sudah mengira jika keduanya melihat motor dan jaket yang dipakai oleh Dirga.
"Kenapa? Pada heran ya, pada ngeduga gue sama Serly?" ujarnya tanpa tedeng aling aling.
"Iya makanya gue heran, lo gak mungkin kan?"
Regi terkekeh lagi, "Serly sama Dirga, sepupu gue!"
"Kok bisa sih! Selama ini lo gak pernah cerita tentang sepupu lo. Lo juga beberapa kali jemput Serly kan ke sekolah." ujar Nita yang masih bingung.
Dan pertanyaan pertanyaan Cecilia dan juga Nita adalah pertanyaan yang berseliweran di kepala Agnia, namun dia terlanjur canggung dan tidak ingin membuat Regi berfikir yang tidak tidak jika dia yang bertanya langsung.
"Ceritanya panjang, gak mungkin bisa gue ceritain semuanya sekarang. Intinya ya gitu. Dirga itu sepupu jauh gue yang sekarang tinggal bareng gue, kenapa sama Serly. Ya mereka mungkin berjodoh." ujarnya melirik pada Agnia sekilas.
"Pas gue lihat motor sama jaket lo tadi, gue kira itu lo. Sumpah kalau beneran itu lo. Gue bisa bisa ngira si Serly maen dukun." timpal Nita.
__ADS_1
"Apaan sih! Enggak kok. Gue lagi gak mau mikirin begituan, gue fokus buat kuliah dan karier gue di musik aja." sekali lagi lirikannya tertuju pada Agnia.
"Syukur deh kalau gitu. Iya kan Ce ... Nia! Lo juga gak rela kan Regi sama Serly? Hayo l ngaku."
"Eeeh ... sialan lo! Bawa bawa gue segala!" Desis Agnia menyenggol lengan Nita.
Regi hanya mengulas senyuman, hanya Aris yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia hanya mendengarkan dengan kedua mata yang terus menatap ke arah Nita.
Hingga mereka terus berjalan bersama dengan sesekali bercanda. Walaupun Agnia dan Regi lebih banyak diam dari ketiganya. Mereka hanya ikut tertawa saja.
Syukurlah Gi ... lo emang pantes dapetin yang lebih baik lagi. Gue harap lo bahagia selalu. batin Agnia.
Agnia tidak tahu jika Zian masih berada ditempat yang sama sejak tadi, mobilnya hanya menepi dan dia sengaja menunggunya hingga selesai. Kedua matanya membola saat melihat Regi berada beberapa langkah di belakang Agnia.
Begitu pun dengan Agnia yang merasa was was saat melihat mobil camry hitam dari kejauhan.
Gue kan udah bilang juga mau naik taksi online.
Tak lama pintu mobil terbuka dan Zian keluar dari sana dengan wajah datarnya. Menyandarkan punggungnya di mobil dengan kedua tangan yang dia lipat di depan dadanya.
"Guys kayaknya gue duluan ya, gue udah di jemput." ujar Agnia, lamat lamat dia berlari kecil ke arahnya, takut Zian berfikir yang tidak tidak tentang keberadaan Regi.
Namun dengan cepat Zian berlari kearahnya dan mencegah sang istri yang tengah berlari.
"Sudah aku bilang jangan lari! Kau ini bandel sekali." sungut Zian memegang kedua pundaknya.
Agnia mengulum senyuman, "Kenapa masih disini?"
"Tidak harus pakai kenapa untuk menunggumu kan? Dasar nakal. Bagaimana aku bisa tenang kalau kau lari lari seperti itu."
Cecilia dan juga Nita saling menatap, kekhwatiran Zian terlihat jelas diwajahnya, dan lebih terperangah saat Zian mengangkat tubuh Agnia dengan sekali gerakan.
"Eeeh ... turunkan aku! Malu tahu. Ini kampus." Agnia terperangah saat Zian menggendongnya begitu saja, hingga hampir semua mata menatap ke arahnya.
"Diam dan turuti aku saja!!"
.
.
Eeeh ternyata dugaan Othor salah, wkwkwk. Baguslah, othor emang gak rela Regi sama si gak ada kapok kapoknya itu deket apalagi pacaran. hihihi.
Ada part yang othor skip dan nanti aja jawabannya, kayak kenapa Serly ujug ujug bisa sama Dirga ya bestie. Gimana ceritanya nanti aja. wkwk.
__ADS_1
Terus ceritanya Nia sama Zian udah bahagia nih, Kenapa gak tamat aja sih.
Belum yaa bestie, masih dikit lagi. So jangan bosen ya nungguin othor up dan kasih dukungan sebanyak banyaknya.