
"Nia mau kemana?" tanya Adam yang melihat Agnia berbalik dan keluar dari kantin, dia bersama Nita memilih kembali ke kelas, Sementara Adam hanya menatapnya dengan sendu.
"Nia emang gak punya perasaan apa-apa ke gue, bukan hanya gak enak sama Serly aja." Gumam Adam.
"Ternyata sadar juga lo?"
Regi yang mendengar gumaman itu melengos begitu saja, dia berjalan dengan tergesa menyusul Agnia.
"Heh ... orang luar sekolah, ngapain lo kesini!"
"Serah gue lah!" ketus Regi yang kembali berjalan.
Regi yang mendapat kabar dari Cecilia itu mengenai Agnia itu melihat Agnia yang berada didalam kelas, dan melambaikan tangan nya.
"Nia...!"
Agnia menoleh ke arah suara, dan seketika melebarkan pupilnya. Dia menghampiri Regi yang menunggunya di luar, "Regi? Lo kenapa bisa kemari! Lo harusnya sekolah kan!" ucapnya dengan menatap laki-laki itu dengan seragam lengkapnya.
"Iya ... gue sekolah kok!" jawabnya dengan senyum sumringah, deretan gigi putihnya pun terlihat, dengan kedua mata yang berbinar saat menatap gadis yang dia cintai telah kembali.
"Ya terus kenapa malah kesini?"
Tanpa Agnia duga, Regi merengkuh bahunya dan memeluk nya, "Gue bersyukur lo baik-baik aja Nia! Entah gimana jadinya kalau ada sesuatu sama lo! Gue gak bisa maafin diri gue sendiri, harusnya gue cegah lo waktu itu, gue gak bakal biarin lo pergi kalau tahu lo bakal ngilang selama ini!"
"Gi ... gue gak apa-apa! Itu kan masa tenang disekolah, jadi ya itung-itung gue liburan lah!"
__ADS_1
Pelukan itu mengurai dengan sendirinya, ditambah mereka juga di lingkungan sekolah, Regi memegang kedua bahu Agnia, dengan menatapnya sendu, "Gue udah bilang, lo bisa datang ke gue kalau butuh apa-apa Nia! Gue selalu ada buat lo, Lo tahu perasaan gue kan?"
Justru itu Gi ... gue gak mau kasih harapan palsu sama lo, lo itu baik, bahkan baik banget, tapi hati gue udah terisi sama orang lain. Gue gak mau nyakitin orang sebaik lo. batin Agnia berbicara.
"Sorry Gi ... gue harus kembali ke kelas!"
"Gue tungguin lo sampe pulang ya, gue pengen ngajak lo kesatu tempat."
Agnia melepaskan tangan Regi dan gantian dia yang menepuk bahunya lembut.
"Gi ... sorry banget, tapi gue gak bisa pergi sama lo, gue harus pulang cepet!"
"Kenapa? Apa karena Om lo itu?"
Regi mengernyit, "Lo tinggal dimana sekarang?"
"Ada ... nanti deh ya gue kabarin kalau waktunya juga pas, sekarang Lo balik sekolah, jangan ngorbanin waktu belajar lo cuma untuk dateng kesini Gi! Kita bisa ketemu nanti!" Ujarnya dengan mendorong bahu Regi, "Dah sana! Belajar yang bener, bentar lagi kita lulus kan!"
Regi mengangguk pelan, walaupun merasa kecewa karena Agnia menolak ajakannya, namun Regi lagi-lagi hanya ingin melihat Agnia yang bahagia dan ceria seperti dulu.
"Ya udah ... gue balik kesekolah dulu ya! Lo baik-baik, jaga diri ... kalau gak mau gue jagain!" ujarnya terkekeh.
"Iya bawel ... udah sana balik, lo ketauan nanti! Lo nyusup kan masuk sini?"
Regi masih terkekeh, "Enggak kok ... gue udah ijin, ya udah gue balik dulu ya, bye Nia!" Regi mengacak rambut Agnia, membuat gadis itu mencebik dengan kedua tangan merapikan kembali rambutnya.
__ADS_1
Setelah memastikan Regi turun dan menuju gerbang, Agnia kembali ke kelas dan bergabung dengan teman-temannya, sementara Serly masih belum kembali.
"Lo bener-bener nolak gue Nia? Tapi seenggaknya lo masih mau berteman sama gue kan?" seloroh Adam yang tiba-tiba duduk disampingnya yang kosong.
"Apaan sih Dam ... ngagetin gue aja! Kita emang temanan kan!" Agnia memilih mengabaikan tatapan Adam, dia menunduk pura-pura sibuk dengan catatannya.
"Lo emang gak punya perasaan ke gue kan? Bukan cuma gak enak sama sahabat Lo yang makin kesini makin aneh, ambisius!"
"Sahabat gue yang Lo bilang barusan itu, masih berharap bisa balikan sama lo Dam, dan gak ada salahnya kan kalau lo terima aja, bukan hanya dia yang salah, tapi Lo juga kan!"
Adam menggelengkan kepalanya, "Walau langit runtuh pun gue gak bisa balik lagi Nia, hati gue udah beda, gue udah gak suka! Dan itu gak bisa dipaksa!"
"Tapi kalau Serly berusaha deketin lo dan bisa bikin perasaan lo balik lagi! Lo mau kan?" ungkapnya lagi.
"Entahlah ... Nia! Gue gak bisa jamin, gue masih berharap lo mau nerima gue!"
Agnia menghela nafas, kali ini dia menoleh dan menatap kedua mata Adam.
"Lo tahu perasaan itu gak bisa dipaksa kan!" Adam mengangguk, "Gitu juga perasaan gue! Jadi lo paham kan dan kita berteman saja Dam."
Adam mengangguk pelan, "Karena lo udah punya Regi kan? Dia emang cowok baik, ya walaupun kegantengannya masih dibawah gue!"
Agnia menutup buku catatan miliknya, "Kepedean lo ... dah sana balik ke bangku lo, gue gak mau nyari gara-gara!" Agnia mendorong Adam keluar dari kursi disampingnya.
"Cowok-cowok aneh! Kenapa mereka gak paham meski berkali-kali gue jelasin!" gumam Agnia dengan menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1