Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 201


__ADS_3

...Masih tipis tipis bikin bulu bulu meremang yaa ... wkwkkw, untuk sekian kalinya othor bilang takut ditolak dan makin lama review, nih semalem aja kena review pdhal gak ada nganu. Baru lolos siang tadi tuh. Mengkesel....


...Jangan lupa like dan komen yang banyak. hihihi lope lope kalian the best dukung othor...


.


.


.


Zian tidak menghentikan aksinya, dia terus menyentuh kulit mulus tanpa kain, menyusuri punggungnya dengan lembut. Sementara Paguttan itu tidak terlepas. Berkali kali mencoba mengambil kesempatan, berkali kali pula usahanya gagal.


Pintu sudah dikunci, Dave juga belum pulang, kali ini pasti berhasil.


Bisa bisanya Zian masih berfikir kearah sana, dia tidak ingin lagi usahanya gagal, dan memastikan kalau kali ini tidak akan gagal lagi.


Tanpa menunggu lama, pria tegap itu membuka tali pengait yang masih terpasang dibelakang punggung sang istri, hingga terlepas begitu saja dan menampilkan dua benda bulat nan kencang.


"Baby!!"


Bulu halus yang berada dipunggung Agnia meremang, seiring dengan decakan demi decakan yang terdengar dari paggutan di bibirnya.


Sementara itu suara ketukan di pintu kamar mandi terdengar lagi, Zian sampai berdecak dalam hati.


Tok


Tok


Tok


"Non Nia ... dibawah ada temen temen Non sedang menunggu!"


Agnia mendorong dada Zian lantas dia memejamkan kedua matanya, "Maaf ... ta___tapi!!"


Zian mundur beberapa langkah, dengan gigi geraham yang bergemelatuk kesal.


Kenapa lagi lagi ada gangguan yang tidak tidak! Kapan aku bisa tenang melakukannya hingga tuntas.


Zian menyambar bathrobe, mengenakannya tanpa sepatah kata pun. Lalu memberikannya satu pada Agnia, Agnia menatapnya dengan nanar, merasa bersalah karena untuk kesekian kalinya harus berakhir tanpa membuahkan hasil.


"Maaf ... ak__"


"Tidak udah difikirkan! Keluarlah, dan temui teman temanmu." Ucap Zian keluar lebih dulu. Sementara Agnia menghela nafas, dia buru buru membersihkan tubuhnya.


Sesaat kemudian barulah dia keluar dan mendapati kamar kamar itu kosong.


"Om Zian kemana??" gumamnya seraya berjalan menuju lemari.


Namun ternyata pintu yang menuju balkon terbuka, tirai putih menjuntai dan melambai lambai tertipu oleh angin, Agnia mengintip keluar, melihat Zian tengah berdiri dengan kepulan asap putih yang keluar dari kedua lubang hidungnya.


Gadis itu segera keluar dan menghampirinya, membuat Zian menoleh kearahnya namun tidak mengatakan apa apa.


"Minta satu!" kata Agnia dengan tangan mengenadah didepannya.


"Maksudmu?"


"Rokok!! Nia minta satu!" tegasnya lagi.


"Hei ...! Kau ingin merokok?"


Agnia mengangguk, "Mana minta!"


Zian mengambil sebungkus rokok yang terletak di sampingnya, menyembunyikannya dalam genggaman tangannya.


"Tidak boleh! Aku tidak suka istriku merokok, itu tidak baik!!"


"Kenapa tidak baik?"


"Merusak kesehatan sayang!"


"Itu tahu!! Kenapa masih merokok!!"


"Aku hanya iseng, fikiran ku sedang kusut!!" jawabnya dengan mengherdikkan bahu.


Agnia menghela nafas, "Kau ingin berumur pendek dan menjadikan ku janda muda tuan Ziandra?"


Zian menatapnya tajam, "Kenapa bicara begitu!!"


"Apa kau tidak pernah baca aturan yang ada didalam bungkus rokok yang kau pegang? Rokok itu membunuhmu!! Kemarikan berikan padaku!" tegasnya dengan merebut bungkus rokok dari tangan Zian.


"Galak sekali!!"


"Karena aku gak suka suamiku merokok, aku juga gak mau jadi janda diusiaku yang masih muda! Faham?"


Zian mengulum senyuman, kekesalannya menguap seiring kekesalan yang terlihat jelas dari wajah sang istri.

__ADS_1


"Itu artinya aku begitu penting untukmu?"


"Tentu saja ...!!! Masih bertanya hal bodoh yang kau pun tahu jawabannya."


Zian kali ini terkekeh, dia menarik tangan Agnia lalu merengkuhnya, "I love you baby!!"


"Aku tahu!! Maafkan aku yaa om!!" jawab Agnia yang melingkarkan tangannya pada pinggang Zian.


Zian mengangguk, "Kita bisa melakukannya lain kali, dan aku pastikan hari itu tidak ada lagi yang mengganggu kita, aku akan menunggu saat itu tiba dengan sabar!"


Agnia mengangguk, "Aku juga! Jangan pernah lagi merokok! Janji??"


"Aku janji apapun demi kamu baby!"


Agnia mengecup pipi Zian, membuat pria itu mengulas senyuman, "Good hubby!" gumamnya dengan semburat kemerahan dari wajahnya.


"What?? Call me again please."


Agnia tersipu malu, dia menyembunyikan wajahnya di dada Zian, dengan merekatkan kedua tangannya.


"Kau paling bisa membuatku tidak bisa marah! Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya lagi. Hem..."


"Udah ah ... itu akan terucap tanpa diminta!! Jangan maksa." kata Agnia dengan memukul dada Zian.


"Baiklah!! aku tidak akan memaksamu kalau kau akan memanggilku tanpa aku minta." Zian tertawa, "Sekarang pakai pakaianmu, nanti masuk angin,"


"Hmm ... kau juga!"


"Satu lagi ... pakai cincin pernikahannya! Baru lepas saat sekolah saja!"


Agnia mengangguk lirih, perasaan bersalah nya karena kegagalan yang terus menerus membuatnya tidak bisa menolak permintaannya perihal cincin.


Setelah berpakaian dan memakai seoles tipis liptin di bibir tipisnya, Agnia turun kebawah, dan mendapati Cecilia dan juga Nita yang menunggunya diruang tamu, tak lama Zian keluar dari kamar yang sama.


kedua gadis itu saling menatap dan bersenggolan lengan berulang kali, dengan mata terus tertuju pada keduanya yang kini turun bersamaan.


"Lo lihat Ce??"


"Hm ...gue lihat!! Gue gak buta bego! Terus masalahnya apa? Lo juga keluar kamar bareng Daddy lo kan?"


"Tapi ini beda ... kita di apartemen yang gak ada orang tahu ege!!! Ini di rumah, ada asistennya dan juga anak kecil yang Lo lihat tadi bego!!" Nita terus bergumam.


"Mungkin mereka udah nikah??"


"Lo tanya deh langsung!!! Gue pusing denger ocehan Lo! Ujar Cecilia pada akhirnya.


Agnia melambaikan tangan kearah mereka, dia lantas duduk didepannya.


"Udah lama?"


"Gak ... baru aja kok!!" jawab keduanya dengan kembali saling bersinggungan tangan saat melihat Zian yang tampan menghampiri mereka dan berdiri dengan tangan satu menggenggam ponsel.


"Belajar yang benar! Jangan bergosip apalagi merencanakan sesuatu seperti kemarin!" ucapnya ketus pada kedua gadis yang tengah melongo, " Baby ... jangan mau terlibat apapun dengan mereka selain pelajaran." lanjutnya lagi tanpa menoleh kearah kedua sahabat istrinya yang semakin melongo didepannya.


Pria yang hanya mengenakan celana pendek berwarna Mocca serta kaos t-shirt berwarna putih dengan dengan dada tegap dan juga rambut setengah basahnya dan membuat kedua mata gadis gadis itu tak berkedip itu berjalan masuk kedalam ruangan kerja miliknya.


"Woi ... sadar woi!!" seru Agnia.


"Sumpah ...ganteng banget Ce!"


"Diem lo bego! Lo mau saingan sama gue!" Agnia tertawa.


"Nia ... kontrak Lo berapa lama sama dia? Kali aja Lo mau barter sama gue!" Celetuk Nita lagi yang membuat Cecilia menoyornya.


"Bego di pelihara sendiri Lo!!


Agnia dan Cecelia kembali tertawa, "Gak bisa barter woi ... kontrak gue seumur hidup!!"


"Serius lo?"


"Hm ... serius!!"


"Kok bisa??" Nita mengambil gelas berisi orange juice diatas meja dan menenggaknya hingga tandas.


"Bisa lah!!"


"Hah!!!"


"Iya kok bisa??" kata Nita mengulanginya lagi.


Cecilia dan juga Nita saling menatap dengan kedua mata membola.


"Lo serius anjim?"


"Serius!! Ujar Agnia yang kini membuka laptopnya.

__ADS_1


Berpura berpura belajar bersama adalah siasat ketiganya setelah gagal pergi ke bioskop, padahal mereka hanya membicarakan hal yang tidak terlalu penting dan ditambah rencananya mengerjai Serly.


"Gimana Serly?"


"Besok lo bakal tahu kabar terbaru dari dia!"


"Lo yakin Daddy Lo yang sekarang sama kayak Daddy yang dulu bareng gue?"


"Entahlah ... gue gak yakin kali ini Nia!!" jawab Cecelia dengan keraguan.


Bi Nur berjalan tergopoh gopoh menghampiri Agnia, membuat perbincangan mereka bertiga terhenti.


"Non ... temen Non yang satu lagi nunggu di luar!"


Agnia menoleh, teman yang dia undang ke rumah hanya Cecilia dan Nita saja, lantas siapa lagi yang datang.


"Siapa bi?"


"Bibi tidak tahu Non!! Bibi juga lupa bertanya namanya. Pokoknya anaknya ganteng, putih juga tinggi. Ganteng lah non pokoknya." jawab Bi Nur menjelaskan ciri ciri spesifik teman Agnia.


Agnia menatap kedua sahabatnya bergantian, Cecelia dengan kedua alis bertautan menatap Nita.


"Lo gak ngajak Regi kesini kan?"


Raut wajah Nita berubah, dia menatap Agnia dengan nanar lalu menatap Cecilia yang berada disamping nya.


"Sorry guys ... gue yang ngajak dia kesini!!!"


"Sialan Lo!! Cari mati Lo!!" Sentak Cecelia.


"Nia ... sorry!!!"


Kedua tangan Nita menangkup ke arahnya, dengan kedua manik yang nanar menatap ke arahnya. Agnia menghela nafas, dia langsung menatap ke arah pintu ruang kerja dimana Zian berada.


"Jadi masalah ya?" tanya Nita polos.


"Lo fikir aja bego!! Ini rumahnya." sentak Cecilia lagi.


Mau tidak mau Agnia keluar dari rumah dan menemui Regi yang menunggunya di depan rumah.


Flashback on


Regi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan dengan perasaan yang tidak karuan, firasat nya tentang hubungan Agnia dan Zian semakin menguat saat melihat sorot ketidak sukaan saat melihat dirinya, ditambah sikap Agnia yang semakin berbeda, menjaga jarak dengan nya.


Dia menghentikan laju motornya dengan menginjak pedal remnya tiba tiba. Dan berhenti di sebuah taman kota.


Pria itu turun dari motor lalu duduk di kursi dengan fikiran menerawang, dia ingin melihat Agnia bahagia, namun juga tidak bisa di pungkiri mengenai kejelasan dirinya. Apakah harus terus menunggu dan berusaha atau justru berhenti lalu pergi.


Setelah sekian lama dia diam tanpa solusi selain mencari tahu kebenarannya. Ponselnya yang ada di dalam saku celananya tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat Regi melihat ponselnya dan melihat pesan masuk dari Nita.


'Lo dimana?'


'Entar sore kita mau rumah Agnia!'


Barisan pesan singkat dia baca, kebetulan yang sangat cocok baginya.


'Gue ikut!'


Usai mengetikkan pesan balasannya untuk Nita, Regi seakan mendapat secercah harapan, dia ingin sesegera mungkin tahu kebenaran yang selama ini menghantuinya, mengganjal terus menerus dan membuat langkahnya selalu terhenti.


Regi memang sengaja mendesak Nita agar mengajaknya kemari hingga akhirnya Nita tidak bisa menolaknya.


Flashback off


Dan disini lah Regi berdiri, menunggu sebuah jawaban dari apa yang mengganjal dihatinya. Didepannya kini berdiri gadis cantik yang mengisi relung hatinya selama ini, yang menjadikan hidupnya lebih berwarna.


"Gi?"


"Hai ... Nia!! Sorry kalau sikap gue berlebihan tadi siang sama Lo!"


"Gak apa apa Gi! Gue kok yang salah ... tapi sorry, gue gak tahu kalau lo mau datang kesini!"


"Iya sorryy Nia ... Gue emang maksa pengen kesini buat mastiin sesuatu yang selama ini ganggu fikiran gue."


Agnia menghela nafas, ternyata tidak membutuhkan waktu lama supaya dirinya berterus terang pada Regi.


"Gue ngerasa ada yang ganjil antara hubungan lo sama om lo Nia! Dan bukan terjadi sekarang aja! Tapi dari lama ... cuma gue gak punya keberanian buat nanyain ke lo langsung karena gue takut akan kenyataan yang akan gue denger. Tapi gue juga butuh kepastian Nia ... buat mastiin apa hati lo masih bisa gue perjuangin atau enggak."


Agnia terdiam, entah kenapa hatinya merasa teriris mendengar semua ucapan Regi. Jika saja hatinya tidak lebih dulu jatuh cinta pada Zian mungkin Agnia akan menjatuhkan hatinya pada Regi.


"Regi!!!" lirihnya pelan.


Cecelia dan juga Nita berdiri dibelakang Agnia, namun seketika bergeser kesamping saat Zian tiba tiba keluar.


"Apa yang ingin kau dengar Hem???"

__ADS_1


__ADS_2