
Dengan ragu Dave mengangguk, lalu mengelus bahu Agnia sebelum dia kembali berjalan dan meninggalkan keduanya.
"Aku tunggu di ruangan Zian." ujarnya pada Kim.
"Terima kasih Dave!"
Agnia berdiri menatap sekretaris Kim, perasaannya di liputi oleh berbagai macam rasa. Marah, kesal, cemburu. Namun juga ada rasa penasaran yang begitu besar, kenapa wanita yang berdiri itu tidak tampak gelisah saat datang ke kantor Zian setelah selama ini dia pergi.
"Nia ... bisa kita bicara disana." tunjuk Kim pada sebuah kursi yang terletak di sudut lorong.
Alih alih menjawab iya sebagai persetujuan, Agnia melangkahkan kaki menuju tempat yang ditunjuk Kim. Dan tanpa menunggu waktu yang lama gadis itu sudah menghempaskan beban tubuhnya di kursi.
Begitupun dengan Kim yang duduk di sampingnya.
"Aku tahu apa yang bakal sekretaris Kim katakan." ujar Agnia menerka, jika sekretaris handal itu memang akan mengatakan perihal perasaannya pada Zian.
Kim mengulum senyuman, wajahnya lurus ke depan menghadap ke arah jendela, dimana posisinya saat ini bisa melihat lalu lalang para karyawan yang tengah bekerja dilantai bawah.
"Haruskah aku minta maaf Nia? Karena telah lancang memiliki perasaan?"
Agnia tidak menjawab, namun kepalanya dipenuhi berbagai kata sebagai pertanyaan. Ya minta maaf saja karena telah lancang menyukai suami orang, tapi kan .... Dia tidak melakukan apa pun.
Agnia akhirnya hanya bisa mengerdik, lalu sekretaris Kim mengulas senyuman tanpa menoleh ke arahnya.
"Kau tahu Nia ... kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Kenapa tidak dari dulu?"
"Kenapa?"
__ADS_1
Kim menoleh, menatap Agnia yang menatap kearah depan. "Karenamu?"
"Aku? Kenapa?"
"Sejak aku bertemu denganmu yang tidak sengaja Zian bawa ke hotel di kota xx. Aku yakin jika kamu bisa membuat Zian membuka mata atas kebodohannya karena telah mencintai wanita macam Dita. Dan karenamulah dia bisa melupakannya. Tapi saat itu juga aku merasa dia tidak lagi membutuhkanku." Ujarnya dengan kembali menatap ke depan, suara dan gerak tubuhnya sangat tenang, memperlihatkan kedewasaan dan juga pembawaan dirinya yang amat sangat perfeksionis. "Dan semakin hari aku semakin sadar jika perasaan ini tumbuh tanpa aku mau." lanjutnya lagi, masih dengan menatap ke depan, entah apa yang dia lihat.
Agnia terdiam, dia memang tidak bisa menyalahkan Kim atas perasaannya.
"Jadi itu alesan sekretaris Kim pergi?" Tanya Agnia menegakkan tubuhnya, sungguh dia mengagumi cara Kim. Sama dengan apa yang di lakukan Regi. Alih alih berbuat gila untuk memperjuangan hatinya, dia memilih pergi dan mengendalikan perasaannya sendiri.
"Hm ... mungkin dengan cara ini perasaanku akan hilang seiring waktu! Karena aku tidak ingin merusak hubungan persaudaraan antara aku dengannya. Aku lebih menghargai hal itu Nia." Ujarnya dengan kedua tangan yang dia rekatkan diatas pahanya. "Dan aku harap kamu bisa mengerti. Aku benar benar tidak berniat merebutnya dari mu."
Agnia mengulas senyuman, Itu mungkin cukup menenangkan. Tapi entahlah, kita tidak akan pernah tahu hati seseorang. Buktinya saja Serly, berkali kali dia meminta maaf tapi melakukan hal yang sama lagi.
"Kau tenang saja Nia ... aku berjanji pada diriku sendiri."
"Karena jika orang berjanji kepada orang lain, dia bisa saja mengingkari, tapi jika berjanji pada diri sendiri. Maka orang itu akan selalu berusaha menepatinya." terang Kim yang juga menoleh pada Agnia, terukir senyuman dari bibirnya, lalu tangannya terulur menggenggam tangan Agnia yang sedikit tertohok akan kata kata yang dia lontarkan.
"Zian milikmu, hatinya, fikirannya, semua hidupnya hanya untukmu. Kau harus menjaganya dengan baik! Tugasku dari kakek Mahesa sepertinya sudah selesai, jadi kamu yang melanjutkan yaa!" kekehnya kemudian.
Senyuman pun terbit di wajah Agnia, kesungguhan yang dia lihat dari wajah Kim memperkuat ucapannya.
"Aku pegang kata katamu, jangan merebut suamiku kalau tidak aku akan mengamuk padamu!" ujarnya dengan ikut terkekeh.
Kim tergelak, begitu juga Agnia yang sedikit kaget melihatnya, Kim tidak pernah tergelak seperti itu sebelumnya.
"Kau tenang saja Nia, suamimu itu akan bodoh jika mencintai seorang wanita. Dia tidak akan tertarik pada wanita lain."
__ADS_1
"Heh ... jangan mengatai suamiku!"
"Maaf! Aku keceplosan."
Keduanya kembali menatap ke arah depan, entah apa yang mereka lihat yang jelas keduanya larut dalam fikiran masing masing, hanya senyum dari keduanya yang terlihat seolah keduanya sama sama lega dengan masalah ini.
"Kata Daddy ... kalian sekarang berkencan?" tanya Agnia tiba tiba.
"Apa kau keberatan? Aku bisa mundur jika kau mau."
Agnia menggelengkan kepalanya, "Bukan ... tidak!! Maksudku itu terserah Daddy aja!"
Kim kembali mengulas senyuman, satu satunya hal konyol dalam hidupnya karena menerima Dave, satu satunya keputusan yang dia ambil tanpa berfikir dahulu.
"Tapi kalau sekretaris Kim hanya membuat Daddy sebagai pelampiasan saja, lebih baik jangan!"
Sekretaris Kim terkekeh lagi, "Kau tahu Nia ... aku dan Dave sama sama menjadikan hubungan ini sebagai pelarian, kita akan sama sama belajar saling mencintai. Bukankah cinta datang karena terbiasa? Itu juga kata orang ya! Karena aku tidak tahu."
"Kalau gitu ... Nia akan berdoa semoga kalian berhasil."
Agnia bangkit, begitu juga sekretaris Kim. Tanpa siapa yamg memberi komando, mereka sama sama berjalan keruangan Zian.
"Kalau hubungan sekretaris Kim dan Daddy berhasil, apa Nia harus panggil Ibu Kim?" seloroh Agnia yang seakan baru tersadar hubungan macam apa yang terjalin diantara Kim dan ayahnya.
Kim berjalan tanpa menoleh, namun dia juga terkekeh, "Aku belum kefikiran hal itu Nia, kau tanya ayahmu. Apa dia berniat menikahiku atau tidak!"
.
__ADS_1
Like dan komen please. hihihi