
Iyan sudah terlihat kepayahan, tidak sedikitpun dia melawan Zian, sementara Dita kekasihnya memeluk tubuh dari belakang, berharap pelukannya membuat pria itu luluh seperti biasa.
"Baby ... hentikan!"
"Baby." Dengan tidak tahu malunya Dita terus berteriak memanggil nama panggilan pada Zian.
Iyan terus meringis, dengan sisa tenaga yang belum sama sekali dia keluarkan, namun terlihat lemah, "Kau harus tahu Zian, kami melakukannya atas dasar suka sama suka, kami saling mencintai!" lirihnya.
"Baby ... percaya padaku, Iyan bohong! Aku tidak mencintainya, sungguh ... aku mencintaimu sayang!" ujarnya dengan tangan meraup kedua pipi Zian.
Tangan Zian masih mengepal, dia mendorong Dita hingga mundur beberapa langkah, "Kau bilang apa? Kau masih berani memanggilku seperti itu setelah apa yang kau lakukan padaku? Mencintaiku? Hah ... kau fikir aku sebodoh apa Anindita?"
"Baby please jangan marah, aku terpaksa melakukannya, Iyan yang memaksaku melakukannya baby! Percaya padaku."
Dita terus meyakinkan pria yang sangat mencintainya itu, sementara Zian tidak bergeming sedikitpun, nafasnya terasa berat dengan dada yang turun naik, dia kembali merangsek tubuh Iyan dengan brutal.
"Kau pengecut!!"
Bugh
Iyan kembali tersungkur, kali ini dia meringkuk di kaki Zian, "Dia mencintaiku Zian!" lirihnya.
Brukk
Tanpa ampun Zian menendang perut Iyan hingga berguling,
"Baby ... hentikan! Kau bisa membunuhnya! Dia sudah meracau kemana-mana." sekali lagi Dita berusaha, namun lagi-lagi gagal.
"Sudah aku katakan aku terpaksa, melakukan semua ini!" imbuhnya lagi.
Lalu dia menoleh pada Dita, pandangannya nanar dengan kedua netra mengabur, sekuat tenaga dia menahan agar tidak menitikkan air mata, kemudian memilih membuang wajah ke arah lain, "Tega sekali kau Anindita, apa kesalahanku sampai kau berbuat seperti ini? Apa kurang yang aku berikan padamu selama ini? Hem ..." Zian mencapit kedua rahang Dita, manik yang semula menyejukkan kini berubah menjadi kilatan tajam dan mematikan.
"Aa__ aaku ti__tidak melakukannya Baby. Aku dipaksa!" ujarnya tergagap, belum pernah dia melihat Zian semarah itu, bahkan dirinya mampu mengendalikan pria dihadapannya itu dengan mudah, sekali sentuh, maka apapun keinginannya bak titah yang wajib dilaksanakan.
Namun tidak kali ini, Dita sendiri ketakutan melihat sisi lain dari Zian, pria yang selama ini dia anggap bodoh dan lemah karena cintanya.
Kim yang berdiri diambang pintu berdecak ke arahnya, "Sudah ketahuan masih saja berkilah!" gumamnya.
"Terpaksa?" Dita mengangguk.
"Tapi aku tidak melihat keterpaksaan di wajahmu, kau bahkan sangat menikmati sentuhan nya!"
__ADS_1
Pria yang diliputi amarah itu menepiskan wajah Dita dengan kasar, air mata wanita yang mengisi hatinya itu sudah tidak lagi mempan baginya, benci sebenci-bencinya.
Sakit, perih teramat sangat, bak di hujam dengan belati yang sangat tajam, lalu tercacah-cacah hancur tidak berbentuk lagi. Itulah yang dirasakan Zian saat ini, cintanya yang begitu besar terkhianati, mungkin jika bukan Iyan, dia tidak akan semurka ini.
Tapi kenyataannya pria itu adalah Iyan,
"Kau bilang padaku kau akan terbang ke Singapore? Sejak kapan Singapore pindah kemari! Hem??"
"Aku tidak menyangka kalian!!"
"Baby ... please baby, maafkan aku!"
Iyan yang tersungut dengan wajah penuh darah bangkit dengan meringis, "Maaf Zian!! Tapi aku mencintai nya jauh sebelum kau mencintainya."
Bhuggg
Zian kembali menghantam tubuh Iyan, hingga Kim maju dan melerainya, "Lebih baik kita pergi dari sini, jangan buang energimu untuk kedua manusia hina ini!"
"Baby ... please! Maafkan aku, aku tidak mencintai Iyan, aku mencintaimu ... kita akan menikah bukan? Ku ingin menjadi istrimu baby!!" teriaknya dengan mencekal lengan Zian.
Kim menepis tangannya dari lengannya "Pergilah ke neraka!! Wanita busuk!!"
Zian keluar dari ruangan itu dengan cepat, tangannya mengepal hingga dia tidak mempedulikan Kim yang mengekornya dibelakang yang berusaha menyamakan langkahnya, mereka keluar dari lounge itu dan masuk kedalam mobil, Zian tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya diam dengan tatapan kosong.
Entah hatinya terbuat dari apa, sampai bisa tidak tahu diri seperti itu, sudah jelas Zian memergokinya langsung dengan kedua matanya saat mereka tengah melakukan hal menjijikan, jika saja Zian tidak masuk, mungkin mereka melakukannya ditempat itu. Menjijikan sekali.
Hampir semua orang mengatakan hal yang sama tentang Dita, tapi aku tidak peduli, aku sangat mencintainya, sampai aku buta dan tuli. Dan semua kini terbukti, mereka ... sialan, begitu bodoh aku sampai mengusir Agnia karena bicara hal buruk tentang wanita itu. Agnia ... maafkan aku.
"Kita pulang?" tanya sekretaris Kim.
Zian masih enggan berkata-kata, jika tidak ada Kim, mungkin dia sudah menangis tergugu, bagaimana bisa wanita yang paling sempurna menurutnya, yang dia percaya bahkan di junjung tinggi sedemikian rupa, janganlah dunia, nyawapun Zian rela memberikannya. Namun wanita yang dia banggakan itu melakukan hal serendah itu, ditambah melakukannya dengan orang yang paling dekat dengannya.
"Berhenti disini!!" Perintah Zian mengagetkan Kim.
Kim mengedarkan kedua netranya, melihat ke luar mobil, "Zian, lebih baik kita pulang saja!"
"Hentikan mobilnya Kim!!" Namun Kim tetap melaju, dia tidak ingin Zian masuk ke salah satu klub dan mengacau di sana
"Ayana Hakim, berhenti atau aku akan menendang mu keluar!" Ancamnya dengan tatapan tajam.
Kim mendengus kasar, lalu menepikan mobilnya, namun dia belum menekan lock otomatis hingga Zian tidak bisa keluar.
__ADS_1
"Anjj ... Kim berhenti main-main! Buka pintunya!"
"Kalau kau masuk, kau hanya mencari penyakit Zian!!"
Zian mengepalkan tangan lalu meninju kaca mobil bagian depan, hingga kaca mobil nya retak. "Kau ingin lihat aku melakukan lebih dari ini Kim!!"
Kim kembali mendengus, tak ada pilihan lain selain membiarkan Zian melakukan apa yang dia inginkan.
Zian keluar dari mobil dan masuk ke dalam klub, dan menuju meja bartender untuk memesan minuman yang sudah lama tidak dia tenggak, Kim menyusulnya ke dalam dan duduk di sampingnya. Zian menenggak minuman langsung dari botolnya dan terus menghabiskannya, dia tidak peduli lagi dengan apapun, dia hanya ingin minum agar bisa melupakan masalah itu, itu saja.
"Kau benar-benar kacau Zian!"
"Biarkan aku sendiri Kim! Enyahlah dari sini!"
Kim merebut botol dari tangan Zian, "Payah sekali kau ini, hanya karena wanita iblis kau seperti ini Zian?"
Zian mendorong tubuh Kim hingga tersungkur, namun dia masih bisa menahan tubuhnya dengan cepat,
Brukk
Seketika malah Zian yang jatuh, dengan susah payah dia bangkit, dan meracau kemana mana, memaki Iyan juga Dita dengan kasar, lalu menangis tergugu.
"Aish ... kau ini memalukan sekali!" gumam Kim yang melihat bosnya itu meracau.
"Kim ... kita pergi! Aku harus mencari Agnia, aku___"
Brukk
Tubuh tegap itu kembali tersungkur, kali ini dia tak sadarkan diri setelah menghabiskan 5 botol minuman.
"Menyesal kan sekarang!"
.
.
.
Hai readers ... terima kasih banyak buat dukungannya di novel ke 3 aku yang receh ini. wkwk.. suka deh kebawelan kalian di kolom komentarš„° tapi aku minta maaf jika belum bisa crazy up lagi, dan seperti biasa kadang telat bls komen atau cuma bisa like doang, bukan sombong, bukan lah congkak, yang disayangi handai taulan( Nyanyian anak TKš¤£)
Dukungan kalian semua membuat aku menjadi seperti iron manšeeh gak nyambung,
__ADS_1
#Semoga bab ini lolos review cepet, gak kayak bab sebelumnya, aku nungguin review seharian penuh sampe keronconganš¤£
Kalau lama, boleh mampir di novel ku yang lain, rekomended Berondong Manisku biar bisa mesem-mesem sendiri. (udah ah curhatnya panjang beuud ... takut ditegor editor)