Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 179


__ADS_3

"Tapi aku bisa jalan sendiri!" gerutu gadis berusia 17 tahun itu dengan terus berusaha turun dari gendongan Zian.


"Diamlah ... kau ingin jatuh?" ujar Zian saat sampai dianak tangga paling atas, "Gerakanmu akan membuat kita sama sama jatuh!"


Agnia mengerjapkan kedua matanya, saat Zian mendorong pintu kamar, membawanya masuk dan menutup kembali pintu kamar dengan mendorongnya menggunakan kaki. Dia menurunkannya ditepi ranjang.


"Sudah aku bilang, aku bisa jalan sendiri!" Agnia tidak berhenti menggerutu, Benar benar hari yang aneh, dalam hitungan menit, status gue berubah.


Zian terlihat melonggarkan dasinya, lalu bersandar pada meja didepan kaca rias.


"Apa kau tidak senang!"


"Tentu saja ... kenapa Om lakukan ini tanpa bertanya padaku? Tiba tiba menyuruhku ke kantor catatan sipil, dan tiba tiba keluar sebagai pasangan suami istri. Benar benar aneh!" ucapnya dengan mulut mendumel.


Sementara Zian hanya mengulum senyuman, "Apa yang kau khawatirkan Nia? Sekolahmu? Masa depanmu? Atau ....?"


Agnia menatap wajah Zian yang tengah mengulas senyum, hatinya berdebar sangat kencang, tentu saja kekhawatiran Agnia tidak hanya sebatas sekolah dan masa depannya saja. Zian berjalan perlahan, lalu berlutut didepannya.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan bukan? Hem ... termasuk apa yang akan terjadi di ranjang ini!" ujarnya dengan tangan menyisir permukaan ranjang.


"Apa? Maksudku ... aku, tidak---!!" Agnia tergagap gagap. Senyuman Zian semakin melebar, membuat wajah Agnia merah padam "Apa? Dasar mesum!!"


"Tidak ... hanya saja wajahmu benar benar lucu!"

__ADS_1


Agnia bangkit dari duduknya, "Lucu apanya? Ini gak lucu tahu!"


Namun sedetik kemudian Agnia kembali terduduk, pria yang masih berlutut itu menarik pergelangan tangannya. Hingga kedua manik itu beradu.


"Aku tidak akan meminta maaf karena melakukannya tanpa persetujuan mu!"


Agnia mendengus, "Dan aku tidak akan pernah menyesal karena tiba tiba menikahimu hari ini."


"Ya lakukan saja sesukamu!"


Zian masih mengulum senyuman, "Tapi aku juga jamin, kau akan berterima kasih padaku satu hari nanti!"


"Aku tidak akan berterima kasih karena tiba tiba menikah seperti ini!"


Zian bangkit dan mengecup pucuk kepala Agnia, sementara Agnia hanya mengerjapkan kedua matanya.


"Bersihkan tubuh ... memangnya mau apa? Hei, kau tidak akan melakukannya hari ini kan?" ucapnya saat Zian membuka lemari. Dia tidak menjawabnya, hanya sedikit mengerdikkan bahunya tanpa menoleh.


Dada Agnia semakin bergemuruh, membayangkannya saja membuat nafasnya sesak tiba tiba, dia bangkit dan menghampiri Zian, "Iya kan ... tidak hari ini? Maksudku ....!"


"Kau bicara apa Nia? Aku tidak mengerti?"


"Jangan pura pura deh! Om ngerti apa yang aku ucapkan!"

__ADS_1


"Om lagi?"


Agnia mengernyit, sepenting itukah nama panggilan untuk Zian, bahkan dia tidak bisa membayangkan nama yang cocok untuknya.


"Memangnya aku harus panggil apa?"


Zian berbalik menghadapnya, dengan gerakan cepat dia membalikkan tubuh Agnia hingga dia bersandar pada lemari.


"Terserah, asal bukan Om."


Lagi lagi dada Agnia berdebar, jarak Zian begitu dekat, hingga harum tubuhnya menyeruak masuk kedalam indera penciumannya. Begitu pun dengan Zian, harum khas yang berasal dari racikan aneh Agnia yang membuatnya candu.


Tangannya menyusup kesela leher, perlahan dia menenggelamkan wajahnya ke ceruk Agnia, membuat gadis itu menggigit sedikit bibirnya.


"Bisakah kau sedikit mundur?"


"Kenapa? Kau takut?"


Tentu aja ... bego apa? Gue degdegan banget, apalagi lihat muka nya. Ya ampun...


"Nia mau mandi!!" ujarnya dengan mendorong dada Zian hingga dia mundur, lalu Agnia berlari masuk kedalam kamar mandi, Zian tergelak melihat tingkahnya yang menggemaskan.


"Seru sekali, membuatnya salah tingkah terus, malu malu tapi sebenarnya dia juga mau."

__ADS_1


__ADS_2