
Jam 7 malam, Agnia baru sampai dirumah, dengan paper bag yang ditentengnya berisi jaket milik Adam, sementara pakaiannya sudah berganti.
Ceklek
Agnia membuka pintu rumah, dan tersentak kaget saat melihat Zian yang duduk di sofa dengan ponsel ditangannya. Dia mendongkak kearahnya, dan tatapannya pun tidak bisa dihindari Agnia.
"Dari mana saja kamu?"
Agnia menutup pintu, dan mengabaikan pertanyaan dari Zian. Dia masih kesal karena kejadian tadi pagi.
"Nia ... aku bertanya padamu? Kenapa diam saja?"
"Dari tempat Cecilia." ucapnya pelan.
"Kenapa tidak mengabariku? Kau menyimpan nomor kontak ku kan Nia!"
"Untuk apa? Kau saja tidak peduli padaku."
Agnia berjalan menaiki tangga, Zian menyusulnya dan menghalau jalannya, "Aku belum selesai bicara Nia, bersikaplah sopan,"
Agnia tidak menjawabnya, dia kembali berjalan lalu masuk kedalam kamarnya begitu saja.
Zian kembali menyusulnya masuk kedalam kamar.
"Om ... Nia mau ganti baju! Bisakan Om bersikap sopan dan tidak masuk seenaknya begini! Apa karena aku menumpang, Om bisa seenaknya keluar masuk kamar ini? Apa karena Om sudah mencium Nia, Om bisa seenaknya!" ujar Agnia dengan sekali nafas.
Zian membelalak kan kedua matanya, "Nia ... kamu bicara apa?"
Agnia membuka pintu balkon, agar udara didalam kamar itu sedikit menyegarkannya, "Fikir aja sendiri!"
"Nia ...!"
"Apa? Apa Om tahu aku terlambat pergi ke sekolah dan harus memanjat karena gerbang sudah ditutup, dan begitu aku bisa masuk, ternyata Om sedang seminar! Apa Om bisa ngerti itu, kenapa Om gak ngajak Nia? Om tahu akan ke sekolah Nia, tapi Om biarin Nia pergi sendiri."
Zian mengulum senyuman, melihat Agnia kesal, dia maju beberapa langkah dan,
Grepp
Zian mengangkat tubuh Agnia dengan satu kali gerakan,
"Hey ... turunkan aku!" teriak Agnia.
Zian membawa Agnia keluar dari balkon dan mendudukkan nya di pembatas balkon.
"Hey ... Om kurang ajar! Turunkan, apa-apaan sih, Nia bisa jatuh!"
__ADS_1
Zian masih mengulum senyum, dengan tangan yang melingkari pinggang Agnia, sedangkan Agnia melingkarkan tangan pada leher Zian.
"Jadi?"
"Jadi apa? Cepat turun kan aku!" Agnia meronta-ronta, dengan menatap ke bawah yang lumayan jauh.
"Jadi? Sekarang kamu menyadarinya?"
"Menyadarinya apa?"
Zian semakin mengeratkan pelukannya, "Menyadari perasaanmu?"
Agnia mengernyit, "Apa hubungannya?"
Zian mencubit hidungnya, "Bodoh ... Bukankah kau terlihat kesal saat aku tidak mengajakmu? Tapi aku benar-benar tidak bermaksud, itu kesalahan Kim yang mengatur jadwalku. Ku fikir seminar itu siang hari, paginya aku memang ada rapat. Tapi karena satu hal, Kim merubah jadwalku!"
Agnia mendengus, "Tidak penting, kau memang tidak peduli! Sekarang turunkan aku."
"Aku tidak mau! Biar begini saja! Sampai kamu menjawabnya."
"Jawab apa sih Om! Nia gak ngerti!"
"Tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti!"
"Kalau aku bilang dihatiku ada Nia bagaimana?"
"Berdampingan dengan Dita gitu? Mana percaya!"
"Kalau perasaanku lebih condong padamu?"
"Aku tidak percaya!! Cinta yang Om punya buat mantan Om itu sangat besar, dan gak mungkin ilang gitu aja! Nia bukan anak kecil Om ... gini-gini Nia tahu!"
"Jadi Nia perlu bukti?"
Agnia mengerdikkan bahunya, membuat Zian semakin tersenyum,
"Aku benar-benar berusaha melupakan Dita, dan aku tidak mungkin kembalinya, apapun yang terjadi, dia sendiri yang merubah perasaanku ini. Dan sekarang hanya kamu yang ingin aku pertahankan."
Agnia tertegun, dengan perkataan Zian, haruskah percaya begitu saja, disaat dia sendiri pun belum yakin akan perasaannya sendiri.
"Ini memang terdengar gila, bahkan sangat gila, tapi percayalah, aku mencintaimu Nia!" ungkapnya lagi.
Sedetik kemudian Zian mengangkat tubuh Agnia yang menurutnya ringan itu dan berputar beberapa kali, hingga mau tidak mau Agnia semakin merekatkan lingkaran tangan pada lehernya, dengan tangan yang melingkar di pinggang Agnia, Zian melum att bibir sen sual milik gadis itu dengan lembut, tanpa menurunkan tubuh Agnia dalam gendongannya.
Begitu pun dengan Agnia yang lagi-lagi tidak bisa menolaknya, sensasi berbeda yang kembali membuatnya candu, dan mereka hanyut dalam tautan bibir mereka, lumattan itu berubah menjadi ciu man panas seiring dengan decakan yang berhasil lolos dengan sendirinya,
__ADS_1
Zian membawa Agnia masuk dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang tanpa melepaskan tautan di bibirnya, dengan menahan kepalanya dengan telapak tangannya sendiri.
Gelanyar itu semakin menyeruak dengan hebat, membuat keduanya semakin terbuai dengan Zian yang mengimbangi Agnia yang masih terlalu kaku. Zian harus banyak menahan diri, lagi-lagi dia tidak mau gegabah dan justru merusak seseorang yang dia cintai.
Agnia berbeda dengan wanita-wanita yang sebelumnya dalam hidupnya.
Namun gerak tangannya menolak apa yang diperintahkan otaknya sendiri, tangan itu mulai bergerak dengan sendirinya, menyusuri leher putih Agnia yang semakin bergelinjang hebat, lalu turun ke atas dadanya, menyentuh benda bulat miliknya, dengan nafas yang memburu, Agnia melepaskan tangan Zian dari miliknya, walaupun dia juga sangat penasaran dengan bagaimana rasanya.
Zian tersenyum, dia pun beralih pada sela leher Agnia. "Jadi sekarang mengakulah, kalau kamu juga merasakan hal yang sama yang aku rasakan!"
"Apa sih Om ... aku masih kecil!" ujar Agnia dengan mendorong tubuh Zian dari atas tubuhnya, namun justru Zian menahan dan dia mengangkat tubuhnya menjadi terbalik, Agnia saat ini yang berada di atas tubuh Zian.
"Om ... iiiih!!!" ujar nya memukul dada pria yang kini terkekeh.
"Apa ... kamu yang ada diatasku sekarang! Tapi masih belum mengaku juga."
"Iihh nyebelin banget!"
Zian menarik tengkuk Agnia dan kembali meluumatt bibirnya, kali ini sangat lembut dari yang sebelumnya, membuat Agnia kembali merasakan sensasi berbeda ditambah tubuh Zian yang tegap berotot itu turun naik seiring dengan tautan bibir mereka. Tangan Zian melingkar di pinggangnya, lalu perlahan menyusup masuk kedalam t-shirt yang dikenakannya, menyusuri mulusnya punggung Agnia yang putih, begitupun Agnia yang sudah berani bergerak diatas tubuh Zian, dengan tangan yang mencengkram tengkuknya lebih dalam.
Namun tiba-tiba saja, Agnia melonjak dan turun dari ranjang, lalu tertawa terpingkal.
Zian memposisikan tubuhnya menjadi setengah duduk dan bersandar.
"Nia ...!"
"Sorry Om ... lebih baik Om tuntaskan sendiri!" ucapnya dengan menunjuk sesuatu di balik celana milik Zian yang lebih menonjol.
Agnia berlari keluar kamar dan tertawa terpingkal. "Rasain ... emangnya enak dikerjain!"
Zian menutup wajahnya dengan bantal dan sedikit menggigitnya dengan kesal.
"Hampir saja!!"
Dia lantas turun dari ranjang dan keluar dari kamar Agnia dan masuk kedalam kamarnya sendiri. "Aku benar-benar harus menahan diri lebih keras lagi!"
Agnia yang tengah menenggak segelas air putih itu tersedak melihat Zian menghilang dibalik pintu kamar, dia lantas duduk dengan memegang dadanya sendiri yang masih turun naik dengan nafas yang semakin normal.
.
.
Akan up satu lagi nanti, tungguin ya ... jangan luka like dan komen setiap bab nya oke, selamat hari lebaran dan berkumpul dengan keluarga❤️
Maaf kalau othor belum sempat balas komen kalian.
__ADS_1