
Hampir satu jam mereka belajar, dan seperti yang mereka rencanakan, mereka akan pergi ke rumah Laras dan juga Dave.
Agnia kembali masuk dan mendapati Zian tengah menonton tv bersama Aya, dengan sekotak besar es krim di atas paha Aya.
"Aya itu kan es krim Kak Nia?"
"Aya dikasih Om Zian kok! Iya kan Om?"
Agnia mendengus ke arah suaminya itu, Zian beranjak dari duduknya lalu merengkuh bahunya.
"Kita beli lagi nanti ya! Aku fikir itu stok lama, tidak baik menyimpan lama lama."
"Baru juga Nia beli dua hari yang lalu kok! Pokoknya nanti ganti jadi tiga kotak." Agnia kembali berjalan naik ke atas dan masuk kedalam kamar.
sementara Zian menggelengkan kepalanya, dengan melihat ke arah Aya yang masih sibuk menyuap es krim ke dalam mulutnya.
"Om mau?"
"Tidak!" Zian berjalan naik ke atas dan masuk ke dalam kamar, terlihat Agnia yang tengah merias wajahnya dengan bedak tabur lalu mengoles bibirnya tipis.
"Baby ... aku antar ya! Sekalian aku ingin bertemu Dave." tawarnya.
"Terus Cecilia sama Nita gimana?"
"Ya tidak apa apa ... ikut ke mobil saja sama sama."
Agnia terdiam sebentar untuk berfikir lalu mengangguk dengan tersenyum pada pantulan Zian didalam cermin, dan akhirnya mereka sama sama keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Nia gak mandi!" bisiknya di telinga Zian.
Zian membulatkan kedua matanya, lalu merengkul bahu sang istri. "Jorok sekali!"
"Karena aku masih wangi! Maaih cantik juga, tinggal touch up dikit." kilahnya dengan terkekeh.
Zian merekatkan pelukannya hingga terlihat membekap leher Agnia, "Cantiknya tidak ada tandingan, tapi kalau jorok tetap saja jorok baby!"
Agnia tertawa, dia bahkan merekatkan kedua tangannya pada Zian namun masih terus berjalan, "Cium nih ... bau gak? Enggak kan?"
Kedua temannya yang melihat keduanya tertawa sambil terus bercanda hanya saling menatap saja.
"Kalau gini gue makin iri Ce ... Pengen jadi Dini!" gumam Nita pelan.
"Gue juga mau kalau daddy yang jadiin gue Dini kayak dia! Kalau tua mana ada yang gitu, yang ada tiap hari diurusin kayak bayi." tukas Cecilia bergidig.
"Apa kita cari yang kayak gitu Ce?"
__ADS_1
"Huum ... tapi cari dimana?"
Zian berjalan lebih dulu keluar untuk memanaskan kendaraannya, sementara Agnia menghampiri kedua temannya.
"Yuk guys, berangkat! Tapi laki gue pengen ikut. Kalian bareng kita aja ya! Mobil lo simpen sini aja." seru Agnia merapikan rambutnya.
"Ya udah ayo!" Nita buru buru mengambil tas dan memasukkan laptop ke dalamnya.
"Gercep banget sih lo! Mau kemana!" gumam Cecilia pada Nita yang terlihat sibuk sekali.
"Ini kesempatan langka Ce! Jangan di sia siain." ujarnya melangkah menyusul Agnia yang sudah berjalan beberapa langkah di depan.
"Kesempatan apaan! yang ada kita malah jadi obat nyamuk nanti! Bego tuh si Nita!" gumam Cecilia sambil berjalan menyusul keduanya.
.
.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, jalanan yang mulai terlihat renggang dengan awan yang sudah berubah warna menjadi kehitaman, ditambah semburat orange yang kian memudar.
Nita dan Cecilia yang duduk di belakang terus saling menyenggol lengan satu sama lain, lalu saling melirik.
"Lo aja!"
"Apaan sih bisik bisik mulu deh dari tadi!" ujarnya penasaran dengan apa yang mereka ributkan.
Sementara Zian hanya melirik sekilas pada spion diatas kepalanya lalu kembali fokus menatap ruas jalan. Sifatnya sangat kentara, dia tidak banyak bicara jika ada orang lain selain Agnia atau orang yang sudah mengenalnya dekat. Sangat berbeda sekali jika hanya berdua, ucapan dan tingkahnya yang kerap konyol maupun mesum.
"Ini nih Si Nita katanya mau nanya!"
"Nanya apaan?"
"Eh lo bego sih Ce!" Nita menyenggol lengan Cecilia dengan keras.
"Udah buruan mau tanya apa? Eh tanya siapa dulu nih! Sama gue apa sama suami gue!"
Zian menoleh sekilas dengan lengkungan tipis di bibirnya saat mendengar Agnia menyebutkan kata suami padanya.
"Sama pak Zian!" ujar Nita dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Zian menatap keduanya dari spion, dengan kedua alis yang bertautan.
"Tanya soal apa?" ujarnya dengan datar.
"Hooh tanya aja! Kenapa sih aneh banget biasanya juga kalian berisik."
__ADS_1
"Gue masih trauma lihat kemarahan dia waktu bawa lo pulang pas mabok tempo hari Nia! Jadi sampai sekarang kita takut."
"Aku tidak akan menakutkan seperti itu jika kalian tidak melakukan hal hal aneh dan diluar batas." celetuk Zian setelah mendengar ucapan Nita walaupun hanya berbisik bisik.
"Iya ... lagian mau tanya apa sih! Laki gue ini jiga gak bakal marah kalau cuma ditanya. Iya kan hubby?"
Zian mengangguk, dengan mengulum senyuman, "Sure baby! Aku bukan orang gila yang marah marah tidak jelas! Jadi kalau kalian punya pertanyaan, silahkan bertanya."
Cecilia menatap Agnia dan Zian bergantian, lalu beralih pada Nita yang kini menatapnya juga.
"Jadi gini, Om ... eh pak! Kita mau tanya, kira kira pak Zian punya teman atau sahabat yang mirip mirip pak Zian gitu?" ujar Nita yamg langskung menutup mulutnya sendiri.
Agnia yang sedari tadi melihat ke arah belakang tampak mengernyitkan alis lalu menatap suaminya yang tengah menyetir.
"Maksud kalian?"
"Ya barangkali ada yang sedang cari calon istri atau yang sendiri gitu pak! Duren duren gitu." jelas Nita lagi, dengan terkekeh di susuli oleh Cecilia yang juga ikut terkekeh.
"Duren? Kenapa aku harus berteman dengan duren! Kalian fikir aku sejenis buah buahan?"
Agnia terkekeh, "Hubby ... maksud mereka itu duda keren ... bukan buah durian."
Zian kembali melihat keduanya dari spion, lalu menoleh pada Agnia. "Terus apa maksudnya dengan pertanyaanmu?"
"Jangan bilang kalian minta di comblangin?" tuduh Agnia menunjuk ke arah Nita.
Zian berdecak, "Ada ada saja! Kalian fikir aku biro jodoh? Pertanyaan macam apa itu? Tidak ada hubungannya dengan ujian seleksi masuk universitas!"
"Lo sih!" bisik Cecilia pada Nita dengan kembali menyenggol lengannya.
"Lo juga bego!"
"Bukan lo dan lo! Tapi kalian ... sama aja!" ujar Agnia dengan kembali meluruskan punggungnya mengarah ke depan.
Nita dan juga Cecilia terkekeh, "Maaf ya pak! Kita bercanda, tapi ya siapa tahu ada, boleh nanti bagi kami ya pak! Bapak baik deh!"
Agnia kembali menoleh ke arah belakang, "Belajar yang bener dulu! Soal jodoh nanti juga dateng sendiri."
"Tuh denger lo?" Nita berujar dengan memukul paha Cecilia.
"Lo bego yang nanya! Kenapa malah nyalahin gue?"
Keduanya terus ribut perihal jodoh, sampai mobil berhenti di depan gedung apartemen milik Dave, mereka masih memperdebatkan soal orang yang hampir sama seperti Zian.
"Woii ... turun!!"
__ADS_1