Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 278


__ADS_3

Pria tersebut semakin menautkan kedua alisnya, dia memang turun dari mobil dan berniat untuk membantu saat melihat seorang wanita yang tengah keluar dari mobil dan membuka kap mobil yang mengepulkan asap. Namun tidak menyangka jika wanita itu justri mengira dia adalah montir bengkel yang di panggilnya. Tanpa ingin menyanggah, pria itu mengulum senyuman saat Laras terus mendumel karena menunggu kedatangan montir cukup lama.


Dia memeriksa mesin mobil, mengotak atiknya dan mencari sumber masalah yang membuat kendaraan itu sendiri mogok, namun penerangan yang kurang membuatnya kesulitan melihat. Laras yang berdiri disamping kap pun terus berdecak.


"Sudah menunggu lama, sekarang masih harus menunggu lagi karena kau lambat sekali!"


"Kau bisa membantu menerangi? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas."


Laras berdecak, "Kau kan seorang montir, pasti siap dengan segala perlengkapan!"


"Ayolah ... daripada kau juga hanya berdiri menunggu, lebih baik membantu bukan?"


Laras menatapnya dengan tajam, jika seandainya ini terjadi siang hari, dia pasti sudah pergi menaiki taksi, namun karena Laras sebelumnya memilih jalan pintas yang bukan jalan umum, dia harus berjalan kaki terlebih dahulu ke persimpangan dan saat ini tidak mungkin dia lakukan.


"Ayo tunggu apa lagi? Ini sedikit lagi ... aku hanya perlu lampu." tegas pria yang kini tangannya mulai kotor.


Laras kembali berdecak, dia merogoh ponsel dan meneranginya meskipun dia terus saja mengerutu. Tak lama pria itu akhirnya tahu, ada satu kabel yang nyaris putus. Dan menyebabkan mesin mati juga mengepulkan asap.

__ADS_1


"Ini harus segera di bawa ke bengkel untuk memperbaiki komponen yang telah rusak, aku sementara menyambungkannya saja. Ini tidak akan bertahan lama."


"Ya sudah langsung perbaiki saja kalau begitu!"


"Tidak bisa ... aku tidak punya alatnya, ini harus ke bengkel."


Laras mendengus, "Menyusahkan saja. Zaman sekarang orang kalau mau nipu ada ada saja! Kau sengajakan ingin dapat keuntungan besar?"


"Apa maksudmu?" Pria itu menutup kap mobil.


"Aku tidak akan membayar jasamu disini! Aku akan mengadukannya pada bosmu." gumam Laras berbalik masuk ke dalam mobil.


Laras kembali melihatnya dengan sengit, baru kali ini melihat montir yang tidak sopan sepertinya. Dia mencoba menyalakan mesin dan berhasil, mesin kembali menderu, namun tak lama mobil kembali mati. Dia mencoba lagi dan kendaraannya kembali menyala.


"Iyakan? Itu tidak akan bertahan lama, Secepatnya saja kau ke bengkel, kalau perlu malam ini juga!"


"Kau kan montir! Tapi tidak becus menyelesaikan pekerjaanmu ini."

__ADS_1


"Sudah aku katakan, aku tidak punya alatnya?" ujarnya lagi dengan mengelap kedua tangan dengan kain yang dia bawa dari mobilnya.


"Tidak mungkin!" Desis Laras dengan terus menatapnya tajam.


"Kalau butuh tumpangan, dengan senang hati aku bisa memberimu ... secara cuma cuma!" ujarnya terkekeh dengan kedua alis yang naik turun.


Laras lagi lagi mendengus kasar, "Jangan kurang ajar ya! Aku mengenal bosmu ... akan aku adukan kau!"


"Silahkan Nona cantik! Adukan saja ... bilang padanya montir bernama Carl." kekehnya dengan mengedipkan mata, lalu berbalik menuju mobilnya sendiri.


Setelah dirasa kendaraannya tidak lagi mati, Laras menginjak pedal gas dan melaju dari sana begitu saja, meninggalkan pria tidak jelas yang dia anggap sebagai montir tanpa ucapan terima kasih atau apapun itu.


Pria itu menoleh, lalu menggelengkan kepalanya dan melihat mobil melaju dengan cepat. Tak lama dia pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


"Cantik sih tapi sayang mulutnya tajam!"


.

__ADS_1


.


Hayo lho pemain sama pemain lagi ketemu wkwkwk....


__ADS_2