
Setelah drama sampo mandi yang mengharuskan Agnia mandi dua kali, kini dia duduk di meja makan dengan terus melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Sementara Zian masih belum keluar dari kamar, pria itu mempersiapkan diri lebih lama dibandingkan sebelumnya.
"Hubby cepetan dikit! Ngapaian aja sih!" serunya berteriak, dengan tangan menopang dagu. "Udah rempong banget deh, dandan apa gimana ya dia?" desisnya kemudian.
Tak lama Zian keluar dari kamar dengan rambut setengah basahnya. Dia tampak gagah dengan balutan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi merah cerah.
"Ya ampun ... kenapa? Sakit?" tanya Agnia saat melihat Zian yang menarik kursi dengan memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
Zian menggelengkan kepalanya, dia membuka sedikit kain masker dan mengambil selembar roti tanpa mengolesinya dengan selai, seperti yang kerap Agnia makan.
"Indera penciumanku bertambah sensitif setelah tahu kau hamil baby! Gampang mual kalau mencium sesuatu yang tidak enak." tukasnya mengunyah roti dengan sedikit sedikit.
"Aku enggak ah! Biasa aja!"
"Seperti yang dokter Siska bilang, kehamilan simpatik terjadi padaku baby!" Ujarnya dengan menyingkirkan gelas berisi kopi yang disiapkan untuknya.
Agnia terkekeh melihatnya, dia menyodorkan gelas berisi susu kehamilan dengan rasa vanila ke arahnya. "Coba ini. Mual gak? Rasanya enak kok, vanila."
"Oh god ... aku tidak suka susu baby! Apalagi harus meminum susu kehamilan! Untukmu saja. Habiskan!" tukasnya dengan kembali mendorong gelas susu ke hadapan Agnia.
"Coba aja sedikit, aku yakin gak akan mual! Oh kalau perlu minum juga obat yang di resepkan dokter Siska mau?"
"Baby!"
Agnia terkekeh, dengan mengangkat jari telunjuk dan juga jari tengahnya berbentuk huruf V. "Bercanda sayang."
Keduanya akhirnya keluar, dengan di antar oleh supir mereka lebih dulu pergi ke universitas dimana Agnia diterima, melewati jalanan yang cukup ramai pagi itu dan membuat Zian hanya diam dengan bersandar pada sandaran kursi belakang.
"Hubby ... gak apa apa kan?" tanya Agnia, dia menggeserkan tubuh kesampingnya menjadi lebih dekat.
Zian menganggukkan kepalanya sedikit namun menutupi hidungnya padahal dia sudah memakai masker.
"Wangi mobil ini benar benar membuatku mual!"
__ADS_1
Agnia melirik pada pengharum mobil yang terletak diatas dasboard mobil, wangi lemon menyeruak menyegarkan. Namun tidak berlaku untuk Zian.
"Pak nanti siang tolong ganti pengharum mobil itu ya!" ujar Agnia berinisiatif.
Supir Zian mengangguk, dengan menoleh pada kaca mobil.
"Thanks baby!" desis Zian dengan menggenggam tangan Agnia.
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi saat kemacetan mulai terurai. Namun justru membuat Zian semakin mual.
"Stop pak!" Seru Agnia saat melihat mini market. "Nia mau beli sesuatu dulu!"
Supir pun menepikan mobil dan Agnia turun dari mobil dengan cepat, dia masuk kedalam minimarket sementara Zian hanya melihatnya dengan membuka kaca pintu mobil.
"Pak buang itu!" tunjuknya pada pengharum mobil.
"Baik! Maaf diganti dengan wangi apa ya pak?" Supir yang melihatnya pun melepaskan pengharum mobil. Menyimpannya didalam kotak dasboard lalu menutupnya rapat rapat.
Tak lama Agnia kembali masuk dengn membawa satu bungkusan.
"Beli apa baby?"
"Permen." ujarnya dengan menunjukan satu bungkus permen dengan rasa papermint.
Zian mengernyit, "Sebanyak itu? Kau mau gigimu sakit?"
Agnia membuka satu dan menyodorkannya, "Bukan buat Nia kok! Tapi untuk mu hubby!"
"Untukku?"
Agnia menganggukkan kepalanya, "Kalau Nia upacara sekolah yang lama itu, Nia juga suka mual dan pusing, tapi setelah makan permen mual dan pusingnya ilang."
"Tapi ini beda baby ... aku mual dan pusing karena kehamilanmu." Zian mengabaikan tangan Agnia yang masih memegang permen yang sudah dia buka.
__ADS_1
"Dicoba saja belum!"
"Aku tidak mau!"
Agnia memakan sendiri permen yang sudah dia buka dengan tersungut. "Padahal ini enak lho."
"Tidak mau baby! Mana ada cara begitu menghilangkan rasa mual dan juga pusing karena gejala kehamilan yang aku rasakan, itu malah akan membuat gigiku rusak dan sakit gi---- Eeemmpph!"
Perkataan Zian terhenti sebab sejurus kemudian Agnia menarik kepalanya dan memasukkan permen itu ke mulut suaminya langsung dari mulutnya sendiri. Gadis itu terkekeh setelah permen itu berpindah. Mau tidak mau Zian menguluumnya.
"Coba dulu! Banyak bicara!" ujarnya menyapu bibir Zian dengan ibu jarinya
"Baby! Ap yang kau lakukan?"
"Mencium papa anakku! Emangnya salah?" kekehnya lagi dengan melirik pada supir yang memilih tidak tahu apa apa.
"Oh God Baby!" ujarnya dengan menarik ceruk leher Agnia dan menciumnya kembali.
Hingga permen itu dia dorong masuk kembali kedalam mulut Agnia, namun Agnia pun kembali memasukkannya. Terus begitu hingga beberapa detik. Mereka saling melummat dengan permen yang terus berpindah pindah dengan belitan dua benda basah tanpa tulang.
Agnia menarik dirinya saat permen itu masuk kedalam mulut Zian, dia terkekeh dengan hal tidak biasa namun cukup menyenangkan itu, begitu juga dengan Zian yang mengulum senyuman.
"Not bad! Kurasa ini ampuh juga, mualku hilang."
"Makanya ... Nia bilang apa!"
"Jadi sepanjang hari kau harus melakukan itu pada ku baby!"
.
.
Maafkan othor... up nya gak karuan ya readers, mohon sabar oke... lope lope badag buat kalian yang setia menunggu. Terima kasih juga yang udah dukung othor.
__ADS_1