Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 240


__ADS_3

"Wow ... Zian! Kau pandai memilih sekretaris, tapi terlihat masih sangat muda sekali ya."


Zian mengulum senyuman, dia menatap Agnia yang tersenyum kecut ke arahnya dan beralih pada Irene.


"Kita mulai Irene?" Zian mempersilahkan Irene untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Haaihh ... kau masih saja kaku Zian! Dari dulu tidak pernah berubah. Kau bahkan tidak menarik kursi untukku." Irene menarik kursinya sendiri lalu duduk.


"Bukankah kau bisa melakukannya sendiri?" Ujar Zian sibuk dengan membuka berkas miliknya.


Irene terkekeh, "Kau memang Zian yang aku kenal. Baiklah kita mulai."


Keduanya mulai serius bicara berkaitan dengan kerja sama antara perusahaan, bukan hanya itu. Keduanya ternyata teman satu kampus saat berkuliah dulu.


Agnia mengeluarkan catatannya, dia menulis poin poin penting yang bisa dia tangkap, mendengarkan keduanya dengan seksama, Zian mengulum senyuman, sikap Agnia benar benar membuatnya bangga, dia belajar dengan cepat, walaupun mungkin topik yang dia dengarkan terlalu asing di telinganya.


Gadis itu memberikan tanda pada setiap kata kata yang tidak dia mengerti, lalu kembali mencatat poin poin penting lainnya.


Hampir satu jam mereka berdiskusi, hingga semua poin tersepakati.


"So ... apa kau sudah menikah Zian?" tanyanya dengan menyeruput minuman didalam gelas miliknya.


Zian tersenyum, dia melirik sebentar ke arah Agnia yang tengah menyelesaikan catatan.


"Menurutmu?"


"Oh ... ayolah, kau tahu aku tidak bisa menebak dengan baik!"


"Tidak apa apa ... coba tebak saja! Kalau pun tidak benar, tidak masalah."


Zian sengaja memancing Agnia agar bereaksi, karena melihat gadis itu terlalu fokus dengan catatan miliknya hingga tidak mendengarkan percakapan santai keduanya.


"Hm ... begitu ya! Aku harap kau memang belum menikah!"


Zian hanya mengulas senyuman, dengan melirik ke arah Agnia yang masih menggerakkan jemarinya pada catatan miliknya.


"Awww ...!"


"Kenapa Zian?" Tanya Irene melihat Zian mencondongkan tubuhnya untuk mengusap tulang kering miliknya yang ditendang.


"Ahh... tidak apa apa! Kakiku tidak sengaja mengenai besi meja ini.


"Ooh ... apa sakit?"

__ADS_1


"Lumayan sakit!"


"Memangnya kalau belum menikah, Ibu Irene mau apa?" tanya Agnia tanpa mengubah pandangannya pada catatan miliknya, lalu mengangkat kepalanya perlahan ke arah Zian.


"Kakimu tidak apa apa?"


Zian mengangguk, kedua ujung bibirnya melengkung saat bertatapan dengan Agnia.


"Ya ... tidak apa apa juga! Tapi aku berharap kau memang belum menikah, agar kerja sama diantara kita tidak menjadi canggung, jika sewaktu waktu perusahaan mengharuskan kita pergi berdua. Iya kan Zian?"


Berdua apanya? Modus banget nih cewe. Batin Agnia.


"Aku sudah menikah!" Ujar Zian berterus terang, dia tidak ingin membuat Agnia salah faham terlalu jauh, dan membuat masalah di antara mereka gara gara hal itu.


"Benarkah? Sayang sekali!"


Agnia menendang kaki Zian lagi, namun kali ini tidak sekeras tadi, membuat Zian menoleh kepadanya dalam kebingungan, hanya tatapannya yang seolah bertanya pada Agnia.


Kau ingin aku berterus terang atau tidak baby?


Agnia hanya mendengus pelan, lalu kembali berpura pura menulis catatannya.


"Tadinya aku ingin mengundangmu nanti malam kesebuah acara amal."


"Hm ... penggalangan dana untuk korban bencana alam." terang Irene.


"Benarkah? Korban bencana alam apa? Gunung meletus, banjir bandang, atau tsunami?" tukas Agnia menatap Irene.


"Sekretarismu sangat detail Zian!" Irene terkekeh.


"Benar sekali!" Zian mengulum senyuman melihat Agnia yang tidak ingin mengakui dirinya sebagai istri Zian namun rasa cemburunya terlihat jelas.


"Tentu saja bu Irene. Itu sudah tugasku sebagai sekretaris pak Zian, menjaga beliau dari gangguan gangguan sekecil apapun."


Ceo wanita itu tertohok, dia menunjuk dirinya sendiri, "Aku termasuk pengganggu?"


"Maaf tapi aku mengatakan itu sebagai perumpamaan, bukan tuduhan." Agnia mengulas senyuman pada Irene yang tampak sedikit kesal dengan ucapannya.


"Zian ini hanya penggalangan dana! Dan jika kita pergi kesana, mungkin kita akan mendapatkan simpatitas dar---"


"Simpatisan? Simpati seperti apa yang kalian dapatkan dari korban bencana alam? Dukungan? Apa tidak terlalu berlebihan? Meminta simpati dari korban bencana yang seharusnya mendapat simpati kita?"


Irene mulai merasa Agnia terlalu banyak bicara sebagai sekretaris, dia menatap tajam ke arahnya, lalu beralih ada Zian yang hanya diam dengan jari berputar putar pada cangkir kopi miliknya, yang seolah sengaja membiarkan sejauh mana rasa cemburu Agnia.

__ADS_1


"Zian? Apa sekretarismu itu terlalu berlebihan?"


Zian mengulas senyuman, lalu menatap Agnia yang kini tengah melirik jam di pergelangan tangannya. "Tidak sama sekali! Bukankah kau tahu dia sangat detail jika berkaitan dengan bosnya?"


Agnia kembali menendang kaki Zian, membuat pria itu bingung kenapa istrinya menendangnya lagi.


Bos ... bos mesum, mau aja di godain, sudah jelas itu hanya akal akalan nya aja, mana ada cari dukungan dari orang yang lagi kena bencana.


Agnia melempar senyuman pada Irene, sedangkan Irene tersenyum kecut menatapnya.


"Baiklah ... kurasa cukup meeting hari ini Irene." Zian bangkit dari duduknya, dia tidak ingin membuat suasana semakin rumyam jika tidak dihentikan.


"Kenapa buru buru sekali Zian?"


Agnia ikut bangkit dari kursi, "Ya ... karena kami harus kembali meeting ditempat lain."


Irene sekali lagi menatapnya tajam, dia tidak bertanya pada Agnia yang mengaku sekretaris Zian itu.


"Zian?" tanyanya lagi. "Bagaimana dengan tawaranku malam ini?"


"Maaf bu Irene, sepertinya pak Zian memiliki rencana lain, dia harus pergi mengantarkan istri tercintanya." Agnia kembali menjadi juru bicara Zian, sementara pria itu hanya terkekeh.


"Sorry Irene ... Sekretaris ku ini cukup pro dengan istriku. Mungkin lain kali saja ya." Zian mengulum senyuman, melirik Agnia yang air muka yang sulit diartikan, jika dia tidak berhenti, kemungkinan Agnia akan semakin meledak.


"Sayang sekali! Baiklah ... kita atur waktu lain kali ya!" Sahut Irene dengan mengibaskan rambutnya ke belakang, dia sedikit kecewa karena tidak berhasil mengajak Zian, dan semua karena Agnia.


Zian masih berdiri dengan satu tangan berada didalam saku, sedangkan Agnia membereskan berkas serta catatan miliknya. Irene beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan.


"Baiklah ... sampai jumpa Zian! Salam untuk istrimu, dan lain kali ... aku tidak ingin di tolak!" ucapnya dengan mendelik ke arah Agnia.


Zian mengangguk, dia hendak menyambut tangan Irene, namun Agnia dengan sengaja menyenggol gelas miliknya hingga minumannya tumpah sampai isi di dalam gelas itu bercucuran di dekat Zian, membuat Zian harus mundur satu langkah agar tidak mengenai pakaianya.


"Maaf ... maaf pak! Aku tidak sengaja!" ucapnya dengan mengambil gelas terguling diatas meja, lalu mengambil tissu dari dalam tasnya dan diberikan pada Zian.


"Apa minumannya mengenai tanganmu?"


"Tidak apa apa."


Irene berdecak kesal, tangannya masih menggantung di udarapun dia tarik kembali.


"Baiklah kalau begitu! Aku pergi dulu!" ujarnya kesal.


Agnia mendengus saat melihat Irene keluar dari ruangan Vip itu dengah kesal, lalu beralih pada Zian yang menatapnya.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2