
Ketiganya turun dari mobil Zian, dengan pria yang kini terus berdecak dengan melihat kelakuan dua gadis yang cukup membuatnya pusing, tidak bisa membayangkan jika mereka berjodoh dengan salah satu temannya ataupun dengan rekan bisnisnya.
Ziam lebih dulu menarik tangan Agnia agar berjalan bersamanya, sementara Cecilia dan juga Nita berjalan dibelakang dengan jarak yang cukup lumayan.
"Kedua temanmu membuat kepalaku pusing!" gumamnya dengan terus berjalan masuk.
Sementara Agnia menoleh ke arah belakang, lalu terkekeh, "Mereka pengen banget punya daddy yang mirip denganmu! Katanya bosen jadi Dina."
"Apa Dina?"
" Dinafkahi doang tapi gak di nikahi nikahi!" bisiknya ditelinga Zian dengan berjinjit, namun tidak menghentikan langkah kakinya.
Zian bergeleng kepalanya, dia lantas merengkuh bahu Agnia dan merangkulnya. "Istilah yang mereka gunakan benar benar aneh!"
"Hm ... tapi mereka asik kan!"
"Tidak juga!! Mereka aneh!" Zian mengerdik, "Tapi kau beruntung karena mendapatkan ku! Benarkan?"
Agnia mengangguk pelan, lantas melingkarkan tangannya di pinggang Zian. "Hm ... aku emang beruntung, tapi mereka salah kalo meminta jodoh padamu!"
"Kenapa?"
Agnia tergelak, namun tetap melingkarkan tangannya "Kau saja gagal nikah. Iya kan!"
Zian membulatkan kedua matanya, seraya mengeratkan rengkuhannya. "Itu karena dia yang berkhianat, kalau tidak. Mungkin aku sudah menikah! Atau bahkan punya anak!"
Agnia mendengus, "Kalau begitu kau tidak jadi superman ku! Dan kau akan tetap jadi orang bodoh!"
"Kau benar baby!" ujarnya kembali tertawa, menertawakan kemalangan dan kesedihan bahkan keterpurukan dimasa lalu menandakan dia sudah bisa melupakannya.
Kedua gadis belakanganya sama sama berdecak melihat keromantisan dua orang berbeda generasi di depannya, saling tertawa, saling merengkuh, dan saling menatap penuh cinta, tidak perduli pada mereka yang berada di belakangnya tengah gusar.
"Sweet banget sih mereka! Gue kan juga mau!" sungut Nita.
"Mana lagi gak punya daddy ya kan?" timpal Cecilia, lalu Nita menganggukkan kepalanya.
Mereka berdiri didepan lift, Cecilia dan juga Nita masih berjalan menuju ke arahnya.
"Daddy ada di apartemen gak ya?" tanya Agnia.
"Kau tidak mengabarinya kalau kita kemari baby?"
__ADS_1
"Enggak!" Ujar Agnia dengan entengnya.
"Dasar! Kenapa kau tidak mengabarinya? Bagaimana kalau dia tidak ada?" Ujar Zian dengan rentetan pertanyaan.
"Memangnya daddy mau kemana? Dia pasti bilang kalau pergi!"
Cecilia dan Nita yang kini sama sama menunggu lift terbuka terus menatap keduanya. Sesekali mereka menyenggol lengan satu sama lain saat melihat Zian yang terus bicara pada Agnia, namun terdiam saja pada mereka berdua.
Lift terbuka, mereka pun masuk bersamaan, Zian tak lagi banyak bicara. Hanya Agnia yang berbicara dengan Cecilia dan juga Nita hingga akhirnya lift terbuka kembali, mereka keluar dan langsung menuju unit apartemen milik Dave.
Agnia merogoh ponsel, dia ingin memastikan jika ayahnya berada di dalam apartemen, namun tidak juga dia angkatnya.
"Gak di angkat!"
Seorang petugas kebersihan apartemen melintas, dan menoleh saat melihat ada beberapa orang berdiri didepan pintu kamar Dave, dia pun lantas menghampiri mereka.
"Maaf ... apa kalian mencari tuan Dave?"
"Ya betul!" jawab Zian yang menoleh lebih dulu ke arah belakang.
"Bapak tahu kemana dia?" kali ini Agnia yang bertanya.
"Daddy kemana ya?" gumam Agnia.
"Terima kasih!" ujar Zian pada pria yang mengangguk lalu kembali mendorong roda yang berisi alat alat kebersihan.
"Jadi?"
"Kok Daddy gak bilang Nia kalau pergi! Aneh banget." Ujar Agnia dengan kembali merogoh ponsel untuk menghubungi Laras dan menanyakan keberadaan ayahnya.
Namun ternyata Laras tidak mengetahuinya sama sekali, dia bahkan tidak tahu jika Dave pergi jika bukan dari Agnia.
"Gimana? Ibumu tahu Dave kemana?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Mommy gak tahu kemana Daddy pergi." lirihnya. "Apa Daddy balik ke Australia? Tapi gak mungkin, Dadd udah janji kok gak bakal kembali ke sana."
Aneh sekali, Kim juga pergi. Dan waktu mereka pergi jika diperhatikan hampir bersamaan, apa mereka benar benar pergi bersama?
"Ya sudah lebih baik kita pulang saja ya!" ucap Zian menggenggam tangan Agnia untuk menenangkan istri kecilnya itu yang tampak gelisah.
"Dave pasti baik baik saja! Mungkin dia ada urusan pekerjaan dan harus pergi!"
__ADS_1
"Tapi kan biasanya juga bilang! Dan daddy udah janji gak bakal ninggalin Nia lagi."
Zian merogoh ponselnya dan mendial nomor kontak Kim, namun nomor itu tidak aktif lagi. Bahkan dia sudah mencoba menghubunginya dari beberapa hari yang lalu namun nomor kontak Kim masih tetap tidak aktif.
Zian lantas menghubungi seseorang yang bisa mencari tahu dimana kira kira Dave berada saat ini.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari ayahmu! Jadi lebih baik kita pulang dan tunggu kabar darinya oke baby?"
Agnia mengangguk, dia tidak punya pilihan lain selain menuruti Zian, karena Zian pasti tidak akan tinggal diam begitu saja.
Mereka pun akhirnya kembali turun, dengan Agnia yang kali ini lebih banyak diam. Cecilia dan juga Nita pun sama, mereka berdua sama sama berusaha menenangkan sahabatnya agar tidak perlu khawatir.
Mobil kembali melaju, mereka kembali pulang ke rumah dan sudah mendapati mobil Laras terparkir disana.
Agnia turun dan langsung berlari masuk kedalam rumah, sementara Cecilia dan juga Nita enggan ikut campur dengan keluarga Agnia.
"Pak Zian ... lebih baik kami pulang saja dulu! Nanti kalau ada apa apa kabarin kami ya pak!" Zian menoleh kearah keduanya, dia lantas mengangguk lalu kembali berjalan masuk.
Sementara Zian masuk dan mendapati Agnia yang tengah memeluk Ibunya.
"Benar kau tidak tahu kemana Dave?" tanya Laras.
"Aku tidak tahu, bahkan dari sejak beberapa hari yang lalu aku tidak bertemu dengannya. Aku juga baru pulang dari luar kota dan baru tahu saat Nia yang bercerita." terang Laras.
Hubungan keduanya memang sebagai menantu dan mertua, namun Zian maupun Laras tidak mempermasalahkan panggilan satu sama lain yang hanya memanggil nama saja.
"Jadi Daddy kemana dong? Momy ayo tanya kakek Arkhan, siapa tahu Daddy pulang ke sana!"
"Itu tidak mungkin sayang! Semua dokumennya masih ada di rumah lama, jadi kalau daddy ke sana, sudah pasti Mommy akan tahu."
"Terus kemana dong Daddy?"
"Baby ... tenanglah, Dave pasti baik baik saja! Dia tidak mungkin mengecewakanmu dua kali !"
Ucapan Zian membuat Laras maaupun Agnia tertegun, itu memang benar, Dave tidak akan melakukan hal yang akan membuat putrinya kembali kecewa, jadi sudah pasti jika dia tidak akan pergi apalagi kembali ke keluarga Arkhan.
Ting
Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponsel Zian, dia merogoh ponsel itu lalu melibat pesan yang dia terima.
"What?"
__ADS_1