
Indah sampai toko dengan selamat, perdebatan dia tadi di sebuah kantor tidak membawa nampak apa apa buat Indah kecuali bagi Frans yang ngedumel sebab ada orang yang berani sama dia.
Jam kerja berjalan lancar tanpa hambatan, kunci segalanya hanya perlu ikhlas dalam menjalani segala sesuatu tanpa beban serta awali dengan doa.
Jam kerja selesai Indah beberes buat berangkat kampus bersama Ines seperti biasa menggunakan jasa angkutan umum.
Tiba tiba saat menunggu bus hp Indah berdering.
👩🦰Hallo assalamu'alaikum kak.
👨🦱Wa alaikum salam, lagi di mana dekat?.
👩🦰Nunggu bus kak, mau berangkat kuliah.
👨🦱Tadi kakak udah ngirim uang jangan lupa kasih sama Ibu ya, jangan lupa lo.
👩🦰Iya iya kakak kira Indah udah pikun apa, trus buat Indah mana?.
👨🦱Buat Ibu aja, kamu kan kerja punya uang sendiri.
Kalau mau kakak kasih makanya jangan kerja.
👩🦰Udah ah Indah malas ngomong sama kakak, assalamu'alaikum.
👨🦱Wa alaikum salam.
Panggilan itu di putus Indah cepat, lagian nelpon cuma ngasih tau itu doang tidak ada yang lain, lebih parahnya tidak ada bagian Indah cuma buat Ibu doang yang di kirim dasar pilih kasih.
Dasar punya kakak satu tapi ngak pengertian, walau adiknya yang cantik ini kerja kan dia juga butuh uang buat tambah tambah beli buku, gimana sih.
"Udah ngak usah di ambil hati, minta sama Ibu kan bisa.
Gitu aja repot,"
Ngasih ide buat Indah dari pada ngedumel tidak jelas.
Lagian Ibu Indah juga ngasih kalau sang kakak ngirim jadi buat apa pusing pusing tidak dapat bagian.
"Pinter banget sih, sahabat siapa ini,"
Gemas sama Ines lalu mencubit pipi nya.
"Udah, gemas gemas aja ngak usah di cubit juga.
Lo kira pipi gue kayak anak kecil apa,"
Menepis tangan Indah yang menempel di pipi nya.
Tidak cocok Ines di perlakukan seperti itu ingat umur
Skip sampai kampus.
Jam pertama adalah dosen idola semua mahasiswi kampus termasuk kelas Indah.
Dosen tampan dan cukup ramah itu hanya saja sulit di dekati.
Keramahan dia dalam mengajar tapi bagi mahasiswi yang ingin dekat sama dia juga sulit seperti jinak jinak merpati dekatin malah pergi.
"Selamat siang,"
Masuk kelas dengan penuh wibawa yang mempesona.
"Siang pak,"
__ADS_1
Jawab mereka kompak.
"Baik lah buka buku halaman 154,"
Mulai menjelaskan dari awal sampai jam mata kuliah berakhir.
Setiap kata demi kata yang keluar saat menjelaskan pelajaran tidak ada yang sulit buat di pahami.
Kata kata ringan, padat dan jelas tapi satu kebiasaan dia setiap selesai mengajar yaitu mengasih tugas walau hanya satu soal tapi jawaban bercabang cabang seperti perusahaan yang buka cabang di mana mana.
"Gila tuh dosen tampan, tau banget dia tampan pas ngasih tugas pake senyum terus abis tu keluar.
Kayak ngak abis buat orang kesal aja,"
Gerutu Ines yang sama dengan yang lain selalu terpesona sama kharisma dosennya.
"Makanya mau kuliah itu, niatnya lurusin dulu,"
Nasehat Indah pada Ines.
"Niat gue lurus kali Ndah seperti gue juga,"
Sanggah Ines yang tidak mau di kira niat tidak bagus buat kuliah.
"Apa?"
Tanya Indah.
"Dari rumah gue doa seperti ini semoga kuliah hari ini lancar plus bonus calon suami.
Kurang baik apa coba niat gue,"
Tepuk jidat sendiri Indah mendengar doa Ines.
Itu doa kenapa bisa numpang gitu ya, ya ampun Ines cantik kalau gitu doa nya pantas aja kuliah banyak senyum dari pada mikirin pelajaran.
Plak selesai bicara tangan Indah langsung melayang di lengan Ines walau tidak kuat sih.
"Kira kira kali Ndah kalau mau nabok, kalau gue geger otak gimana?"
Mengusap tangan yang Indah pukul padahal hanya pelan Ines saja yang berlebihan.
"Pala lo geger otak, gue nabok lengan jadi ngak ada hubungan nya sama otak lo.
Tuh otak tanpa di tabok udah ngak bener dari cebong,"
Ish kok bisa indah betah temanan sama Ines ya, kayaknya ada yang salah sama Indah apa perlu di periksa ke rumah sakit jiwa ya.
"Lo kira gue ikan apa di bilang cebong,"
Cocok banget kalian berdua berteman pengen rasa nya jodohin.
"Udah ah, yang waras ngalah,"
Indah berjalan menuju kantin buat mengisi kampung tengah yang sudah demo minta di isi alias perut.
Skip pulang kuliah.
Seperti jam biasa Indah sudah sampai rumah dan langsung bersih bersih.
Bersih badan ya bukan bersih rumah apa lagi bersih otak sangat tidak mungkin.
Dan sebelum sampai rumah tadi Indah sudah mengambil uang yang di kirim kakaknya tadi.
__ADS_1
"Bu ini uang yang di kirim kakak tadi,"
Menyerahkan amplop yang berisi uang pada Ibu.
"Coba Ibu tebak, pasti kamu ngak di kasih iya kan?"
Indah hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Itu bukan tebakan bu tapi kenyataan tau ngak.
Ngeselin tuh kakak satu, Indah jadi mikir deh bu dia beneran kakak Indah atau bukan?"
Pertanyaan bodoh apa itu.
Lagian kakak beneran atau tidak sama aja kan, tetap di nistakan oleh sang kakak durjana.
"Bukan dia tapi kamu bukan anak Ibu Ndah, maaf ya!"
Lirih Ibu sedih sambil menundukkan kepala.
Indah yang mendengar terdiam, apa maksud Ibu bicara gitu? maksud nya Indah hanya anak angkat gitu? kalau anak angkat emang di angkat dari mana?.
"Maksud Ibu apa? Indah anak pungut gitu?"
Tanya Indah tidak habis fikir, kenapa baru tau sekarang rahasia sebesar ini.
"Semua orang juga mikir kali Ndah mau mungut kamu, ngak ada untungnya,"
Ibu jangan becanda di kondisi seperti ini.
Indah lagi syok loh mendengar berita ini.
"Kalau bukan anak pungut terus anak apa bu?"
Masih belum puas sama Jawaban Ibu barusan.
"Dulu waktu Ibu ke pasar kan beli timun tuh, nah di sana,,"
Belum selesai ucapan Ibu sudah di potong sama Indah.
"Jadi maksud Ibu, Indah nemu dalam timun seperti cerita timun mas, itu maksud Ibu,"
"Ibu kebanyakan nonton sinetron kayaknya, jadi fikiran Ibu ngak waras,"
Dasar anak durhaka, berani bilang Ibu sendiri tidak waras.
Wah perlu di ruqiah kayaknya si Indah, kalau bicara ngak pake wudhu eh bismillah maksud nya.
"Durhaka kamu bilang Ibu sendiri ngak waras, kamu bukan nemu di timun tapi dalam cabe,"
Ibu geram sendiri sama anak gadis nya ini, masa dia bisa mikir sejauh itu.
Kalau seperti ini cerita pasti Indah korban sinetron.
"Ih Ibu kira Indah beneran, Indah bukan anak Ibu.
Padahal ya Indah udah seneng loh bu, sumpah,"
Setelah itu Indah berlari masuk kamar sebelum kena amukan kanjeng mami.
"Indah dasar kamu ya, senang ledekin Ibu,"
Teriak Ibu pada Indah yang sudah tidak kelihatan lagi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.