Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 233


__ADS_3

Hari ini alunan piano the best Nocturnes menjadi pilihan operator sekolah internasional itu, musik instrumental yang sangat klasik berputar merdu selama hampir dua jam, menemani ujian akhir yang tengah berlangsung di hari terakhir.


Semua larut dalam layar berukuran 15 cm yang tengah menyala karena ujian berbasis komputer.


Agnia merentangkan kedua tangan saat semua jawaban sudah di kirimkan, juga beberapa siswa lain yang melakukan hal yang sama. Musik instrumental kali ini benar benar membantu konsentrasi mereka.


Serly menoleh ke arah belakang, posisi duduk mereka diruangan komputer itu hanya terpisah satu kursi, hingga Agnia tahu jika Serly menatapnya.


Gadis itu tersenyum tipis pada Agnia, namun ucapan Cecilia masih terus berputar di kepalanya, hingga Agnia hanya menatapnya saja.


Serly sama Regi? Ada apa sama mereka, gue harap Regi gak ngelakuin hal bodoh dan ikut ikutan gila kayak Serly. Gue tahu lo baik Gi.


Setelah guru pengawas memperbolehkan siswa yang sudah selesai itu boleh keluar lebih dulu. Agnia keluar, disusul beberapa siswa lainnya termasuk Serly.


"Nia."


Serly memanggilnya, Agnia yang berjalan menuju kelas menghentikan langkahnya.


"Serl?"


Gadis berambut panjang itu memilih berpura pura tidak tahu jika Regi menemui Serly tadi pagi, dia ingin tahu apa rencana yang tengah Serly rencanakan dengan melibatkan Regi.


"Lo mau ke kelas kan?"


Agnia mengangguk, "Gue mau bawa tas abis itu pulang! Kenapa Serl?"


"Gak ...gue mau bareng aja ke kelas sama lo! Lo gak keberatan kan bareng gue? Atau nanti sahabat baik lo marah?" Ujar Serly penuh penekanan.


"Apaan sih Serl? Lo kalau mau bareng gue ya ayo! Tapi gak usah nyinyirin yang gak ada di sini dong!" Agnia mulai tersulut karena ucapan Serly yang terlihat tidak menyukai Cecilia dan juga Nita.


"Sorry deh Nia ... gue emang gak bisa nutupin kebencian gue sama mereka!"


Agnia hanya menghela nafas, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kelas dibarengi Serly.


"Regi tadi pagi kesini!" kata Serly tiba tiba saat mereka berjalan menaiki tangga.


"Oh ...!"

__ADS_1


Kenapa Serly justru ngomong sama gue? Kalau toh dia punya rencana gak bakal di bilang bilang gue segala. Agnia bermonolog dalam hatinya.


"Lo gak pengen tahu dia ngapain kesini nemuin gue? Bukannya nemuin lo? Secara semua orang di sini termasuk suami lo itu tahu kalau Regi suka sama lo dari dulu, bahkan Adam ngira Regi pacar lo." Ujar Serly menohok.


Agnia menghentikan langkahnya saag mendengar apa yang di ucapkan Serly, dia menatapnya tajam lalu menatap ke arah kiri dan kanan.


"Feeling gue bener kan selama ini lo ada hubungan sama Zian, dan wow ternyata, diluar ekspetasi gue malah. Tapi lo tenang aja! Gue gak bakal nyebarin berita spektakuler ini kok!" Ucap Serly kembali melangkah, "Bye Nia gue duluan ya." katanya lagi dengan melambaikan tangan sambil berlalu pergi.


Agnia terpaku, kedua kakinya seolah menempel sangat lengket dan berat untuk di gerakan, ucapan Serly begitu menohoknya sampai lidahnya terasa kelu.


Fikirannya melayang pada Regi, laki laki baik hati yang selalu membantunya selama ini dan dia tahu dengan pasti jika Regi tidak akan pernah membocorkan rahasia nya pada siapapun.


Cecilia dan juga Nita muncul dari belakang, melihat Agnia yang tiba tiba terduduk dikursi panjang tak jauh dari sana.


"Lo kenapa Nia?" tanya Cecilia duduk disampingnya.


"Lo sakit?" Nita menempelkan punggung tangannya pada dahi Agnia.


"Enggak guys! Gue baik baik aja! Tapi gue gak bisa mikir nih."


"Kenapa?"


"Lo serius dia bilang kayak gitu?"


"Gue gak tuli Ce! Dia bilang kayak gitu sumpah! Tapi gue masih gak percaya kalau Regi yang bilang sama dia." kilah Agnia, dia sangat yakin jika Regi tidak akan mengatakan hal apapun itu yang menyangkut dirinya. Regi pasti akan selalu membela dan bersikap baik padanya walaupun dia sakit hati terhadapnya.


"Terus si Serly tahu dari mana kalau bukan Regi? Udah jelas jelas kan tadi pagi aja si Regi kesini nemuin Serly." timpal Nita.


Agnia beranjak dari duduknya dengan kesal, bagaimanapun juga dia tahu dan sangat yakin jika Regi tidak mungkin melakukannya. "Tahu deh ... gue pusing! Dah lah gue balik aja."


Cecilia dan juga Nita saling menatap lalu ikut beranjak dan menyusulnya.


Ketiganya keluar dari kelas dan berjalan ke selasar gedung, turun dan sampai di tempat parkir.


"Gue masih penasaran deh sama mereka!" Tanya Nita tiba tiba.


"Gue juga sih!" Tambah Cecilia dengan mengotak ngatik ponselnya. "Mana dia lagi yang ngeditin dan bantuin kita pas bikin video itu!"

__ADS_1


Agnia menoleh dengan kedua mata yang membola, "Lo serius? Regi yang lo bilang hacker itu?"


Cecilia mengangguk, dengan kedua manik menatap Agnia dengan rasa bersalah. Agnia berdecak, lalu kembali berjalan. "Kok lo gak ngomong gue sih kalau itu Regi!"


"Ya gue kan bilang entar juga lo tahu, hari itu kan si Regi langsung dateng kesini! Gue kira lo udah ngeh Nia."


"Gue gak ngeh sama sekali Ce! Gue fikir dia cuma main biasa aja gitu!"


Mereka terus berjalan, menuju temoat parkir mobil dimana mobil Cecilia berada.


"Lo mau nebeng balik Nia?"


Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue mau ke kantor Om Zian!"


"Serius lo? Pake seragam begini?" tanya Nita.


"Enggak lah ... gue bawa bekel baju kok! Palingan gue nebeng ganti di mobil lo." jawabnya dengan fikiran terus memikirkan Serly dan juga Regi.


"Tuh Si Serly ngejogrog di situ!" Cecilia berjalan ke arah pintu kemudi, sementara Nita dan Agnia masih berjalan beberapa langkah dibelakang. Menatap ke arah Serly yang berdiri tidak jauh dari sana.


Namun lagi lagi mereka bertiga tersentak, apalagi Agnia karena melihat Regi yang baru saja datang dengan menaiki motor dan helm yang sama.


"Regi kan?" gumam Nita kaget.


"Hm ...!" Agnia ingat betul motor dan helm yang membawanya berkeliling malam itu, motor itu juga yang sempat dia lihat ada di depan sekolah, berdiam dihadapannya hingga mobil Zian datang menjemputnya.


Ada sesuatu yang sesak di dalam hatinya, walauoun Agnia tahu itu bukan cinta seperti yang dia rasakan pada Zian, namun melihatnya dengan Serly juga seakan tidak rela.


Regi menatapnya dari balik helm fullface miliknya, hingga Agnia tidak sadar jika dia memperhatikannya dari jauh.


Regi menyerahkan helm pada Serly, tak lama kemudian Serly naik ke atas motornya. Dan melewati Agnia begitu saja tanpa menyapa ataupun hanya membuka helmnya saja.


"Nia? Gak salah lihat kan kita? Si Regi bahkan gak nyapa kita!" seru Nita dengan kesal, dia berkacak pinggang dengan terus melihat Regi dan juga Serly yang melaju ke arah gerbang sekolah.


"Ini pasti ada apa apa nya nih antara mereka!"


.

__ADS_1


.


Hai readers terlope lope akoh ... makasih banget buat dukungannya yang luar biasa buat karya othor yang receh ini, maaf komen komen yang othor baca tapi gak sempet bales yaa. Othor masih mengriweh di RL, jadi belum bisa up banyak apalagi crazy up, takut othor nanti crazy kwwkkwk... jangan lupa mampir juga di karya othor yang lain yaa..


__ADS_2