
"Jadi ... selama ini?"
"Lihat saja bentar lagi dia bener-bener ancur."
"Lo psyco kayaknya Vin!"
Mereka berdua tertawa, "Yes I'm! "
Agnia jelas mendengar percakapan mereka namun dia tidak bisa melihat siapa lawan bicara Vina, karena posisinya terhalang oleh tubuh Vina.
"Lo gak takut nanti ketahuan?"
"Gak ... kan ada si Serly yang gue kambing hitamkan! Lo tahu bac hot nya dia ngatain gue, beuuhh ... parah! Dah pengen gue tonjok aja tuh congor-nya!"
Agnia benar-benar tidak menyangka, jika selama ini Vina yang dia anggap paling baik di antara teman-temannya, bahkan dari pada Serly, namun kenyataannya sebaliknya.
Wajah polos dan meneduhkan itu berhati ib lis, bahkan menyimpan iri dengki yang Agnia sendiri tidak pernah tahu apa penyebabnya.
Sedangkan Serly yang memang sifat dan sikapnya sedikit arogan, ah entahlah semuanya sama saja, sampai gue gak bisa berfikir.
Saat itu juga Agnia berjalan menghampiri Vina, dan seseorang yang benar-benar tidak dia kenal.
"Jadi selama ini, lo pelakunya Vin?"
Vina terperanjat, dia membalikkan tubuh ke arahnya, begitu juga temannya.
"Nia?"
"Iya ini gue! Dan thanks, gue udah denger dan lihat sendiri kebusukan lo Vin! Gue gak nyangka sama sekali!"
Vina tidak memperlihatkan wajah bersalahnya, namun dia berdiri dengan lantang dan suara menyalak, "Bagus deh kalau lo udah tahu! Gue cape pura-pura baik depan lo!"
Plakkk
Agnia mendaratkan tamparan dipipinya, "Ada masalah apa sih lo sama gue Vin, salah gue apa sama lo?"
Vina yang langsung emosi karena ditampar, balik menampar Agnia,
Plaaakk
"Karena gue benci sama lo,"
Rambut panjang Agnia, dia jambak ke belakang, dengan kedua tangan yang di pegang oleh temannya yang ikut maju, dan memudahkan Vina untuk menyiksanya.
Agnia meringis, bahkan ujung bibirnya terasa perih,
"Denger ya Nia! Gue paling benci sama lo karena lo sok cantik!" ujarnya dengan memegangi kedua pipi Agnia.
__ADS_1
Agnia semakin meringis, saat kuku jari Vina menekan keras pipinya, "Lo sakit Vin! Bener-bener sakit!" ujarnya dengan suara yang tertahan.
"Gue? Sakit...?"ucapnya lantas tertawa jahat.
"Memang benar! Gue selalu benci sama orang yang sok baik kayak lo, sok cantik!" melepaskan cengkeraman nya dengan kasar.
Vina kembali memukulnya secara brutal, begitu juga dengan teman yang membantunya, membuat Agnia tersungkur,
"Cabut Sit...!"
Vina dan temannya pun masuk ke dalam rumah, dan mereka meninggalkannya begitu saja.
.
Dengan susah payah dia meninggalkan rumah Vina, sekali lagi dia kecewa, pada orang-orang terdekatnya, pada keadaan yang tidak sekalipun mendukungnya, tidak memberinya kebahagian walau itu sedikit.
Dia terus berjalan, menahan perih diwajahnya dan beberapa bagian tubuhnya yang legam. Di bawah rintik hujan yang turun membasahi bumi, diiringi dengan petir yang terlihat mengkilat di langit gelap.
"Gue harus kemana? Gue gak punya tujuan."
Drett
Drett
Ponsel yang berada di tasnya berbunyi, Agnia segera mengambilnya dan memeriksa siapa yang meneleponnya.
"Mami?"
"Ha---,"
"Nia, kemana kamu? Kamu sengaja kan ngambil kartu identitas dan uang pada dompet diatas meja?"
Agnia terdiam, apa yang terjadi bukan apa yang dia bayangkan sebelumnya. Ibunya sudah tidak peduli padanya.
"Nia ... halo Nia! Mami gak ngajarin kamu seperti itu ya! Nia jawab Mami."
Air mata tidak dapat terbendung lagi, dan meluncur dengan sendirinya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini, bahkan rasa perih dari luka ditubuhnya belum seberapa.
"Nia ... astaga! Kamu tidak dengar Mami, cepat pulang! Mau jadi apa kamu...."
Karena sudah tidak tahan mendengarnya, Agnia memutuskan sambungan telepon sepihak, lalu memblok nomor ibunya sendiri.
"Maafin Nia Mi! Tapi Nia rasa cara yang terbaik saat ini."
Dia kembali berjalan, menghiraukan hujan yang semakin lebat, dia tetap menerobosnya menikuti langkah kakinya sendiri.
.
__ADS_1
Sementara Zian uring-uringan sebab Agnia ternyata tidak pulang ke rumah, padahal dia sudah lama menunggu. Sekretaris Kim pun dibuatnya bingung, dia sudah biasa jika Zian marah padanya, namun kali ini Zian marah sekali.
"Ayana Hakim ... kau tidak becus mengurus hal ini!"
"Bukan aku yang tidak becus, tapi memang Agnia sendiri yang memutuskan pulang ke rumahnya!"
"Jemput paksa saja dia!!"
Kim mendelik, "Kenapa, kau ingin sekali dia disini! Apa kau menyukainya?"
Zian menggebrak meja, "Jangan gila, mana mungkin aku menyukai gadis kecil itu, ini hanya semata-mata perjanjian kita belum selesai! Dia akan aku tuntut, karena memutuskan perjanjian secara sepihak." pungkas Zian panjang lebar.
Kim menggelengkan kepalanya namun juga mengulum senyum, sosok Agnia perlahan membawa perubahan untuk Zian, lebih emosian dan juga marah karena hal tidak jelas. Namun baginya, itu lebih baik dari pada lemah dan tidak berdaya, seperti selama ini menjalin hubungan bersama Anindita.
"Baiklah aku akan menyusulnya!" ujar Kim, lalu beranjak meninggalkan rumah Zian.
Zian ikut berdiri, "Kim aku ikut!"
Keduanya masuk kedalam mobil dan melaju keluar.
"Kau mau bilang apa saat ke rumahnya?" tanya Zian.
"Ya aku akan mengatakan hal yang sebenarnya saja, kalau bos ku ini menginginkan dia tetap berada disisinya. Apa istilahnya sugar ... ya, Hm ... like a sugar daddy."
"Sialan kau!!"
"Kau yakin dia bisa ikut dengan kita?" ujar Zian dengan serius.
"Entahlah Bos, mungkin tidak! Apalagi diluar saat ini hujan, gimana kalau dia masuk angin! Kan gak lucu ...."
"Kalau begitu aku akan menuntutnya saja! Bagaimana menurutmu?" tukas Zian.
Aku yakin kamu tertarik pada Agnia, hanya ssja kamu terlalu gengsi mengakuinya bos. Batin Kim.
"Sudahlah biar aku yang mengurusnya!"
Hujan semakin deras, mobil yang di kemudikan oleh sekretaris Kim melesat dengan cepat, dan menyiprat genangan air pada seseorang yang tengah berjalan di tengah derasnya hujan.
"Settan ... kenapa gak sekalian aja tabrak gue! Bang sat!!" Serunya ditengah hujan, pasalnya genangan air itu bercampur dengan lumpur dan menyebabkan pakaiannya penuh dengan lumpur.
Sekretaris Kim menatapnya dari spion, jelas sekali pendengarannya, dan sepertinya dia mengenal suara itu.
"Biarkan saja dia Kim! Paling dia akan meminta uang pada kita! Tidak aneh, banyak sekali orang seperti itu!"
"Ayo sudah jalan lagi, semakin malam nanti kita kesana! Dia pasti sudah tidur." sambung Zian lagi.
"Itu Agnia...." ucap Sekretaris Kim, dia mencari payung dan hendak membuka pintu.
__ADS_1
Zian menoleh, wajahnya memang tidak jelas karena tertutup sebagian rambutnya, namun postur tubuh yang dia kenali memang mirip dengan gadis yang tengah dia cari.
"Biar aku yang keluar!"