Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 259


__ADS_3

"Dan satu lagi, jangan membuatnya hamil dulu."


Zian mengerutkan dahi, permintaan macam apa yang ibu mertuanya minta. Setiap pasangan yang sudah menikah sudah pasti akan mendambakan hadirnya seorang anak, apalagi usia Zian sudah cukup untuk memiliki keturunan. Bahkan rekan rekannya saja sudah memiliki anak.


"Bukan apa apa! Usia Agnia masih terlalu muda Zian, 17 tahun adalah usia yang sangat rentan. Dari kesiapan mental juga alat alat reproduksi tubuhnya." terang Laras kembali.


"Kau bukan dokter Laras! Jadi jangan mengambil kesimpulan semudah itu."


"Aku memang bukan seorang dokter Zian! Tapi aku bicara sebagai seorang ibu. Kesiapan mental itu penting bagi calon ibu. Agar tidak terjadi hal hal yang kita takutkan! Keguguran atau bahkan kematian ibu saat melahirkan. Belum dengan mental Agnia yang masih labil, ditambah aku ingin dia menggapai cita citanya terlebih dahulu. Aku rasa kau pasti lebih paham Zian."


"Kau tenang saja! Apa yang kau takutkan tidak akan terjadi, jadi jangan menggunakan alasan itu. Ilmu kedokteran kita sudah semakin canggih, bahkan banyak diluar sana seorang ibu muda yang berusia sama tapi bisa tetap berkarya, bersekolah tinggi bahkan sukses tanpa harus menunda kehamilan. Anak bukan alasan seorang wanita untuk maju dan berkarier Laras! Kau dan Dave saja berusia muda saat itu bukan?"


"Aku tahu itu! Lalu bagaimana dengan mentalnya Zian?"


Zian terdiam, memang benar juga apa yang dikatakan oleh Laras, namun dia tidak ingin membebani fikirannya maupun fikiran Agnia dengan hal hal semacam itu. Dia tetap meyakini sekarang atau nanti saat itu akan tiba dan akan membuat kehidupan mereka semakin sempurna.


"Setiap wanita sudah diciptakan sesempurna mungkin untuk siap jadi seorang ibu, kesehatan mental bisa dijaga, membuatnya bahagia, mendukungnya, mendorongnya bahkan selalu ada untuknya. Bukankah itu menjaga kesehatan mentalnya? Kita bisa konsultasi dengan dokter, psikolog juga banyak. Jadi tidak ada alasan yang masuk akal untukmu melarang kebahagian kami. Dan aku pastikan hal hal yang kau takutkan tidak akan terjadi Laras." terangnya panjang lebar. "Apa kau sudah bertanya padanya langsung dan mendengar jika dia memang benar benar tidak siap?" tanyanya kemudian.


Laras kali ini terdiam, segala kekhwatirannya bisa Zian jawab, tidak ada alasan lagi untuknya melarang keduanya.


"Aku pikir pembicaraan ini sudah cukup! Aku harus pergi." Zian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan kerja, sementara Laras membisu dalam duduknya.


Zian keluar dengan mendengus kasar. Lalu melangkahkan kedua kakinya naik ke atas tangga menuju kamarnya namun tidak mendapati Agnia didalam kamar, hingga dia kembali keluar dan mencarinya.


Sementara Agnia baru saja keluar dari pintu belakang, setelah berhasil menemukan kura kura milik Aya yang membuat gadis kecil itu menangis.


"Mom ... udah selesai?" tanyanya saat melihat Laras keluar dari ruangan kerja, dia melihat kedalam namun tidak mendapati Zian ada di dalam.


"Sudah sayang! Mommy langsung pulang ya Nak. Kabar daddy juga sudah kita dapatkan!" ujarnya memeluk Agnia dengan erat. "Jaga dirimu sayang, kabari mommy kalau ada apa apa." ujarnya lagi.


Agnia mengangguk, "Mom juga!"


Zian hanya berdiri diatas tangga, dia enggan untuk turun dan bertemu muka dengan Laras, wanita itu meliriknya sebentar lalu berjalan keluar dari rumahnya. Hingga Agnia yang mengantarkannya kembali masuk, Zian barulah turun.


"Mommy tadi bilang apa?" ujar Agnia dengan penasaran.


"Tidak penting, hanya pekerjaan."


"Hanya pekerjaan?"


"Hm ...!"


"Nia gak percaya! Kalau hanya pekerjaan, kenapa gak mau Nia denger coba?"


"Itu benar Nia sayang, hanya pekerjaan saja."

__ADS_1


Keduanya kembali naik ke atas, dengan berjalan beriringan dan juga saling menggenggam tangan. Zian menatap gadis berusia 17 tahun disampingnya itu. Memikirkan perkataan ibunya tentang mentalnya.


"Aku tetap gak percaya kalau klian hanya bicara pekerjaan." ujarnya bersikeras. Hingga keduanya lalu masuk kedalam kamar.


"Astaga ... Kenapa kau tidak bisa percaya sedikitpun!" tukas Zian mengusel kedua pipi Agnia.


"Iihh ... sakit!"


Zian tertawa, dia lantas ke kamar mandi sedangkan Agnia duduk di meja rias. Membuka laptopnya untuk mengecek email yang masuk mengenai pengumpulan data data ke pihak universitas.


Zian keluar dan memeluknya dari belakang, mencium aroma shampo khas miliknya dari rambut panjang yang sengaja digulungnya ke atas.


"Kapan ke universitas?" tanyanya dengan mengecup kepalanya sekali.


"Ini aku lagi ngecek ... tapi kok belum ada."


"Mungkin karena kamu lebih dulu keterima disana, jadi lama. Soalnya yang lain kan masih seleksi baby!"


"Iya juga yaa!"


"Memang iya." Zian kembali mengecup kepalanya.


"Baby!"


"Hm!!"


Agnia menolehkan wajah ke arahnya, "Apa?"


"Apa?" Zian justru bingung sendiri.


"Apaan sih gak jelas banget?"


"Kalau ternyata kau benar benar hamil bagaimana baby?" ujar Zian ragu.


"Gimana apanya? Ya nanti perut Nia bakal buncit!" jawabnya dengan asal.


"Baby siap?"


Agnia tidak menjawabnya, dia justru membalikkan tubuhnya ke belakang, "Kalau gak siap jadi orang tua, Hubby jangan sentuh Nia dong!"


Kedua pupil mata Zian melebar, kenapa Agnia berfikir jika dirinya lah yang tidak siap. Justru Zian hanya ingin memastikan saja jika ketakutan Laras tidak akan terjadi.


"Kau benar juga baby! Aku benar benar selalu kalah bicara denganmu sekarang!"


"Masa! Gak percaya aku!"

__ADS_1


"Baby I love you so much!" bisiknya di telinga Agnia, gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada Zian, menghirup aroma maskulin yang membuatnya tenang.


Zian menengadahkan wajahnya hingga menghadap kearahnya, lalu mengecup keningnya lama. "My love my life my sunshine."


Agnia terkekeh, lalu bangkit dari duduknya dan duduk di tepi ranjang. "Apaan dih!"


Zian menghela nafas, menatap ke arah Agnia yang sudah berpindah tempat duduk. Gadis itu mengoleskan hand and body ke tangan dan kakinya. Bagaimanapun juga Agnia memang masih seorang remaja. Walaupun dlkadang pemikirannya kadang lebih dewasa.


Zian ikut naik ke atas ranjang dan terus memperhatikan sang istri yang sibuk mengolesi tangannya.


"Biar aku membantumu!" Zian mengambil botol hand and body miliknya.


Pria berusia matang itu mulai mengoleskan hand an body ke tangan Agnia, dan memberikan pijatan lembut saat membalurkannya.


"Baby!"


"Hm ...!"


"Setelah urusan kampus selesai, kita akan secepatnya mengurus resepsi pernikahan."


"Oh!"


"Hanya oh?"


"Terus mau bilang apa?"


"Kamu tidak merasa ini sangat menarik dan mengagumkan. Memakai dress indah yang menjuntai panjang, di iringi musik wedding. Dan impian pernikahan yang kau inginkan baby?"


Agnia menghela nafas, entah kenapa dirinya selalu berbeda, saat teman temannya masa kecilnya sibuk dengan cita cita pernikahan impian mereka dimasa depan, namun tidak dengan Agnia. Dia tidak memikirkan hal itu.


"Pernikahan impian?"


Zian mengangguk, "Apa pernikahan impianmu?"


"Gak ada!" jawabnya enteng.


"Kenapa?"


Agnia mengerdikkan bahu, "Gak tahu! Mungkin karena dulu Nia lihat pernikahan Daddy dan mommy yang tidak jelas!" ujarnya dengan enteng.


"Tapi sekarang berbeda baby. Dengan ku semuanya akan serba jelas, fikirkan tentang hal itu. Aku akan mewujudkannya untukmu!"


.


.

__ADS_1


Tiga bab yesss ... makasih buat yang masih terus dukung karya receh othor ini. Lope lope badag buat kalian. Lanjut besok yaa.


__ADS_2