
"Heh ... mau apa Om?"
Zian tak menggubris perkataan Agnia, setelah membuka semua kancing kemejanya, dia melinting lengan kemeja hingga beberapa lipatan.
"Kenapa? Kau fikir aku akan pamer dada ...?" tanyanya saat melihat kedua mata gadis kecil disampingnya membola.
Kufikir dia hanya mengenakan kemeja tanpa ada apa-apa didalamnya, ternyata si tua ini pakai kaos juga di dalam.
Agnia menggelengkan kepalanya, dia merasa lega karena ternyata Zian memakai T-shirt.
"Gimana? Apa terlihat lebih muda sekarang?" tanya Zian lagi.
Agnia hanya melirik sebentar, lalu mengulum senyum, "Ya terlihat lebih muda sehari saja,"
Zian berdecak, dan kembali melajukan mobilnya, "Cuma sehari, padahal aku fikir dengan kemeja yang dilinting begini cocok sekali dan terlihat muda."
"Ribet ... kenapa harus pakai kemeja! Kaos saja sudah cukup! Lagi pula ... sama saja! Om itu sudah tua!"
"Ya baiklah ... aku sudah tua! Jadi aku tidak perlu melakukan hal ini!"
Agnia hanya mengerdikan bahu, sebagai jawaban jika dia tidak peduli sama sekali.
"Memangnya Om mau keluar dari mobil?" tanyanya pelan.
"Tentu saja ... aku sedang senggang, jadi aku putuskan untuk melihat sekolahmu, mungkin berbincang-bincang sedikit dengan teman- teman mu atau gurumu?"
Agnia kembali menoleh, "Untuk apa? Memangnya penting? Nanti malah dikira gue beneran---"
"Memang iya ... aku menyewamu lebih lama untuk itu!"
Bugh
Agnia memukul lengan pria yang berubah narsis sejak pagi itu, "Heh ... gue gak bilang setuju ya, 3 hari sudah lewat, pacar Om juga sudah pergi! Dan perjanjian kita selesai."
Namun Zian berhasil menangkap tangannya, dia justru dengan sengaja menggenggam jemari yang tidak seberapa itu hingga tak terlihat karena Zian menangkupnya.
Sekian detik kedua tangan itu saling bersentuhan, hingga Agnia tersadar dan menarik tangannya, "Benar-benar pria me sum!"
"Kau tahu arti kata me sum? Coba jelaskan padaku? Kau fikir semua yang aku lakukan itu hal me sum?"
"Tahu lah ... kata me sum itu adalah Ziandra Maheswara." ujarnya tergelak.
Membuat Zian menatapnya dengan lekat, baru kali ini dia melihat Agnia yang tertawa, sangat cantik dan mampu membuat hatinya bergetar.
"Lalu apa yang pria-pria hidung belang lakukan terhadapmu hem? Jika pria seperti ku saja kau anggap me sum." tanya tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Agnia.
Gadis kecil yang tengah tertawa itu seketika berhenti, dan mendelik pada Zian. "Udah gue jelasin berkali-kali, gue itu bukan cewe macam itu."
Zian mengangguk-nganggukan kepala, "Tapi aku tetap tidak percaya!"
__ADS_1
"Terserahlah ... terserah apa kata lo dan keluarga lo."
"Bisa tidak kata sapaan untuk orang lebih tua kamu ganti? Kedengarannya risih dan tidak sopan...."
Agnia tidak menjawab, dia memilih mengeluarkan headphone dan memasangnya di telinga, dia memutar lagu dengan bibir yang masih mengerucut. Membuat Zian menghela nafas panjang.
Tak lama kemudian, mobil berhenti didepan gerbang sekolah, Agnia melirik kesegala arah dan memastikan semuanya aman, baru dia keluar dari mobil, "Makasih udah nganterin gue!"
Agnia masuk kedalam gerbang, tanpa menoleh lagi kebelakang. Dia berjalan ke arah kelas,
"Itu dia...."
"Dasar cewe munafik, mau menyanggah apa lagi sekarang?"
"Benar ... dia bersembunyi dibalik wajah tanpa dosa, padahal kelakuannya bejad."
Beberapa kalimat sindiran cukup terdengar ditelinganya, membuat Agnia merasa aneh dan tidak enak hati. Apalagi saat melewati segerombolan siswa yang berkumpul di depan papan mading.
"Nia ... huuuuuuuu." terdengar beberapa orang mulai menyorakinya.
Agnia mulai bingung, dia langsung menerobos sekumpulan orang-orang untuk melihat apa yang mereka lihat.
"Minggir- minggir gue mau lewat!" ujarnya.
Agnia menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat, foto dirinya yang baru saja keluar dari mobil milik Zian dengan ukuran besar yang menempel di papan pengumuman sekolah, dengsn sosok pria yang membelakangi kamera, hanya wajah Agnia yang terlihat jelas di foto itu.
"Huuuu ... jijik banget sih!"
"Hooh ... munafik!"
Agnia menatap orang-orang yang kini mengelilinginya, dengan cibiran dan perkataan yang jahat dari mulut mereka.
"Gue salah apa di mata kalian? Foto ini tuh belum tentu bener ya!" tukasnya dengan kesal.
Serly dan Vina bergegas menghampirinya, mereka merasa harus menolongnya.
"Nia ... lebih baik kita pergi kita pergi dari sini!"
ujar Serly dengan menarik tangannya.
Agnia menepiskan tangan sahabatnya itu, "Ini semua kerjaan lo kan? Lo yang ngambil foto gue dan lo sebar kayak gini? Tega banget lo sama gue,"
Serly terhenyak, dan menatap Agnia, "Nia ... apa! Gue tidak tahu menahu tentang hal ini, Nia!"
"Lo fikir gue percaya sama lo? Lo sebenarnya iri kan sama gue! Jadinya lo ngelakukan hal menjijikan seperti ini?"
"Enggak Nia ... enggak, demi tuhan gue gak ngelakuin hal ini."
Agnia mendecak, "Mana mungkin lo ngaku!"
__ADS_1
"Gue memang bener-bener gak tahu Nia! Gue gak ngelakuin hal itu."
Serrrtttttt
Agnia mengambil foto yang menempel dan merobeknya menjadi beberapa bagian kecil,
"Bubar ... bubar! Kalian ini kenapa malah nontonin." seru Adam yang baru saja datang dan melihat Agnia dan Serly yang tengah bertengkar.
"Lebih baik kalian bicara ditempat lain, kalian bisa jadi tontonan kalau disini!" sambung Adam kembali.
"Ini gara-gara lo juga! Gara-gara kalian gue yang jadi korban!"
"Maksud lo apa Nia?" Serly tidak terima dengan tuduhan sahabatnya.
"Gak usah sok, deh lo!" sentaknya lagi.
Adam menarik lengan Serly yang sudah mulai terpancing emosi, "Serly ... jangan ladeni dia!"
Serly menoleh ke arah Adam, "Apa ... kamu belain dia?"
"Sudah ... jangan pada ribut! Adam bener, lebih baik kita bicara ditempat lain."
"Diem lo, siapa yang suruh lo ngomong anj ... cupu!" teriak Serly.
Vina menundukkan kepalanya, dengan mengepalkan tangan dia berlari dari sana.
"Lo emang sakit Serl, gak puas lo jebak gue, sekarang lo nyakitin Vina?" kata Agnia.
"Heh ... gue ngomong apa adanya, dia emang cupu, dan soal foto lo, sumpah demi apapun bukan gue yang lakuin."
"Gue gak nyangka punya sahabat kayak lo Serl, udah salah tapi tetep nyangkal. Kalian berdua emang pasangan serasi."
Serly dan Adam tiba-tiba terdiam, dengan mata yang membola.
"Kenapa ... kalian kaget karena gue tahu kalau kalian berdua itu pacaran, dibelakang gue? Padahal gue gak masalah tuh,"
"Nia ... sorry! Gue gak ada maksud apa-apa tentang hubungan gue sama Adam, gue bisa jelasin hanya---"
"Udahlah ... gue juga gak peduli tentang hubungan kalian, tapi kenapa mesti nyebarin foto-foto gue?"
"Gue ... gue---"
"Yang tahu kemana gue pergi cuma lo Serly, lo masih mau nyangkal juga!"
"Gue benci sama lo Serl, lo bukan lagi sahabat gue, lo juga Dam! Kalian emang brengsekk." ujar Agnia dengan mendorong bahu Serly, hingga terhuyung, dan untung saja Adam menahan tubuhnya.
Agnia berlari menuju gerbang sekolah, dia sudah enggan masuk ke sekolah, dengan berderai air mata dia terus berlari namun seseorang menghalau langkahnya.
"Nia ... apa yang terjadi?"
__ADS_1