
"Gi ... lo mau nolongin gue gak?"
Regi menarik Agnia hingga terduduk di sampingnya, "Lo itu sebenarnya kenapa? Gue yakin lo ada masalah, dan lo gak mau cerita, tapi lo minta gue bantuin lo?"
"Iya gue pasti cerita ke lo, tapi gak sekarang!" Agnia melirik jam di tangan Regi, lalu dia kembali bangkit, "Nanti jam 7 malam, lo jemput gue disini ya! Inget jam 7 malam! Gue cabut dulu."
Agnia buru-buru pergi, sementara Regi menganga menatap kepergiannya, "Gitu doang! Jauh-jauh gue kesini, cuma gitu doang. Anjim Lah!"
"Padahal gue kangen banget sama dia!"
Agnia berlari untuk sampai di rumah Zian, dan menghela nafas saat dia sampai di rumah tepat waktu, lalu mencatatnya di note kecil yang dia bawa.
Lalu berlari mengelilingi rumah Zian dengan melihat ke arah balkon, dan kembali masuk."
"Dari mana kamu?"
Agnia tersentak saat mendengar suara barito dibelakangnya, dia menoleh lalu terkekeh.
"Nia abis lari, olah raga! Rasanya badan Nia sakit semua." ujarnya dengan tangan dan bahu yang dia gerak-gerakan.
Iyan menarik bibirnya ke atas, tingkah Nia yang seperti anak kecil itu sangat menggemaskan menurutnya, sementara Zian harus menahan sesuatu yang dalam dirinya.
"Jelas sakit semua! Kamu kan habis di keroyok!" ketusnya sembari berjalan masuk.
"Dih....! Kenapa dia?"
Agnia pun masuk kedalam rumah, sambil terus melirik jam dinding. Zian berhenti di meja makan, lalu kembali menoleh, " Kau dari mana tadi?"
Agnia mengernyit, "Aku kan sudah udah bilang, aku lari-lari keliling rumah?"
"Sampai tidak sempat makan?"
"Apa Om dari sekolahku?"
Zian menarik kursi meja makan, lalu menuangkan air, kedua mata gadis yang tengah berdiri itu mengikutinya pergerakannya.
"Ya ... dan semua rumor itu atas pelaporan seseorang."
"Aku sudah tahu!" tukas Agnia yang melengos begitu saja menuju kamarnya.
"Kenapa dua tahu tapi tidak mau aku membantunya!"
"Sabar bos, dia masih anak-anak, pendekatanya jelas berbeda dengan orang dewasa.
"Sudah sana pulang! aku tidak akan kemana-mana lagi!"
"Dan satu lagi, bagaimana tentang orang yang kau suruh?"
__ADS_1
"Sudah dilokasi, dan memang benar perhelatan fashion itu ada disana. Tapi pihak disana tidak memberikan info nya sama sekali, dan akan membutuhkan waktu yang lama." jawab Iyan.
"Ya sudah kau boleh pulang."
.
Malam hari.
Sejak dari sore Agnia sudah bersiap-siap, dengan memasukkannya semua yang di butuhkan kedalam tas miliknya, dan tinggal menunggu saja.
Zian yang sengaja mengerjakan pekerjaan kantor di rumah tidak tahu jika Agnia mempunyai banyak rencana di otaknya. Hingga sore tiba dan pelayan rumah pun pulang.
Tinggallah mereka berdua di rumah itu, setelah selesai dengan pekerjaannya, Zian naik ke atas, menatap kamar yang ditempati Agnia lalu ke ke kamarnya sendiri.
.
Agnia turun melalui balkon rumah, menggunakan tali yang dia siapkan sebelumnya, lalu berlari keluar dari belakang hingga ke taman dimana Regi menjemputnya .
Dengan napas terengah-engah, menatap jam tangan dengan waktu yang sudah dia tetapkan.
"Good! Tepat waktu!". gumamnya.
Tak lama kemudian Regi datang menghampirinya, menatap Agnia dengan heran.
"Lo mau kemana sih? Cantik banget."
"Lo bakal tahu nanti! Ujarnya dengan merapikan hoody nya yang menutupi kepalanya.
"Lo ngajak gue nge-date nih ceritanya?"
"Gak ... udah deh yuk buruan!"
Tak lama kemudian mereka sampai satu tempat, dengan penuh kelap-kelip kamu warna warni, juga suara kencang yang membuat degup jantung ikut bergetar, dan juga memekik telinga.
Regi menatap heran, dia tidak menyangka Agnia mengajaknya ke tempat seperti itu, Agnia turun dari motor dan melepaskan helmnya.
"Lo mau tunggu di sini?" ujarnya dengan melangkah masuk.
Regi turun dari motor dan menyusulnya, "Nia ... tunggu, lo gak salah tempat?"
Agnia tersenyum, "Enggak, gue gak salah tempat!"
"Tapi ini tempat bukan buat kita Nia! Lo sering ke tempat begini?" tanyanya lagi.
"Gak baru sekarang, gue udah dikasih alamat nya jadi gue tinggal datang aja." jawab Agnia yang membuat Regi bertambah bingung.
"Kenapa ? Lo heran liat gue ke tempat ini? Lo pasti berfikir rumor itu benar kan?"
__ADS_1
"Gue gak tahu Nia! Rasanya gue emang mau percaya sama lo!"
Agnia terkekeh, "Jadi sekarang enggak percaya gue nih?"
"Gak juga, tahu lah gue bingung sendiri."
Setelah membuat Regi penasaran, Agnia membuka pintu, seorang per pakaian hitam berdiri tegak kemudian mengangguk saat Agnia mengatakan sesuatu.
Gue gak nyangka Nia seperti ini, dan semua gosip yang beredar di sekolah itu benar kayaknya, Agnia seorang simpanan om-om hidung belang. batin Regi.
Agnia berjalan semakin dalam, melewati pintu-pintu yang berjajar, sebagian pintu ada yang terbuka dan juga tertutup. Agniapun bergidig sendiri melihatnya.
Hingga tiba di ujung ruangan, yang terdapat pintu terbuka dan juga gelak tawa pria dan juga wanita.
"Nia ... lo yakin, lo ma---?"
"Gak apa-apa Gi ... gue cuma mau ketemu sama orang, temen gue sih! Kalau lo mau balik, balik aja." ucapnya menohok.
"Enggak lah mana mungkin gue ninggalin lo sendirian."
Agnia tersenyum, "Kalau gitu gue masuk."
Regi pun mengangguk, "Kalau ada apa-apa panggil gue!"
Agnia masuk kedalam ruangan, sebuah sofa panjang terdapat didalamnya, dimana seorang pria berumur tengah duduk dan seorang wanita duduk bergelayut manja dipangkuannya.
"Lo akhirnya datang!"
Agnia hampir tidak mempercayai penglihatannya, pria tua itu menatap tajam ke arahnya, "Akhirnya kau muncul juga! Dasar gadis penipu."
"Daddy ... kita sudah sepakat! Dan aku sudah membayar semua kerugian mu karena dia bukan, bahkan aku berikan doble dan juga servis full untuk hal itu, jadi tidak perlu di permasalahan lagi."
Agnia ingin mengecek pendengarannya tiba-tiba dia merasa jijik saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Cecilia.
Ya Agnia datang ke tempat dimana Cecilia dan Nita bekerja paruh waktu sebagai pelayan, namun jika ada yang memintanya untuk menemaninya, mereka pun mengambil pekerjaan itu.
"Lo gak duduk Nia? Berdiri gitu pegel dan juga lama." ucapnya.
"To the point aja deh!" seru Agnia.
"Wait ... tunggu, lo mau mempermainkan gue lagi? Belum juga lo minta maaf sama doi. Iya kan Daddy?"
"Tentu beib...dia memang harusnya minta maaf sejak lama. Gara-gara mengejar dia."
"Lo dengar, dia mau kau meminta maaf padanya."
Agnia mendengus, "Oke Gue akan meminta maaf sebagai janji gue, dan tepati janji lo...."
__ADS_1
"Deal ...." ujarnya mengambil gelas lalh menenggak cairan hitam di ada diatas meja.
"Om aku ... minta maaf."