Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 39


__ADS_3

"Om aku minta maaf."


"Seharusnya minta maaf saja tidak cukup!"


Pria tua itu mengangguk-anggukan kepalanya, dia menatap Agnia dari bawah lalu ke atas, "Dia masih membuatku penasaran beib!"


"Daddy, semua perjanjian sudah di tertulis di atas kontrak kita, dan aku yang akan membayar semua kerugian bukan, jadi Daddy sudah tidak berhak untuk menagih apapun lagi padanya."


"Sekarang Daddy tunggu di tempat biasa, aku harus mengurus sesuatu dengannya dulu."


"Oke ... aku tunggu disana beib, jangan lama! Aku harus pulang malam ini!" ujarnya dengan mengecup pipi Cecilia.


Cecilia mengedipkan mata, "Oke Daddy!"


Agnia terpaku melihat adegan demi adegan dari mereka berdua, dan juga tidak pernah menyangka bisa melihat sendiri bagaimana Cecilia jika sedang bekerja.


"Oke Nia ... jadi apa yang bisa gue bantu? Apa lo berubah fikiran sekarang?"


"Bukan hal itu, tapi gue pengen lo bantuin gue hal lain." ucapnya dengan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


Trak


Agnia melemparkannya di atas meja, "Gue mau lo cari orang ini sampai dapat! Gue bayar dimuka, sisa nya kalau lo udah berhasil."


Cecilia mengambil kartu identitas itu, lalu melihatnya seksama," Kalau berkaitan dengan duit, gue pasti mau, mau lo apain orang ini?"


"Kasih gue jadwal rutinitas dan kegiatannya!"


Cecilia mengangguk, "Lo mau gue godain dia?"


"Mungkin, kalau diperlukan! Lo tinggal tunggu perintah gue aja!"


Cecilia terkekeh, "Gaya lo, mentang-mentang gak sekolah lo! But jujur ya ... gue suka gaya lo! Lo punya modal besar buat jadi yang terbaik, itu Kalau lo tertarik, lo bisa jadi the best of sugar baby."


"Sorry tapi gue gak tertarik!"


"Ya ... ya ... lo tinggal hubungi gue kalau berubah fikiran, tawaran gue buat lo gak bakal kadaluarsa."


"Thanks Job nya, lo gak bakal kecewa!" sambungnya lagi dengan mengantongi sejumlah uang.


"Satu lagi tugas buat lo! Buat yang satu ini lo ajak Nita."


"Oke, asal sesuai!" ujarnya dengan menggesekkan ibu jari dan telunjuknya.


"Kalian ganggu lagi si Vina!"


"Hei, kenapa? Bukan kah lo yang belain dia, sampai-sampai lo berkorban buat dia!"


Agnia tersenyum datar, "Anggap saja gue sial!"


"Kasian amat lo!"


Setelah sekian lama Agnia berdiri, akhirnya dia mendaratkan pantatnya di sofa, bicara dengan Cecilia yang blak-blakan lebih baik dari pada saat bersama sahabatnya yang munafik.


"Mau juga lo duduk, udah berasa nyaman lo sama gue!" tukas Cecilia menohok.

__ADS_1


"Gak juga, gue pegel aja!"


"Btw anyway busway ... lo tahu gak alasan gue sama Nita gak suka banget sama si Vina itu?"


"Gue gak tahu! Dan gak mau tahu buat sekarang! Karena gue harus pergi, temen gue udah nunggu di luar! Gue cabut dulu."


"Oke Nia, lo tunggu kabar dari gue!"


.


.


Regi masih menunggu diluar menunggu ruangan, dia sudah berusaha mencuri dengar, namun tidak sedikitpun suara terdengar dari dalam, hingga dia tidak dapat mendengar apapun.


Gak mungkin Nia berbuat hal menjijikan seperti ini, pria tua itu keluar saat Agnia masuk, gak mungkin mereka....


"Gi ... ayo!"


Suara Agnia mengagetkan Regi yang tengah melamun, dia lantas merengkuh kedua bahunya, "Lo gak apa-apa kan? Lo gak di apa-apain?"


Agnia terkekeh, "Enggak diapa-apain, gue ketemu temen gue, bukan nyokap gue!"


Agnia berjalan keluar dengan susah payah, karena orang-orang sudah mulai berdatangan dan silih menikmati kehidupan malam.


Regi mengikuti langkah Agnia dari belakang, hingga akhirnya mereka berhasil keluar.


"Emangnya lo sama nyokap lo kenapa?"


Agnia terkekeh, "Gak apa-apa! Balik yuk!"


Agnia langsung berjalan ke arah motor Regi, begitu juga pria yang menyimpan rasa itu yang mengikutinya.


"Ya gue ceritain sambil jalan!"


Regi mencekal lengannya, "Lo cerita dulu, baru kita pulang."


Agnia meringis, pasalnya Regi menarik lengan yang ada luka, "Aaahhh ... sakit!"


"Sorry, Nia gue gak tahu tangan lo juga luka."


Agnia kenapa sih sebenarnya, kenapa wajah dan tanyanya penuh luka. Walaupun dia tutupi pake hoody, tetep lah gue bisa lihat!


"Lo kenapa sih sebenarnya, gue bener-bener heran sama lo Nia! Muka lo, tangan lo, itu ada banyak luka gitu, bibir lo walau pun udah mulai kering, tapi gue bisa lihat itu Nia! Dan ngapain lo kesini? Tempat ini itu bukan tempat kita, lo mau kena penjaringan polisi?"


"Ih ... si Regi, gue udah bilang, gue cerita nanti nya nanti, bawel banget sih!"


"Ya karena lo gak ngomong, siapa tahu gue. bisa bantu. Ya gak?"


Agnia memegang bahu Regi, dengan senyum yang merekah dari bibirnya, "Thanks ya Gi ... disaat temen-temen gue gak ada, lo ada buat gue!"


"Lo butuh gue peluk?" ujar Regi dengan menepuk dadanya berulang kali.


"No thanks ... masalah ini gak perlu gue tangisi sebenernya, justru gue jadi tahu mana temen mana bang sat!!"


Mereka pun akhirnya pergi dari tempat itu, dan menyusuri jalanan dengan celotehan yang membuat mereka tertawa terpingkal, Regi senang bisa melihat gadis yang dia sukai itu bahagia, walaupun nyatanya kebahagian itu fatamorgana buat Agnia.

__ADS_1


"Jadi lo udah tahu siapa yang nyebarin foto lo dan juga bikin lo di skors dari sekolah?"


"Tahu..., eh btw kemarin lomba gimana?"


"Sekolah gue kalah, yang juara tetep sekolah lo lah, secara ada Adam sang juara, ketua panitia pula, mantap gak tuh! Dia juga suka sama lo! Kalian cocok lah."


"Siapa bilang?"


Dia gak tahu aja, cowo sok cool itu gimana menyebalkannya.


"Dia bilang ke gue, waktu lo berdua datang sekolah gue!"


"Sialan emang tuh orang!"


Mereka terus berbicara di atas motor, hingga tidak terasa, mereka berdua berhenti dilampu merah.


"Jadi lo mau gue anter ke mana sekarang?" tanya Regi saat motor terhenti.


"Taman ya tadi aja, gue tinggal jalan kok!"


"Kenapa gak ke rumah lo aja sekalian?"


"Gue gak tinggal bareng nyokap gue lagi, gue tinggal sama---"


Regi kembali melajukan motornya, setelah melihat warna lampu lalu lintas berubah, membuat Agnia tidak sempat meneruskan ucapannya.


.


Tin


Tin


Tin


Baru saja Regi mematikan motornya, dia dan juga Agnia dikejutkan oleh klakson dari sebuah mobil, lampu mobil menyorot ke arah mereka dengan jelas, dan Agnia kaget saat melihat siapa yang berada dibalik kemudi.


Zian keluar dari mobil, dan menghampiri merka berdua,


"Apa perlu aku tegaskan lagi? Hem ... kau mau melihatku marah Nia?"


Glek


Agnia menelan lidahnya sendiri, padahal dia sudah menghitung perkiraan waktu dari mulai keluar rumah sampai dia kembali lagi ke dalam rumah Zian.


Regi melangkah maju, "Maaf Om ... aku yang salah, bukan Nia."


Zian beralih menatap Regi, dengan pandangan yang tajam. Namun tidak mengatakan apa-apa, Agnia sendiri takut jika Zian marah dan memukul Regi,


"Lebih baik kita pulang," Agnia lebih baik mengalah saat ini.


"Kita pulang Nia!" ujarnya dengan kembali masuk ke dalam mobil.


"Gi ... gue pulang dulu!"


.

__ADS_1


.


Like dan komen yang banyak, author akan up 1 bab lagi hari ini. give juga boleh, vote apalagi. hehe.


__ADS_2