
Hampir seminggu Agnia sibuk dengan ujiannya, namun begitu, Zian selalu menemaninya, dia juga memberikan kiat kiat khusus dalam belajar maupun pelajaran yang Agnia kurang pahami agar istrinya itu bisa lulus dengan hasil memuaskan dan masuk universitas unggulan. Sedangkan Zian harus kewalahan dalam urusan pekerjaannya karena ketiada hadiran sekretaris Kim, namun tidak pernah sekalipun memberi tahu Agnia.
Meeting yang kerap bentrok, ataupun klien yang minta rescejule sedangkan jadwal sudah penuh, bahkan managemen hotel di luar kota yamg harus dia urus juga. Zian tidak lagi bisa menerima laporannya saja seperti hal hal yang biasanya di urus Kim kepadanya, namun saat ini dia sendiri yang mengurusnya sampai hal terkecil pun.
Setelah menemani Agnia belajar untuk ujian terakhirnya besok, Zian masuk kedalam ruang kerja, dimana segala urusan kantor dan pekerjaannya ada disana.
Helaan nafas panjang terdengar saat Zian mendaratkan beban tubuhnya di kursi kerja miliknya, dengan setumpuk berkas yamg sengaja dia bawa dari kantor agar bisa diselesaikannya di rumah.
Zian menatap foto Mahesa yang terpangpang di dinding, disampingnya juga ada foto dirinya dan juga Kim saat masih kecil.
"Kim ... ada apa sebenarnya? Sampai kamu harus pergi seperti ini?" gumamnya sendiri, mengingat setiap ucapan dan tingkah Kim sampai terakhir dia pergi, namun tidak satupun perubahan dari Kim yang bisa Zian rasakan, kecuali saat terakhir Kim merapikan dasinya.
Sedangkan Agnia yang masih berada didepan laptop yang menyala, kedua maniknya sudah lelah, dia pun hanya merentangkan tangan ke atas, lalu menekan kepalanya ke kiri dan ke kanan bergantian.
"Ayo Nia ... tinggal sehari lagi!" ucapnya memberi semangat pada dirinya sendiri, walaupun sesudah ini dia harus kembali berjuang di ujian masuk universitas dengan masuk jalur prestasi. Agnia tentu saja tidak membuang kesempatan yang diberikan pihak sekolah padanya, karena mengikut sertakannya pada ujian universitas unggul, selain beasiswa, ini juga kesempatan besar karena jika dia lolos, sudah dipastikan dia akan diterima tanpa harus ikut ujian lagi.
Hampir jam sembilan malam, gadis itu baru saja menutup laptop miliknya, namun Zian tidak juga kembali dari ruang kerja, hingga Agnia memutuskan menyusulnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Agnia mengetuk pintu berwarna coklat itu, namun tidak ada jawaban dari dalam hingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam. Terlihat Zian tengah tertidur dengan posisi duduk bersandar di kursi kerja, dengan kedua mata yang terpejam. Agnia menatapnya dengan nanar, terlihat jelas wajah Zian yang tampak kelelahan.
Agnia menggulung rambutnya hingga ke atas lalu mengingatnya menjadi satu, tatapannya tak teralihkan pada coretan coretan buku Agenda yang Kim berikan padanya, juga ipad yang baterainya hanya tinggal 10 persen lagi itu. Agnia mencari alat charger dan menemukannya, tanpa pikir panjang dia pun menchargernya.
Tak ingin membangunkan Zian, dia pelan pelan mengambil buku Agenda milik sekretaris Kim dan melihatnya, lembar demi lembar dia buka. Namun dahinya mengernyit karena melihat jadwal jadwal yang berantakan dan hanya sedikit yang bisa dia mengerti.
Kamu pasti bisa Nia, belajarlah dengan giat.
Hingga hampir setengah jam Agnia duduk tanpa melakukan apa apa, dia hanya membolak balikkan catatan Zian, lalu kemudian menguap, hingga tak bisa dia hitung lagi berapa kali dia menguap saat itu.
"Mana gak bangun bangun lagi! Kalau dibangunin kasian," Agnia menopang dagu dengan kedua tangannya menatap Zian yang masih terlelap.
Sekali lagi gadis itu menguap, tanpa sadar menaikkan kedua kakinya di atas sofa, kemudian malah ikut tertidur.
__ADS_1
Zian mengerjapkan kedua matanya, saat melihat sang istri tertidur diataa sofa. "Kapan dia masuk kesini? Sepertinya aku lelah, sampai ketiduran." gumamnya dengan kedua mata beredar mencari ipad miliknya.
Zian mengulim senyuman, baterai ipad yamg sebelumnya tinggal sedikit itu kini sudah penuh.
"Istri pengertian." gumamnya seraya mengangkat tubuh Agnia, dia kembali ke kamar dengan menggendong Agnia yang masih tertidur pulas, membaringkannya diatas ranjang lalu menarik selimut hingga menutupi bagian leher Agnia. Dengan lembut dia mengelus pipi sang istri, lalu mendaratkan ciuman hangat di kening, kedua mata yang tengah tertutup, hidung dan terakhir si bibirnya.
"Good Night my universe."
"Good Night my superman." gumam Agnia menyipitkan satu matanya lalu terkekeh.
"Hei ... kau tidak tidur?"
"Tidur! Tapi aku kebangun gara gara wajahku geli karena bulu bulu ini!" Agnia menyentuh dagu Zian yang sedikit kasar.
"Benarkah? Bukan karena kau merindukanku? Hem ...?"
Agnia membulatkan maniknya, seraya mencubit pinggangnya, hingga Zian menringis, dan membalas mencubit kedua pipinya lembut.
__ADS_1
"Iihhh masih mesum aja!"