
"Bukan urusan lo!!"
"Heh ....!"
Cecilia menyenggol lengan Nita, "Lo denger kan Nit? Gak salah dia panggil kayak gitu sama Om nya sendiri."
"Huum ... apa jangan-jangan dia bukan Om nya beneran?"
Cecilia menatap dalam ke arah Nita, "Maksud Lo?"
Kedua nya saling menelisik, seolah mereka bercerita dengan bahasa kalbu tentang Om dan keponakan yang kini berada di hadapan mereka.
Sementara Agnia tersungut-sungut, saat Zian berada di sampingnya, bibirnya terkatup rapat tanpa kata yang keluar.
"Udah merasa baikan? Lain kali jangan makan terlalu pedas seperti ini, ingat kamu punya penyakit lambung. Kalau sakit nanti bagaimana Hem?"
"So perhatian sekarang!" gumam Agnia.
Membuat kedua orang temannya itu semakin heran karena sikapnya terhadap Zian.
Zian tersenyum kecut, dia harus sabar menghadapi sifat Agnia yang keras kepala, ditambah dia juga yang salah karena bersikap seenaknya terhadap gadis berusia 17 tahun itu, apalagi soal pengusiran yang sudah pasti membuat Agnia sakit hati.
Tangannya terulur membelai rambut panjang Agnia, "Maafin Om, karena sudah mengusir Nia tempo hari."
Agnia hanya berdecih dengan menepis tangan Zian dari kepalanya. Mentang-mentang mengaku ponakan, dia semakin berani nyentuh gue.
Cecilia dan Nita saling pandang lagi, Agnia memang keras kepala begitu karena sempat diusir? pantesan saja ngamuk.
Huum ... kasian dia pasti sedih, tapi dia sekarang tinggal dimana?
Tak lama kemudian Agnia bangkit dari duduknya, "Sorry guys, selera makanku tiba-tiba hilang, gue ke kelas duluan ya!" ujarnya lalu keluar begitu saja.
"Om sebenarnya kenapa Om mengusir Agnia?"
Zian menatap keduanya bergantian, "Tugas kalian hanya mencari tahu di mana Nia tinggal saat ini!"
Zian bangkit lalu kembali keluar dari kantin, berjalan dengan terus menatap punggung Agnia, lalu menghela nafas, "Sabar Zian...."
Drett
Drett
Drett
Ponsel Zian berdering di dalam saku celananya, dia pun merogoh saku dan mengambilnya.
__ADS_1
'Ada apa Kim?'
'Datanglah ke kantor pusat, ada sesuatu yang terjadi disini!'
Zian menghela nafas, lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku. Dia pun bergegas menuju tempat dimana mobilnya terparkir, lalu melaju keluar dari sekolah.
Sementara Agnia duduk di kursi dekat taman,
"Nia elah, gue cariin lo ternyata ada di sini?" ujar Nita yang ikut duduk di sebelah Agnia, sementara Cecilia berdiri di depan mereka.
"Lo tuh kenapa sih? Kalau ada masalah, mendingan Lo cerita sama kita, ya gak Nit ... kita udah gak musuhan lagi kan!"
"Cecil bener lagi Nia, lo cerita aja! Siapa tahu kita bisa bantuin lo,"
Agnia menghela nafas perlahan-lahan, "Zian itu bukan Om gue!" gumamnya pelan.
"Hah ... maksud lo?"
"Serius ... dia? Bukan Om lo! Maksudnya bukan keluarga lo?"
Agnia mengangguk, dia pun menceritakan awal mula bertemu hingga sampai akhirnya terjadi pengusiran terhadapnya. Cecilia dan juga Nita hanya terdiam mendengarkan, lalu mengangguk- anggukan kepalanya.
"Pantesan, dia nanyain tempat tinggal lo yang sekarang dimana!" gumam Cecilia.
"Hidup lo udah kayak sinetron Nia! Kalau gue pasti udah gila! Mabok aja yuk mabok!"
"Huum ... yang bedain dia sama kita itu, dia orang kaya, sedangkan kita harus mati-matian nyari sugar Daddy, lah dia dicari bahkan ditungguin kayak anak TK!"
Keduanya tergelak, namun tidak dengan Agnia, dia hanya tersenyum kecut.
"Eh ... sorry Nia! Gue gak ada maksud,"
"Its oke ...lagian yang kaya itu orang tua gue, Bukan gue, percuma juga kaya, tapi gue gak dapet kasih sayang!" lirihnya.
"Nia...!" Nita merengkuh bahu dan memeluk nya, begitu juga Cecilia. Mereka berdua memeluk Agnia.
Sementara di satu tempat, Serly tengah menatap nanar ke arah mereka, "Dulu ... Lo pasti meluk gue Nia, dan bilang gue orang yang paling ngertiin lo!"
Vina mendengus di sampingnya, "Ayolah Serl, Nia itu sudah bukan Nia yang dulu, dia sudah berubah!"
Serly menoleh ke padanya, "Dan ini semua gara-gara lo Vin!! Lo gak sadar? Kita yang bikin dia berubah jadi kayak gitu, lo masih gak nyadar juga, lo it___ ah percuma gue ngomong sama lo!" ujar Serly lalu meninggalkan Vina seorang diri. Sementara Vina hanya menghela nafas panjang.
.
.
__ADS_1
Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kantor, dan alangkah terkejutnya saat tiba disana, ternyata Dita sedang berada disana dan membuat keributan, pihak kantor tidak membiarkan dia masuk, dan menyebabkan dia marah.
"Aku ini calon istrinya, biarkan aku masuk! Aku ingin menemui calon suamiku." teriaknya pada seorang security.
"Maaf Nona Dita, kami tidak diperkenankan membawa Nona masuk! Ini sudah perintah atasan.
"Kau berani padaku? Apa kau tidak tahu siapa aku?" serunya dengan tangan yang sudah melayang di udara.
"Anandita!"
Zian datang bertepatan dengan Dita yang akan menampar security itu. Dia menoleh ke arah belakang, dan tersenyum lebar.
"Baby ... akhirnya kau datang juga! Aku tidak diperbolehkan masuk masa?" ujarnya dengan bibir yang mencebik.
Zian memasang wajah datar, "Pergilah dari sini!
"Baby ... kau mengusirku?"
Zian maju beberapa langkah, "Pergilah, kita sudah tidak punya urusan lagi."
"Dan satu lagi, jangan pernah memanggil ku seperti itu lagi. Aku muak mendengarnya."
"Baby ... please aku mohon, jangan usir aku! Aku tidak akan pernah melakukannya lagi, tidak akan Zian."
Zian tidak menghiraukan perkataan dari Dita, dia sudah tidak ingin peduli, walaupun tidak dapat dipungkiri lagi sesungguhnya cinta Zian masih begitu besar terhadapnya.
Andai saja kamu tidak pernah melakukan kesalahan seperti itu.
Zian masuk kedalam ruangan dan disambut oleh Kim yang tengah duduk di meja kerja.
"Apa kau sudah bertemu dengannya?"
"Huum ...! Lain kali kau tidak usah menghubungiku jika dia ada di sini, memangnya kau tidak bisa menghandle nya sendiri." ujarnya dengan membantingkan tubuhnya di kursi kekuasaannya.
"Iyan berada di ruangannya saat ini, dia tengah membereskan barangnya, sebelum pergi."
"Masih punya muka dia muncul di hadapanku! Berikan dia sejumlah uang dan suruh bawa Dita dari sini. Mereka keterlaluan sekali! Bisa-bisanya datang bersama kemari."
Sekretaris Kim mengangguk, lalu keluar dan menemui Iyan.
Pria itu terperanjat saat melihat Kim masuk ke dalam ruangannya, "Kim...!"
Kim mendaratkan bokongnya di kursi milik Iyan, "Kau memang bodoh selama ini Iyan! Bagaimana bisa kau melakukan semua ini pada Zian?"
"Sudahlah Kim, semua sudah terjadi! Dan aku tidak menyesal." ujarnya dengan terus mengacak laci dan juga tempat penyimpanan berkas.
__ADS_1
"Apa kau mencari ini Iyan?" Ujar Kim dengan mengacungkan sebuah Flash disk.
"Kembalikan, itu milik pribadiku!"