Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 198


__ADS_3

Agnia masih duduk di pangkuan Zian dengan ragu ragu, namun suasana sepi dan juga ruangan itu sudah sengaja Zian kunci dari dalam. Gadis itu tersentak, video yang dimaksudkan Zian pasti video yang dia buat bersama kedua sahabatnya, Cecilia dan juga Nita.


"Video apa?" tanya Agnia berpura pura tidak tahu apa apa, kedua matanya berputar ke kiri dan ke kanan, dia lebih waspada jika ada seseorang yang melihat mereka. Sementara Zian hanya menatapnya saja,


"Ayo pergi ... aku sudah ditunggu."


"Kenapa harus berpelukan? Apakah tidak ada cara lain?" kata Zian dengan tangan terulur, menyempilkan sedikit rambut Agnia ke belakang telinganya, gerakan itu membuat Agnia sedikit bergidig geli.


"Aku tidak memeluknya, dia yang memelukku duluan!"


"Kamu yang memeluknya Nia ... aku sudah melihatnya."


"Om melihatnya?"


Celaka jadi om Zian lihat gue dan Regi saat berpelukan, tapi dia keliatan gak marah. Apa jangan jangan dia nunggu gue yang jujur. Ngetes nih ceritanya. Agnia membatin.


"Saat pertama kali kemari, aku langsung melihatnya, karena aku merasa ada yang aneh! Dan aku tidak melihat dia yang memelukmu duluan justru sebaliknya."


Agnia menggelengkan kepalanya, dia tetap bersikeras mengatakan bahwa dia dipeluk duluan bukan memeluk duluan.


"Gak kok! Aku dipeluk bukan memeluk!"


Zian tampak kesal, sebab video itu sudah dia lihat dan ulang ulang berapa kali. Dan dia dengan mudah bisa mengenali jika gadis yang ada di video itu adalah Agnia, dengan sekali gerakan dia menurunkan Agnia, "Nia kenyataannya begitu! Kau yang pertama memeluk! Dan aku tidak bisa dibodohi!"


Agnia juga kesal, beberapa kali dia menjelaskan jika saat dikantin Regi lah yang menariknya hingga memeluknya duluan.


"Kalau Om gak percaya, om tanya aja sama Cecilia dan juga Nita, mereka juga ada disana kok! Kita makan berempat!"


"Kalian sempat sempatnya makan?"


"Iyalah ... makan, dan berencana nonton bioskop nanti." ucap Agnia jujur, karena dia fikir Zian sudah mengetahuinya.


Zian meraup wajahnya pelan, "Sebenarnya apa harus melakukan hal itu Nia? Bagaimana kalau kamu ketahuan, itu akan membahayakan dirimu dan teman temanmu juga!"


Memangnya bahaya kenapa? Ketahuan siapa?


"Enggak kok!!"


"Terus apalagi?"


"Ya gitu! Kita berempat berencana nonton bioskop, Nita dan Cecilia naik mobil berdua aku naik motor deh berdua! Udah lama juga gak naik motor!"

__ADS_1


Kejujuran Agnia membuat Zian kesal, bagaimana mungkin dia menjebak ayahnya Serly sampai melakukan hal itu.


"Kenapa harus naik motor? Kenapa harus ke bioskop! Setelah selesai itu harusnya langsung lari dan pergi. Bukan malah ingin di bonceng dan nonton film."


"Tapi kan Nia gak ada hubungan sama Regi, meluk juga gak ada perasaan, dia cuma sahabat baik Nia, gak lebih kok! Jadi Om gak perlu marah marah!"


"Hah ...!!"


Zian tercengang dengan apa yang baru saja dia katakan, semua yang dari tadi Agnia ceritakan adalah kejadian dikantin dan saat bertemu Regi, sementara Zian tengah bertanya perihal video ber hastag sugar Daddy vs Sugar baby yang dia lihat.


"Astaga Nia!!!" kedua tangannya menggusel kedua pipi Agnia dengan gemas.


Dia kesal dan ingin marah, tapi kejujuran Agnia serta wajah menggemaskannya membuatnya tidak bisa marah.


"Apa!!"


"Aku bertanya tentang video yang aku lihat dari pak Sopian! Bukan tentang bocah tengil bersuara jelek yang memelukmu!"


"Jadi Om gak lihat kami di kantin!"


Zian bangkit dan duduk bersandar dimeja, kedua tangannya melipat di dada, dengan kaki yang ditumpangkan.


Gadis berusia 17 tahun itu membola, bagaimana tidak, dia mengatakan semua hal dengan jujur, dan berfikir suaminya itu tengah mengetes kejujurannya. Namun ternyata salah.


Bego tahu gitu, gue mending gak usah cerita.


Melihat Agnia terdiam menatapnya dengan pandangan membola, Zian berdehem. "Jadi kamu menyesal mengatakan semuanya, setelah tahu aku tidak melihat kalian."


Agnia menelan saliva pelan pelan, karena Zian seolah tahu buah fikirannya saat itu, dia berjalan mendekat ke arah Zian, dengan memegang kedua tangannya.


"Enggak ... mana mungkin nyesel! Nia cuma kaget, kok kita ngomong panjang lebar ternyata beda jalur ya! Tapi kok pas gitu kan!"


Zian kembali mendengus, "Kamu saja yang ketakutan! Biasanya orang yang berbuat dosa akan merasa dihantui dalam segala tindakannya. Dan untuk yang belum biasa justru malah keceplosan bahkan menceritakannya."


"Siapa juga yang berbuat dosa! Nia hanya jujur kok! Nia gak mau bikin kita salah faham, berantem, marah marah! Gak suka."


Zian mengulum senyuman, "Terus kamu maunya kita apa?"


"Apa sih!!! Gak jelas banget. Udah ah Nia mau pergi nonton bioskop!"


Agnia berbalik arah, dan hendak melangkah.

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkan kamu pergi nonton baby? Apalagi dengan bocah tengil itu!"


"Tapi kan Nia udah bilang tadi, mereka nungguin Nia."


"Bilang saja kau tidak jadi pergi!"


Agnia menggerutu, dia juga kesal. Kenapa sih harus kesini segala, Nia jadi gak bisa main dan nonton! Padahal udah lama juga gue gak pergi hangout bareng temen temen gue.


"Kamu bisa nonton bersama suamimu!" Bisik Zian dari arah belakang.


"Tetep aja gak sama, emangnya seru apa nonton sama om om." ucapnya masih dengan menggerutu seperti nenek nenek dengan mulut komat Kamit, namun masih jelas terdengar oleh Zian.


"Eiith ... kamu menyepelekan seorang Ziandra Maheswara?"


"Mana bisa ... palingan nanti mereka yang lihat kita bakal mikir dan ngomong, lihat itu ada sugar Daddy." ucapnya dengan bibir yang yang mengerucut lalu mencibir.


Zian menghela nafas, "Pokoknya aku tidak mengijinkanmu kemana mana, setelah ini kita akan pulang."


Pria itu menyambar ponsel dari atas meja, pertemuan singkatnya dengan pak Sopian hanya untuk mengklarifikasi foto itu dan juga membicarakan video yang tengah beredar. Setelahnya Zian dan Agnia keluar dari ruangan guru. Agnia mengedarkan pandangannya, mencari ketiga temannya yang menunggunya.


Ketiga sahabatnya itu terlihat tengah duduk di kursi kayu didepan parkiran motor, Agnia melihat Zian lalu kembali melihat ke arah mereka.


"Pergilah! Katakan pada mereka, kamu tidak jadi pergi karena aku melarangmu!"


Agnia merengut, "Kalau bilang begitu! Mereka pasti mikir om itu sebagai paman yang posesif."


"Baiklah kalau begitu biar aku yang mengatakannya!"


Agnia menarik lengan Zian, "Jangan ... biar aku yang bilang! Om tunggu disini. Jangan menyusul apalagi berbuat yang enggak enggak." Ucapnya buru buru melangkahkan kaki, "Awas kalau nyamperin!!" ucapnya lagi.


Zian menggelengkan kepalanya berulang kali, dia hanya berdiri tak jauh dari sana dengan kedua tangan berlipat di depan dadanya.


"Tidak ada adegan peluk pelukan!!!"


Agnia mendengus lalu melanjutkan langkahnya kearah mereka. Cecilia dan Nita menoleh kerarah Agnia yang berjalan semakin mendekat,


"Nah itu dia!"


"Gimana Nia? Lo jadi ikut kan?" tanya Regi.


Ada raut kecewa diwajahnya kini, dan Cecelia sudah dapat menduganya, "Ya udah sih ... kita bisa nonton bioskop lain kali aja gimana?"

__ADS_1


__ADS_2