Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 196


__ADS_3

Benar saja gertakan Cecilia pada Sherly berhasil, beberapa saat setelah Selly keluar dari ruangan konseling, dia mencari Cecilia dan juga Nita. Dengan pergi menuju kelas mereka walaupun di kelas itu tengah berlangsung pelajaran. Cecilia dan Nita menyunggingkan senyuman jahat mereka, karena berhasil mengerjai Sherly habis-habisan.


Serly meminta izin kepada guru yang sedang berada di dalam kelas untuk menemui Cecilia, dan guru itu mengizinkan Cecilia menemuinya di luar kelas.


"Ngapain lu nyari gue? Pikiran lo berubah sekarang? Waktu di depan pak Sopian Lo dengan entengnya nuduh kita bertiga Lo!" "Gue nyari lo bukan buat bahas masalah tadi! Tapi gue mau bilang kalau gue nerima syarat yang lo ajuin!"


Feeling Agnia emang bener, gak nyampe sejam, dia udah berubah fikiran. batin Cecilia.


"Gue udah tahu maksud lo!"


"Tapi lo bener kan bakalan tarik video itu dari sekolah ini!"


Cecilia mengangguk, "Gue bisa tarik tapi setelah lu berhasil lakukin syarat yang gue maksudkan, setelah berhasil Gue bakal hapus oke!"


Serly terdiam, dia harus menyerah setalah memikirkan ibunya. Cecilia menepuk bahunya keras, "Oke lo tunggu kabar dari gue! Gue bakal kirim alamat dan foto Daddy yang harus Lo temenin! Setelah lo berhasil, gue bakal langsung hapus video itu!"


Serly akhirnya mengangguk pelan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Cecilia yang sudah dari tadi menahan tawanya. Dia bisa melihat punggung Serly yang bergetar hingga akhirnya Selly masuk ke kelasnya sendiri. Setelah itu barulah Cecilia masuk ke dalam kelasnya.


"Gimana Ce?" tanya Nita saat Cecilia duduk di sebelahnya.


Cecilia masih menahan tawanya agar tidak menggelegar dan mendapat masalah dari guru, "Berhasil dong! Gue gitu loh!"


"Emang paling jago Lo ngajak orang berbuat dosa!" Nita tertawa.


"Sialan lo!! Tapi iya juga sih, biar kita sama-sama punya banyak temen lah dan melestarikan pekerjaan kita!"


"Bukan itu yang Lo maksud, tapi punya temen banyak biar masuk neraka ya kan!"


Cecilia memukul lengan Nita, "Bego ngomong sembarangan banget! Gue bakal masuk surga tahu, lu aja yang masuk neraka sendiri!" ucapnya lalu bersama-sama tertawa hingga guru yang berada di depan menyorotinya dengan tajam.


"Cecilia ... Nita, apa kalian ingin keluar dari pelajaran ibu? Ketawa ketiwi dari tadi ibu perhatikan."


"Whatever lah!!" gumam Cecilia tanpa suara.


Membuat Nita kembali harus menahan tawanya, "Sekalian Lo ajak noh nenek nenek kali aja ada yang minat!"


Keduanya kembali tertawa, dan guru wanita itu melemparkan spidol white board kearh mereka.


"Keluar dari pelajaran kelas ini!!" seru ibu guru.


Keduanya tampak tidak takut, dengan santai membereskan peralatan sekolahnya lalu melenggang pergi, membuat semua orang didalam sana menyorakinya karena Cecilia malah melambai lambaikan tangan kearah mereka.


"Ce ... gila lo! Kalau gak mau lulus gak usah ngajak gue! Gue pengen cepet lulus terus ngampus setan!" Nita menoyor kepala Cecilia.

__ADS_1


"Eeh ... bego! Siapa yang gak mau lulus, gue mau lulus kali! Gue juga pengen ngampus, biar dapet cowok keren tajir melintir. Bosen gue sama Daddy terus." timpal Cecilia, Nita hanya mendengus lalu duduk di kursi kayu di kantin.


"Terus kita ngapain disini! Cabut aja deh sekalian!" Nita mengerutkan keningnya.


"Kita tunggu Nia bego! Gue pe___," tiba tiba Ceceilia menghentikan ucapannya saat melihat Regi masuk kedalam Kangin, berjalan ke stand juice dan tak lama kembali.


"Gi ... Regi!!" Cecilia memanggilnya.


Regi menoleh, lalu tersenyum. Dia mengayunkan kedua kakinya menghampiri mereka, lalu duduk dihadapannya.


"Ngapain lo kemari? Lo gak nagih bayaran Lo kan?"


"Enggak kok Ce ... gue kesini pengen aja! Bosen gue disekolahan, gue juga udah lama gak ketemu Nia."


"Kirain gue lo mau nagih janji!"


"Lo tenang aja Ce ... selama gue bisa bantu Nia, gue pasti bantuin, gak perlu bayar apa apa! Walaupun lo udah janji!"


Cecilia mengangguk, "Untung Lo gerak cepat Gi ... kalau enggak kita bakal ketahuan tadi!"


Regi mengulum senyuman, sejak kedua gadis dihadapannya mencari Agnia dulu, mereka jadi lebih akrab walaupun tidak berada disatu sekolahan. Regi mahir mengotak ngatik situs internet, bahkan kemampuannya bisa dikatakan sebagai profesional, hingga Cecilia yang menyuruhnya untuk membantu Agnia.


"Iya ... saat Lo tahu yang gue maksud itu Nia kan! Kalau bukan pasti lo gak bakal mau Gi!"


"Iya deh iya ... yang masih belum bisa move on." cicit Nita.


Revi hanya mengulum senyum, walaupun apa yang dikatakan oleh Nita benar adanya, namun dia tidak ingin memaksakan kehendaknya dengan terus memaksa Agnia, karena dia selalu bisa bahagia saat melihat Agnia bahagia. Hanya satu kegundahan hatinya saat ini, kehadiran Zian yang menurutnya terasa ganjil, hubungan keduanya pun dirasa sangat ganjil, terlebih kemarahan Zian saat melihatnya tengah memeluk Agnia sangat berlebihan, dan tidak terlihat seperti seorang paman yang marah.


Namun dia juga belum punya cukup keberanian untuk mencari tahu kebenarannya saat ini, dia takut akan kenyataan yang akan dia terima jika seandainya apa yang ditakutkannya itu benar adanya.


Tak lama lagu sayonara berbunyi nyaring, menandakan jika semua pelajaran sudah usai, dan waktunya kembali pulang.


Agnia yang menerima pesan Cecilia untuk pergi ke kantin buru buru keluar dan menuju ke tempat itu. Dia juga senang melihat Regi berada disana, karena sudah beberapa pekan tidak bertemu dengannnya.


Regi berdiri menyambutnya, "Nia apakabar?"


Agnia mengulurkan tangan ke arahnya, namun bukannya menyambut tangannya, Regi justru menarik bahunya dan memeluk Agnia.


"Kemana aja lo! Sombong amat! Lo kayaknya lupa sama gue!" Ucap Regi ditelinga Agnia.


Agnia mengerjap ngerjapkan kedua matanya, dia tiba tiba tidak bisa berfikir jernih, hanya berdiam diri saat Regi memeluknya.


Nita sampai tersedak minuman karenanya, hingga pada akhirnya Agnia yang terlebih dulu mengurai pelukan Regi.

__ADS_1


"Lo ngapain kemari Gi? Lo gak kabur dari sekolah kan?" Tanyanya masih kikuk dengan apa yang terjadi barusan dengannya.


Mati gue ... rasanya kayak gue selingkuh dari suami gue! Padahal ini Regi, untungnya gak ada kelas tambahan hari ini, jadi dia tidak lelu datang kemari, dan juga pelukan gue dan Regi barusan itu kayak pelukan biasa. Batin Agnia.


Regi menarik kursi untuknya, hingga Agnia duduk disebelahnya. Gadis itu mengangguk lalu duduk.


"Enggak kabur kok! Kan gue udah janji sama Lo kalau kita bakal belajar lebih giat dan lulus bareng bareng! Kalau gue kendor belajar bisa bisa gue gak jadi masuk satu fakultas bareng lo Nia! Secara lo pasti diterima difakultas favorit!"


Nita kembali tersedak, entah kenapa dia jadi merasa iba pada Regi mengingat apa yang telah dia lihat dileher Agnia tadi pagi.


"Lo kenapa sih? Kayak bayi aja, cuma minum aja kesedak Lo!" ucap Cecilia.


"Gak gue gak apa apa!"


Regi menggelengkan kepalanya, namun beralih pada Agnia yang sudah lama tidak dia lihat.


Lo makin cantik Nia, gue kangen sama Lo! Gue kangen kita ketawa ketawa naik motor malem malem. Batin Regi menatap wajah Agnia dengan lekat.


Uhukk


Cecilia kini yang tersedak, melihat seseorang yang dia kenal melewati lorong kantin menuju ke arah selasar gedung.


"Mati Lo ...!!" teriaknya dengan menggebrak meja.


"Siapa yang mati Ce?"


Cecilia menyenggol lengan Nita, dengan kedua mata yang melirik kearah pintu. Namun Nita tidak mengerti apa maksudnya, dia hanya menatap dengan heran.


"Apaan sih??"


"Mati Nit ... mati!!"


"Iya apaa yang mati bego!!" kata Nita yang sama sekali tidak mengerti.


"Daddy ... Daddy noh!" ujarnya dengan terus melihat jendela dimana orang yang dia maksud tengah berjalan.


"Semoga gak ngelihat kesini! Kalau enggak bisa mati!"


Agnia dan juga Regi mengernyit, namun mereka kembali tidak peduli. Terlebih saat ini perut Agnia lebih penting, dia mencukil bakwan dari piring dan menyantapnya dengan sekali suapan hingga mulutnya penuh.


"Astaga ... kebiasaan Lo Nia kalau makan pasti belepotan!" Tangan Regi mengambil tissu makan dan siap mengelap bibir Agnia, namun Cecilia dengan cepat menyambar tissu itu.


"Gue dulu!!! Gue ada ingus!!"

__ADS_1


__ADS_2