Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 287


__ADS_3

"Kau sudah datang?" sapanya pada seseorang saat pintu ruangan meeting terbuka.


"Kau telat 10 menit! Dan aku tahu penyebabnya." kekehnya melirik Agnia.


"Ayolah Carl ... Aku sangat sibuk! 10 menit tidak ada harganya bagimu, kau menganggur di kota ini!"


Carl terkekeh lagi, "Sibuk? I think hope so! Tapi sepertinya kau sibuk urusan lain Zian. Dan aku menganggur di kota ini karenamu dan aku meninggalkan pekerjaanku disana."


Zian menarik kursi dan tergelak, sementara Agnia berjalan ke kursi diseberang, kursi yang terletak di depan layar proyektor.


"Baby ... duduk disini! Aku ingin kau ikut menandatangani sesuatu."


"Aku?"


"Hm ... siapa lagi!"


Agnia kembali mengangkat bokong yang baru saja menempel dikursi, dia mengayunkan kedua kakinya lalu duduk di samping Zian. Carl melirik dengan senyuman ke arahnya.


"Jangan terus melihat istriku Carl! Kau mau mati sia sia hem?"


"Woooh ... galak sekali kau ini! Apa aku harus mencongkel kedua bola mataku sendiri?"


"Iihh apaan sih!" desis Agnia saat mendengar percakapan yang sedikit menakutkan itu.


Carl tergelak, dia lantas mengeluarkan berkas dari dalam tasnya, "Katakan saja apa yang perlu aku tambah atau kurangi!"


"Aku rasa cukup!"


Agnia menyenggol lengannya, mendekatkan wajahnya dan bicara setengah berbisik. "Hubby ... kau harusnya baca dulu dengan teliti! Bagaimana kau bisa percaya begitu saja!"


Zian mengulum senyuman, "Bagaimana kalau kau yang periksa saja hem?"


"Issshh ... kenapa malah menyuruh orang yang tidak mengerti sama sekali." ujarnya dengan menarik berkas dari tangan Zian lalu dia buka.


Apaaan nih ... gue bisa bahasa inggris tapi gak terlalu fasih, Dan ini tulisan bahasa inggris semua, dan gue cuma ngerti sebagian, Surat ... kuasa, apaan nih warisan apa ya? Gak ngerti sama sekali. batin Agnia.


Agnia membaca nya walaupun yang dia mengerti hanya setengah dari kata kata yang tertera diberkas itu. Hingga keningnya saling bertautan.


Atau Om Zian tidak membacanya karena tidak bisa mengerti juga kayak gue? batinnya lagi bicara.

__ADS_1


"Dimana aku harus tanda tangan?" Ujar Zian pada Carl yang tengah mengotak ngatik ponsel miliknya.


"Jangan dulu ditanda tangan! Nia mau periksa dulu." ujar Agnia dengan percaya diri bisa mengatasinya, dan berfikir Zian sama dengannya yang tidak mengerti bahasa.


Gadis itu merogoh ponsel, lalu mempotret tulisan yang tertera agar bisa dia translate.


Zian mengernyit dengan apa yang di katakan oleh Agnia, dia mengulum senyum saat tahu jika Agnia menggunakan aplikasi menerjemah di ponselnya.


"Cukup tanda tangani disini saja!" Ujar Carl yang menunjuk bagian kiri bawah dimana Zian dan juga Agnia harus tanda tangani.


Zian mengangguk, dia menyerahkan bolpint pada Agnia. "Baby!"


"Tunggu sebentar!"


Zian masih mengulum senyuman, "Kau dengar Carl? Ayolah baby! Kita hanya perlu tanda tangan saja."


"Tunggu ini belum selesai!"


Zian mengambil ponsel dari tangan sang istri dan menggantinya dengan bolpint, "Tidak usah ditranslate! Kita masih ada satu meeting lagi setelah ini, tanda tangani saja."


Agnia menghela nafas, "Bagaimana kalau kita di tipu?"


Zian berdecak, "Diam lah kau Carl!" lalu menoleh pada Agnia, "Aku yang membuat semua perjanjian itu baby! Jadi tentu saja aku tahu tanpa membacanya, Carl hanya aku tugaskan untuk membuat legalitasnya saja."


Agnia menoleh pada Carl dengan tatapan yang tidak karuan karena telah menuduhnya yang tidak tidak.


"Menuduh tanpa ada bukti bisa di kenakan pasal pencemaran nama baik!" gumam Carl terkekeh.


"Tidak berlaku untuk istriku Carl! Kau ingat itu!"


"Ya baiklah ... terserah kau saja." dengusnya kearah Zian " Dan kau selalu benar nyonya Zian." tambahnya ke arah Agnia dengan tersenyum.


Agnia mengulas senyuman malu, dan tak lama dia membubuhkan tanda tangan ke atas tempat yang di tunjuk Carl sebelumnya. Setelah itu baru giliran Zian yang menandatangani berkas itu di sebelah tempat Agnia.


"Ini bukan kali pertama aku dituduh seseorang secara sepihak, aku pernah di tuduh sebagai orang yang tidak bertanggung jawab! Bahkan dituduh memanfaatkan situasi." gumam Carl mengingat seorang wanita.


"Benarkah?"


"Hem ... seorang wanita juga! Huuh ...!"

__ADS_1


Drettt


Drettt


Dering ponsel milik Agnia menjerit jerit di dalam saku, Agnia merogohnya lalu bangkit dari duduknya saat tahu siapa yang meneleponnya. "Nia angkat telepon dulu!" Gumamnya pada Zian.


Pria itu mengangguk, lalu mengikuti pergerakan Agnia yang keluar dari ruangan meeting. Tak lama dia bangkit dari duduknya, mencondongkan tubuh dengan kedua tangan bertumpu pada meja ke arah Carl.


"Hati hati berurusan dengan wanita. Belakangan ini kita para pria seperti berada dikubangan dosa. Apa yang kita lakukan selalu salah dimata mereka." bisiknya pada Carl.


Carl terbahak, "Kau salah Zian, justru wanita seperti itu harus kita buat bertekuk lutut, apalagi wanita yang aku temui malam itu." Decakan berulang kali keluar dari mulutnya, "Benar benar mempesonaku."


"Inget istrimu dirumah Carl!"


"Hei ... siapa bilang aku masih beristri? Aku sudah bercerai Zian!"


"Benarkah? Gara gara kau selingkuh?"


"Sialan! Kau selalu benar Zian. Tapi sekarang, aku rasa aku sudah menemukan jodohku kembali, wanita itu ... ahk aku harus mencarinya." ujar Carl dengan menyugar rambutnya.


Tak lama Agnia kembali masuk, dia duduk lagi disamping Zian.


"Telpon dari siapa baby?"


"Mommy. Dia tanya aku bisa hadir saat pembukaan cabang baru."


"Itu pasti seru!" Tukas Carl antusias.


Agnia mengernyit, dia menoleh pada Zian. Sementara Zian sudah menyipitkan pandangannya pada pria keturunan arab itu.


"Kenapa?"


"Kau tidak diundang Carl! Ini khusus keluarga!"


Agnia terkikik, tatapannya pada Zian tadi hanya ingin mendapat persetujuan darinya karena Laras mengajaknya saja.


"Berarti aku harus jadi keluargamu dulu agar bisa ikut?"


.

__ADS_1


Hai readers ... maaf othor baru up lagi. Hihihi mohon maklum yaaa.


__ADS_2