
Dave benar benar menarik tangan Serly keluar dari kamar miliknya dengan kasar.
"Iya kan Om? Apa yang aku bilang itu benar? Mereka boleh bohongin semua orang di sekolah dengan ngaku kalau mereka paman dan keponakan! Tapi aku tidak bisa di bohongi." jelas Serly dengan mengusap pergelangan tangannya karena Dave menepiskannya kasar.
"Kau bicara apa? Aku tidak mengerti sama sekali!"
Serly mengulum senyuman, mwmdengar Dave sepertinya memang tidak tahu.
"Om aku benaran menyukaimu Om Dave! Om juga yang nyelamitin aku kan malam itu dari jebakan para om om hidung belang. Tapi itu karena aku benar benar menyukai mu, bukan karena uang atau apalah, sama dengan apa yang dilakukan oleh Cecilia dan juga Nita, dan saat ini Nia juga lakukan, mereka menjadikan hal itu sebagai pekerjaan, Nia juga!!"
"Benarkah?"
"Hm ... Dan aku harus mengikuti permainan yang diberikan oleh Nia dan teman temannya dengan pergi ke klub malam itu dan menemani salah satu dari mereka, aku gak tahu ... gak ingat apa apa, entah apa yang mereka masukkan pada minumanku Om, yang jelas malam itu aku pertama kalinya minum alkohol, itu semua karena aku terus melarang Agnia untuk berhenti melakukan hal itu, kedua temannya menyesatkan Nia."
Dave mengulas senyum kecut. "Nia dan teman temannya melakukan hal itu padamu?"
Serly mengangguk, "Ya ... karena itu tadi, karena aku pernah melihatnya, maaf om aku gak bermaksud mengadukan hal ini sama om Dave." Serly menautkan jemari tangannya, "Aku tidak sekali dua kali melihat Nia jalan sama pria yang aku yakin itu Zian saat pergi!"
Dave terperanjat, dia kaget ternyata ada juga temannya yang tahu, padahal mereka menikah saja sembunyi sembunyi.
"Benarkah? Kau lihat dimana?"
Serly mengangguk, "Aku lihat di satu gedung, aku lupa namanya, juga di mall. Tapi aku yakin pria itu pak Zian deh."
Dave memegang dagunya, terlihat seperti orang yang tengah berpikir, Mungkinkah anak ini punya maksud lain? Aku harus terus mengoreknya.
Melihat Dave yang terlihat heran, Serly semakin yakin jika Agnia dan juga Zian bukanlah keluarga.
"Atau Pak Zian benar benar saudara dari tante laras?"
Dave mengerdik, dia lantas keluar dari kamar dan Serly mengikutinya, pria itu duduk di meja makan, lalu Serly duduk didepannya.
"Aku tidak tahu, aku sudah lama berpisah dengan Laras, aku juga tidak tahu saudara saudara jauh mereka, tapi setauku tidak ada saudara Laras yang bernama Zian."
"Nah kan! Dugaanku pasti benar! Mereka memiliki hubungan selama ini. Bahkan Om Dave saja tidak tahu!" Serly dengan berani menyentuh punggung tangan Dave. "Om ... aku hanya ingin Nia itu kembali kayak dulu, saat masih temenan sama aku, tapi setelah bergaul dengan kedua temannya yang sekarang, Nia berubah, dia bahkan gak mau kenal aku lagi! Padahal aku sahabatan sama Nia dari Sekolah Dasar." terang Serly dengan terus mengelus tangan Dave.
Dave menarik tangan Serly, mengelus ibu jari yang tidak seberapa itu dengan lembut. "Terima kasih Serly! Kamu baik sekali Nak."
Serly menelan saliva, dia juga merasa takut jika Dave melakukan hal hal yang tidak bisa d bayangkan, tapi demi tujuannya dia harus melakukannya.
Serly bangkit dari duduknya, namun dia justru pindah tempat duduk, dia duduk di paha Dave. "Aku hanya ingin Om Dave tahu kalau aku jujur tentang perasaanku ini," ujarnya dengan menatap wajah Dave lekat. Kemudian wajahnya menyamping dan berbisik pada telinga Dave, " Itu karena aku benar benar menyukaimu!"
__ADS_1
Dave menelan saliva, lagi lagi ke imanannya di uji, tidak dapat di pungkiri, kecantikan dan keberanian Serly, patut di ancungi jempol.
Melihat Dave menatapnya lekat, dan Serly membalas tatapannya disertai senyuman. "Apa Om Dave ingin aku bergerak?"
"Hah?"
"Bergerak!" Serly mengangguk dengan menggerakkan bokongnya perlahan.
Eehhmmmppp ... Sial, kenapa dia malah bergerak, bagaimana kalau ularku bangun! God ... helf me! Dave membatin menahan sesuatu yang tiba tiba menggeliat di bawah sana.
Serly bergerak lagi, kali ini dia bergerak lambat. "Om Dave tampan sekali!"
"Berhentilah bergerak Serly!"
"Om juga menyukaiku kan?"
Dave lagi lagi harus menahan sesuatu yang teeus berdesir, dia seorang player, tentu saja akan sangat mudah jika dia mulai bertindak.
"Iya kan Om? Om menyukai ku kan? Aku cantik kan?"
"Cantik! Bahkan sangat cantik!"
Serly mengulas senyuman lagi, dia senang ketika ada orang lain memuji dirinya seperti itu.
Serly mendekatkan wajah kearahnya, namun Dave tetap diam walau dia sedikit tergoda dengan bibir tipis Serly yang tampak manis.
"Kalau aku cantik!?"
"Sangat cantik!"
"Kalau begitu, apa om Dave ingin berkencan denganku?"
Dave kembali terperanjat, apalagi saat Serly menuntun tangannya agar merekat di pinggangnya.
God!!! Ujian ini sangat berat tuhan.
"Hmm ...kenapa kau ingin kita berkencan Serly? Kamu masih sangat muda, bukankah harusnya cari yang seumuran saja?"
Serly tertawa genit, "Aku sudah suka om Dave sejak om Dave menjadi malaikat penolongku dari iblis iblis itu!"
"Benarkah? Bagaimana kalau ternyata aku juga iblis seperti mereka?" Tanya Dave dengan menarik pinggangnya hingga tubuh Serly semakin tidak berjarak. "Kau justru malah mengikuti mereka dengan berkencan denganku! Padahal kamu tidak suka Nia melakukannya. Kenapa justru sekarang kau ingin melakukannya?"
__ADS_1
"Om dave kenapa di ulang ulang, aku sudah bilang alasanya bukan." Serly semakin melingkarkan kedua tangannya di leher Dave, pria itu beberapa kali menelan saliva,
Serly memainkan tengkuk Dave dengan mengelusnya lembut.
"Ayo kita berkencan Om Dave?"
Dave mengulas senyuman, "Tapi sayang aku tidak tertarik."
Serly membulatkan kedua matanya, dia bangkit dari pangkuan Dave, "Apa maksud Om Dave? Om Dave mempermainkanku?"
"Tidak!! Kau sendiri yang bermain main!"
"Aku tidak main main, aku memang menyukai Om Dave!"
"Lalu apa maksudmu dengan memberi tahuku soal Nia dan juga pria yang kau fikir itu Zian? Kau ingin seperti mereka? Kau iri karena mereka? Lalu kau mencariku."
"Aaku ...!"
Dave tergelak, "Lalu kau kemari, dan berpura pura mendekatiku dengan memberikan makanan itu hanya agar kamu tahu hubungan mereka? Kau berharap aku memberitahumu, kau mendekatiku ... kita berdua!" Dave menggerakkan jari jari di tangannya. "Hanya untuk mendapat informasi itu!" Dave semakin tergelak, dia ikut bangkit dan mendekati Serly, menyempilkan anak rambutnya di telinganya lagi, "Dengar Serly ... kau masih terlalu kecil untuk berbuat kelicikan pada pria dewasa yang berdiri didepanmu."
Setelah mengatakannya, Dave pergi ke kamar! Sementara Serly menendang udara. "Sial"
Tak lama Dave kembali keluar dengan berganti pakaiannya, pintu. Dave membuka pintu keluar.
"Pulanglah Serly, jangan buang buang waktumu!"
Serly menghentakkan kakinya ke lantai, dia lantai keluar dari apartemen itu. "Iiih ... kurang ajar!"
Tak lama pintu kembali terbuka, Dave menyembulkan kepalanya. Dan melemparkan begitu saja boks makanan tiga tingkat itu ke arah Serly.
"Jangan pernah datang lagi kemari! Dan jangan kau ganggu putriku! Atau kau menyesal."
.
.
.
Si Serly gak kapok kapok bikin alur muter terus yaaa...wkwkk
Terima kasih semua terlope lope aku. jangan lupa like, komen, rate5, gift, atau vote kalau masih ada...wkwkwk
__ADS_1
Maaf ya suka telat bales komen