
...Gimana gimana? Sesuai ekspetasi gak? Atau kurang ... atau mau lagi? Hahahaha... kalau kemarin othor langsung ngumpet di bawah kolong, pagi ini Othor ngetiknya sambil ngumpet ... takut kena palu readers ... wkwkkkk uh ah uh lagi....
...Jangan lupa apa? Yes ... Like dan komen okee bestie.....
.
.
Perlahan Zian berjalan dengan memegangi kedua tangan Agnia hingga tidak ada lagi ruang untuknya, dia mengangkat tangan sang istri lalu dia tekankan ditembok, bak gerakan slow motion dia mengangkat satu kaki jenjang miliknya yang dia tahan dengan cara memeganginya. Sementara bokongnya maju mundur sesuai ritme, gerakan nya lambat, karena dia tahu, Agnia masih akan sangat butuh penyesuaian.
Agnia kembali melenguuh, peredaran darahnya seakan memanas, dia melingkarkan tangannya dileher Zian, lalu mellumat bibirnya dengan penuh.
"Eeeuughhh baby!!! Ini sangat enak ...!"
Aaahhhkkk ... aaaahkkk ... ssshh aaahkk
"Again baby ... mendessahlah!!"
Eeeughh ... Mmmph
Suara lirih yang lolos begitu saja terdengar diseluruh ruangan kamar mandi, suara nyanyian berirama merdu khas berciinta yang keluar mulut Agnia membuat Zian semakin liar.
Zian terus mnghentak lembut, maju mundur kemudian kembali maju pelan pelan, membuat Agnia semakin bergelinjangan, tubuhnya kembali berpeluh keringat, memanas hingga semakin membakar Zian.
Pria itu melepaskan tangan Agnia, berpindah melingkari pinggangnya dan kembali mendorongnya lembut hingga senjata yang semakin melessak masuk, bibinya bergerak, mencecap leher Agnia dan memberikan gigitan kecil hingga meninggalkan bekas merah. Tubuh Agnia sedikit berjingkat, saat Zian menariknya lebih ke atas, hingga dia dengan mudah membenamkan wajahnya ke puncak dada Agnia, kembali mencecap bak seorang bayi, tanpa menghentikan pergerakan pinggulnya yang bergerak semakin liar.
You so beautiful baby!!! I love you ...!!"
Aaaahhgghhh ...eeeeuughhhhhhh
Sssshhhhh aaahh baby aaaahhkkkk
Aaahhh ... om ... aaahhh
Agnia memejamkan kedua matanya serta menggigit bibir bagian bawahnya saat sesuatu dalam dirinya melayang tinggi, mengudara dan mencapai puncak cakrawala.
Begitu pula dengan Zian, sesuatu menerobos masuk, mengalir dari ujung kaki, maju hingga rasanya seluruh sengatan itu berkumpul di pangkal pahanya lalu menerobos masuk kedalam rongga inti milik Agnia. Terasa hangat dengan gerakan yang semakin melemah, menyisakan nafas keduanya yang saling memburu dengan dada yang turun naik.
Zian mengecup kening Agnia, turun ke pipi dengan bergantian kiri dan kanan hidung dan bibirnya.
"Terima kasih baby ... I love you so much!!"
Agnia mengangguk lemah lalu membenamkan kepalanya di dada yang tegap itu.
Setelah kedua nya membersihkan sisa sisa percintaan mereka, Zian kembali membopong tubuh polos sang istri keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di tempat tidur, dia juga memunguti pakaian Agnia lalu memasangkannya.
"Aku bisa sendiri!"
__ADS_1
"Tidak apa apa baby ... biar aku yang pakaikan, kau pasti lelah. Tidur lah!"
Setelah memakai pakaian nya sendiri, Zian keluar dari kamar, dia mengayunkan kakinya ke dapur dan membuat secangkir susu jahe.
Bi Nur yang belum tidur pun mendengar suara dentingan gelas dari arah dapur, dia memberanikan diri keluar untuk melihatnya namun ternyata dia melihat Zian.
"Tuan ada yang bisa aku bantu?"
Zian tersentak kaget karena suara tiba tiba datang dari arah belakang dan sosok wanita acak acakan itu menatap nya.
"Bi Nur kau mengagetkanku!"
"Maaf tuan, apa tuan sedang membuat susu jahe?"
"Ya ... untuk Nia!" terlihat bibirnya melengkung tipis saat menyebut nama istrinya.
"Biar aku yang membuatnya, tuan tunggu saja di depan."
Zian terus mengaduk susu yang sudah dia campur, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, "Tidak perlu ... bi Nur istirahat saja, biar aku sendiri yang membuatnya."
Bi Nur akhirnya mengangguk, "Baiklah kalau begitu bi Nur pamit ke kamar."
Tumben sekali tuan mau membuat hal sepele seperti ini, biasanya dia akan menyuruh ku atau sekretaris Kim.
Setelah semuanya jadi, Zian masuk kembali kedalam kamar, dan mendapati Agnia yang ternyata sudah tertidur, dia menoleh ke arahnya, lalu berjalan ke sisi Agnia.
"Baby ...?"
"Minum dulu, agar tubuhmu tidak pegal di pagi hari!"
"Tidak usah nunggu pagi pagi ... sekarang saja udah terasa pegal." gumam Agnia dengan mata terpejam.
Zian terkekeh mendengarnya, dia lantas menyodorkan gelas berisi susu jahe itu padanya, "Maafkan aku yaa baby ...!"
Agnia mengambil nya, seraya mendengus pelan, namun bibirnya kemudian melengkung tipis.
"Habiskan Ya!!"
Zian menyempilkan sedikit rambutnya ke sela telinga, lalu mengambil gelas yang telah tandas isinya itu. "Sekarang tidurlah!"
Agnia pun tertidur, Zian menyimpan nampan diatas meja, lalu naik ke ranjang dari sisi yang lain, merapikan selimut Agnia lalu ikut masuk kedalamnya.
Mendekap nya hingga keduanya larut dalam mimpi.
Keesokan paginya
Agnia merasa ada yang hangat dan juga geli di dada, samar samar dia mengerjapkan kedua matanya yang sangat berat itu, dan terbelalak sempurna saat melihat Zian tengah mencecapnya dengan tangan meremmas benda bulat miliknya.
__ADS_1
"Astaga ...!!"
Zian mendongkakkan kepalanya, menatap Agnia yang kini terbangun, dia hanya tertawa kecil lalu melanjutkan apa yang tengah dia lakukan.
Agnia harus menahan eranngan yang akan lolos begitu, dia kembali memejamkan matanya, selain mengantuk dia juga menikmati sen sasi sentuhan di puncak dada di pagi hari.
"Eeemmpphh ... aku harus ke sekolah!"
"Hhmm ... kau istirahat saja di rumah, tidak perlu ke sekolah, kau pasti sangat lelah baby!" gumam Zian kembali mencecap tonjolan berwarna pink itu, lidahnya terus menari nari, disertai remmasan lembut di benda satunya lagi.
"Eeeuuhh ... gak bisa ...aaaaahh!! Hentikan, itu geli!"
"Ini enak baby!!"
"Aku harus ke ___ aaaahhhkk, hei ... jangan di gigit!!"
"Kau menggemaskan baby ... hhhuumm ... enak sekali!!"
"Sa___Ssayang eeeuhh!! Aku harus ke sekolah!"
"No ... no!! Istirahat!"
Agnia mendorong kepala Zian hingga berjarak beberapa senti. Hingga dia bisa menatapnya.
"Kau lupa ... Minggu depan aku ujian kelulusan! Dan hari ini, ada try out di sekolah! Mana bisa aku bolos!!"
Zian menghela nafas, "Baiklah ... tapi setelah selesai kau langsung pulang, atau pergi ke kantorku! Hem...?"
Agnia mengangguk, dengan cepat dia turun dari ranjang, dan lagi lagi harus meringis karena pangkal pahanya terasa sakit.
Zian turun dari ranjang, menggendongnya lagi untuk masuk ke kamar mandi, mengisi bathtube dengan air hangat, lalu memaku di tempatnya.
"Tunggu apa?"
"Jelas menunggumu baby! Aku akan membantu memandikanmu!"
Agnia mendorong tubuh Zian hingga menabrak pintu kamar mandi, "Gak mau ... yang semalam aja kau lupa? Nanti aku bukannya mandi, malah mandi keringat!"
Zian tertawa, "Tidak apa apa ...aku yang akan bertanggung jawab, aku akan memastikanmu lulus dengan nilai bagus!"
"Heh ... justru itu aku tidak mau!! Sudah sana ... aku mau mandi!"
"Kau yakin baby?" kedua tangannya menahan pintu.
"Aku sangat yakin tuan mesumm!" ucapnya dengan mendorong pintu hingga akhirnya Zian keluar.
Pria itu kembali tertawa, dia keluar seraya menggelengkan kepalanya, lalu keluar kamar untuk mandi di kamar lain karena dia juga harus pergi ke kantor.
__ADS_1
Dave berdiri di ambang pintu, memicingkan kedua mata ke arahnya. Zian pun melihatnya lalu mengulas senyum.
"Ku kira kau tidak akan kemari lagi Dave?"