Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 161


__ADS_3

Taman belakang yang kerap sepi kini dipenuhi gelak tawa, Agnia sangat bahagia saat dirinya menerima kondisi yang terjadi di masa lalu, memberi maaf dan juga kesempatan kepada ayah dan ibunya untuk berubah lebih baik lagi.


Pun dengan Dave, wajahnya cerah dengan kedua mata berbinar, duduk menatap putri kesayangannya yang tengah bercerita. Disampingnya Laras yang tak kalah haru nya melihat keluarganya kembali terasa lengkap walau tidak akan pernah kembali utuh seperti semula.


"Dave ... apa rencanamu kedepan nya sekarang?" Tanya Laras dengan menusuk kan sosis, mereka akan membuat barbeque.


"Mungkin aku akan mencari tempat tinggal kecil dan mulai kehidupan baru ku, setelah lepas dari perusahaan Dad, entahlah ... aku masih bingung!" Dave mengambil satu persatu daging wagyu yang akan dipanggang.


"Emangnya perusahaan yang udah di akusisi gak bisa kembali Dad?" tanya Agnia.


"Tentu saja Nia, perusahaan itu dalam kendali Zian, bisa jadi dia menggabungkannya dengan perusahaan atau kembali menjalankannya."


"Jadi perusahaan Arkhan gak bangkrut?"


Dave menggelengkan kepalanya, "Sisi positif dari sebuah merger salah satunya agar perusahaan tidak gulung tikar,"


Agnia mengangguk mengerti, Ada untungnya juga Om Zian yang memenangkannya. batin Agnia.


Setelah hari yang mengharukan itu, Dave mulai memulai kehidupannya dari awal, dia benar benar berusaha berubah dan juga bangkit dari keterpurukannya, dia tidak ingin kembali ke Singapura, dia hanya ingin menetap dan dekat dengan Agnia. Apartemen kecil menjadi pilihannya untuk tinggal, dibantu Laras dan juga tentu saja Agnia. Dave akhirnya tinggal tidak jauh dari kediaman Laras.


Sejak saat itu Agnia merasa kembali menemukan sosok yang selama ini dia cari, bahkan uang yang selama ini Dave berikan untuk biaya hidupnya, dia berikan kembali pada Dave untuk memulai usaha barunya.


Uang yang tidak pernah Agnia pakai, dengan jumlah yang cukup lumayan.


Dave menerimanya dengan mata berkaca kaca, hidungnya mulai merah menahan perih,


"Nia ... entah bagaimana caranya Daddy berterima kasih padamu, anak cantik anak baik Daddy." ujarnya dengan mengelus lembut pipi Agnia.


"Cukup dengan jadi Daddy yang terbaik! Deal ...?" ucap Agnia dengan jari kelingking mengacung ke arahnya.


"Deal ... Daddy akan terus berusaha." Dave menautkan jari kelingking miliknya. Keduanya kembali tertawa bahagia.

__ADS_1


"Dave bisa kita bicara?" Laras menatap Agnia lalu tersenyum.


Agnia mengangguk, dia meninggalkan keduanya dengan masuk kedalam kamar Dave. Apartemen sederhana itu memiliki balkon kecil yang kerap jadi tempat menjemur pakaian. Laras membuka pintu balkon dan bersandar pada tembok yang hanya sebatas dadanya. Hamparan atap genteng dan juga jendela kaca penghuni lain ataupun rumah susun lain menjadi pemandangan yang mereka lihat.


"Kenapa Laras?"


"Aku khawatir Dave! Apa lebih baik kau tinggal di apartemenku saja? Apartemen itu kosong, kau bisa memakainya sampai kau bisa memiliki apartemen mu sendiri."


Dave menghirup udara yang menurut Laras tidak lebih segar itu dalam dalam, lalu dia menoleh menatapnya. "Thanks Laras ... tapi aku senang bisa memulai hidup dari awal kembali, aku bisa merasakan kasih sayang dari Agnia saja sudah lebih dari cukup." terangnya. "Aku juga minta maaf, telah membuatmu kecewa! Aku ingin memperbaiki semuanya Laras."


Laras mengernyit, sedikitnya dia faham apa yang dikatakan oleh Dave, namun dia hanya berpura pura tidak mengerti. "Memperbaiki semuanya?"


Dave mengangguk, "Apa kita___ bisa??"


Belum sempat Dave menyelesaikan ucapannya, ponsel Laras yang berada di tas berdering, hingga dia harus mengangkatnya lebih dulu.


Laras masuk kedalam ruangan, meninggalkan Dave yang hanya mampu melihat punggungnya saja, lalu tersenyum.


Dave hanya bisa mengangguk, dan Laras kembali masuk, "Oh ya Dave ... Nia tertidur di kamarmu, bisakah aku menitipkannya di sini sampai aku kembali?"


"Tentu saja Laras, dia bisa tinggal sepuasnya disini, kau tidak perlu menitipkannya juga!" Kekehnya, "Berhati hatilah!" ucapnya lagi dengan mengayunkan kaki menyusul Laras yang berjalan ke arah pintu.


Setelah kepergian Laras, Dave mendaratkan bokongnya di sofa, merasa tidak karuan juga tidak punya harga diri jika dia meminta Laras untuk kembali padanya saat ini.


"Don't stupid Dave! Ini bukan waktu yang tepat," gumamnya dengan memijit pelipisnya sendiri.


Agnia keluar dari kamar, dengan wajah bantal dan juga rambut berantakan. Dia menguap berkali kali dan kembali membaringkan tubuhnya di sofa, dengan paha Dave sebagai bantalnya.


"Hai sweetheart? Apa tidurmu nyenyak?" Dave mengelus rambut panjang Agnia yang sedikit kusut.


"Nia gak pernah se nyenyak hari ini Daddy!" gumamnya dalam kedua mata yang masih terpejam.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hm ... Nia selalu terbangun saat malam dan kadang kadang nangis sendirian juga, gak ada yang sayang sama Nia," gumamnya lagi.


"Maafkan Daddy sweetheart!"


"It's ok Dad! Semua kan udah berlalu, yang penting sekarang ini kita udah baikan." Agnia membuka matanya perlahan, hingga akhirnya terbuka sempurna.


"Tentu Sweetheart! Daddy tidak akan mengulang kembali kesalahan Daddy."


Agnia mengangguk, dan kembali memejamkan kedua matanya. Untuk sesaat mereka saling terdiam, dengan Dave yang terus mengelus kepala Agnia hingga gadis remaja itu merasa nyaman.


"Daddy? Nia boleh tanya sesuatu?"


"Apa itu? Tanya saja sayang,"


"Apa Daddy masih membenci om Zian?"


Tangan Dave tiba tiba terhenti saat itu juga, membuat Agnia kembali membuka matanya.


"Apa Daddy marah?"


.


.


.


Hai readers terima kasih yang masih setia nungguin Author up. Dan terima kasih buat dukungannya yang luar biasanya dari kalian.❤️


Author juga punya info baru nih, mau promo novel author yang baru rilis. Jangan lupa mampir dan masukkan favorit juga yaa... nih kayak gini covernya.

__ADS_1



__ADS_2