
"Aku bukan hanya ingin melihat Daddy marah besar dan juga kecewa, tapi dia juga harusnya menyesal karena melemparkan tanggung jawab itu pada orang lain, yang seharusnya dia lakukan itu. Selain itu__" ucap Agnia penuh penekanan namun berakhir menjadi sangat pelan dan terhenti.
Zian mengulum senyuman, kedua alisnya naik turun secara bersamaan, saat ini dia tengah mengingat masa lalu, namun juga sadar semua adalah takdir yang sudah digariskan untuknya maupun Dave, Jasmine serta Agnia sendiri.
"Selain itu kamu menyukaiku bukan? Karena aku tampan Hem?"
"Ihhh kebiasaan deh! Ngerusak moment banget." sentak Agnia mencubit pinggang Zian keras. Kemudian dia menyusut kedua matanya yang masih terasa basah.
"Apa yang kamu katakan memang benar, tapi aku sudah tidak ingin memaksa Dave lagi, toh Jasmine dan anaknya sudah tiada, begitu juga dengan kakek ... mereka tidak akan pernah kembali. Kita hanya bisa mengambil pelajaran dari masa lalu tersebut!" Zian menghela nafas, baru kali ini dia menceritakan semuanya pada seseorang selain Kim, dengan sangat jelas dan detail.
"Semenjak Jasmine meninggal, aku pernah hidup dalam rasa bersalah yang teramat besar, sejak saat itu hidupku mulai tidak karuan, bukan tanpa alasan, penyesalanku pada Jasmine lah yang utama. Sampai aku bertemu Anindita, wanita yang aku fikir akan membantuku keluar dari keadaan yang terus menggangguku itu. Tapi aku ternyata salah," ujarnya terkekeh.
Agnia berdecih, "Bukannya sebelumnya juga Om berganti-ganti pacar?"
Zian menggeleng, "Aku tidak pernah serius dengan wanita manapun selain Dita, sebelumnya aku hanya memakai jasa mereka saja!" Zian kembali terkekeh.
"Hidup dalam penyesalan macam apa itu? Harusnya kan gak berbuat seperti itu kalau merasa bersalah. Aneh!"
"Ya namanya juga pria normal, tapi aku tidak merusak, mereka sudah rusak duluan!" tambah Zian.
"Sama sama bejad." gumam Agnia dengan tersungut.
Zian mengelus pipinya yang masih terlihat memerah karena terus menangis, "Itu masa lalu ku yang kelam, sekarang aku tidak begitu, bahkan aku sekarang tidak bisa meminum minuman keras lagi! Itu semua karena mu Nia!"
"Bohong, bilang aja karena memang Om punya penyakit kronis jadi gak diperbolehkan mabuk! Kalau gak gitu ya terus aja mabuk."
"Memang benar, penyakitku! Dan karena mu Nia, aku ingin sehat dan hidup tanpa penyakit ini, dengan berhenti minum karena ingin hidup denganmu, kan tidak lucu kalau kita menikah hanya sebentar karena aku mati karena sakit! Aku ingin sehat agar bisa melihat anak-anak kita tumbuh besar, tampan dan cantik ... kita akan punya banyak anak, jadi aku harus sehat bukan?"" ucap Zian dengan wajah berbinar, wajah tampan semakin meneduhkan itu menatap Agnia lekat.
__ADS_1
Wajah Agnia berubah menjadi merah merona, memikirkan anak-anak yang banyak diusianya yang masih dibilang anak-anak itu, bayangan anak-anak seusia Aya berlarian, dan mereka berdua mengejarnya dengan tertawa, hal sederhana yang dia saja tidak pernah merasakannya.
Zian menjumput ujung dagunya lembut, "Kamu pasti sedang memikirkannya!"
Gadis berusia 17 tahun itu mengerjapkan kedua matanya, dia menepis tangan Zian yang masih menempel didagunya, dan sedikit panik. "Apa ... enggak kok!"
Zian hanya mengulum senyuman.
"Sepertinya aku masih menyimpan sesuatu!"
Zian bangkit dan membuka lemari yang selama ini tidak pernah dibukanya, dia mengeluarkan kotak berwarna biru, meletakkannya ditepi ranjang lalu dia kembali duduk.
"Apa itu?"
"Semua ini surat untuk Daddy mu dari Jasmine, setiap malam aku melihatnya menulis surat ini dengan menangis, dan aku tidak bisa membantunya sama sekali! Aku hanya memperhatikan Jasmine dari balik pintu, walaupun kami menikah dan berstatus suami istri, kami menjalaninya layaknya sahabat, aku menyayanginya, hingga dia tutup usia, hanya Dave yang ada dihatinya, walaupun orang itu nyatanya adalah orang yang menyakitinya."
"Kamu pintar menganalisa keadaan Nia," ujarnya tersenyum, "Atau ... itu pengalamanmu? Dulu juga kita___"
"Kita apa? Om itu sangat menyebalkan dan juga galak, si tukang marah dan kasar!" selorohnya dengan bibir yang mencebik. Zian hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu dulu Nia ... sekarang kan tidak!"
Gadis itu ingin mengangguk setuju, namun ada perasaan gengsi untuk mengakuinya, cukup hatinya yang bilang setuju dan membenarkan ucapan Zian.
Agnia mengambil satu persatu surat yang masih tertutup rapat itu, kertas berwarna pink yang menurut Zian adalah warna kesukaan Jasmine. Namun dengan cepat Zian mengambilnya lagi.
"Aku rasa surat ini tidak lagi berguna, Jasmine pun tidak ingin surat ini sampai di tangan Ayahmu. Dia hanya ingin mengungkapkan perasaan nya saja kala itu, setiap aku bertanya untuk mengirimkannya, dia selalu bilang tidak, selalu itu jawabannya!"
__ADS_1
"Aku rasa Daddy perlu tahu itu!"
Zian menggelengkan kepalanya, "Sudah tidak lagi penting Nia, Daddy mu sudah punya kehidupan barunya, berjalannya waktu, pemikiran nya juga mungkin sudah berubah!lebih baik aku membuangnya atau membakarnya saja!" ucapnya dengan kembali memasukkan surat surat itu kedalam kotak lalu menyimpannya kembali kedalam lemari, menguncinya dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya.
"Berubah apanya? Dia juga nyakitin mommy dengan berselingkuh ... aku dengar sendiri saat mereka berdua bertengkar tempo hari!"
Zian menghela nafas, Dave nyatanya tidak berubah, sikapnya masih sama, dia selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain, sesaat mereka berdua terdiam dalam fikirannya masing-masing. Hanya denting jam yang terdengar di sudut ruangan.
"Om apa Jasmine cantik?" Tanya Agnia konyol.
Zian kembali duduk ditempat sebelumnya dia duduk, "Tentu saja sangat cantik, sampai membuat Dave memacarinya," Zian mencondongkan kepalanya lebih dekat, membuat gadis berusia 17 tahun itu mengikuti gerakannya dengan mencondongkan kepalanya mendekat, "Kamu tahu sendiri bagaimana selera dia Nia!" ucapnya lagi dengan segaris tipis senyum dibibirnya.
Agnia terlihat mengangguk-ngangguk, Zian melihatnya dengan mata heran. "Tidak perlu memikirkannya lagi, kalau semua ini tidak terjadi, Dave tidak menikahi mommymu, mana mungkin ada gadis cantik bernama Nia yang akan jadi Dunia Ziandra Maheswara saat in" ungkap Zian dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.
Gadis itu tergelak, dan sedetik kemudian dia berdecih lalu bangkit, "Udah ah ... aku harus pergi, aku harus pulang dan ketemu mommy!"
Namun Zian menahan kedua tangan Agnia yang hendak berdiri, hingga Agnia terjerembab menabrak dirinya, "Kenapa cepat sekali pergi setelah membuat aku terlambat bekerja hari ini? Hem...!"
"Kau kan bosnya, bisa datang dan pergi sesukamu!" jawab Agnia dengan memukul lengannya.
.
.
.
Jangan lupa tap icon jempolnya bestie terlope lope akuh, komen juga yang banyak yaa.
__ADS_1