Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 285


__ADS_3

"Diam dan turuti aku saja!!"


Cecilia dan juga Nita semakin terperangah mendengar penuturan Zian tentang kata anak. Dibenak mereka, Zian pasti berbohong karena disana ada Regi. Tapi untuk apa Zian berbohong mengenai hal semacam itu. Regi jelas bukan tandingannya, walaupun kebaikannya tidak bisa di pungkiri juga.


"Ce lo denger apa kata orang ganteng itu?" cicit Nita. Lengannya menyenggol lengan sahabatnya itu.


"Gue denger dengan jelas Nit! Si Nia bunting? Gak nyangka banget,"


"Gak nyangka gimana? Orang mereka udah sah. Ya jelas lah, kapan aja bebas bikin anak. Gak kayak kita! Selalu pake pengaman, kalau gak....!" Nita bergidig sendiri dengan ucapannya.


Dibelakangnya Regi tak kalah terperangah dengan para gadis remaja di depannya saat mendengar apa yang di katakan Zian, sakit? Jelas. Hatinya memang belum sembuh total saat tahu Agnia sudah dimiliki oleh orang lain, bak di taburi garam saat mendengar gadis pujaannya kini telah mengandung. Sekelebat ciuman singkat di toilet bioskop hadir dalam benaknya, lalu bayangan Agnia dan Zian yang tengah memadu kasih diatas ranjang bertabuh kelopak bunga mawar merah datang tanpa diminta. Regi memejamkan mata, tak lama dia berbalik arah dan berlalu begitu saja.


Tidak kuat? Tentu saja Regi kuat, sekuat mungkin dia tersenyum, melihat Agnia bahagia memiliki seseorang yang teramat mencintainya. Yang terpenting adalah orang itu bisa membuat Agnia bahagia.


Regi memilih jalan lain untuk keluar dari kampus itu. Disusul oleh Aris yang tampak heran dengan tingkah anehnya.


"Gi ... kalau lo mau cerita! Gue siap dengerin!"


"Kita ke studio naik bis! Tapi kita harus jalan ke halte Ris!"


"Iya ok ... tapi setidaknya lo cerita ada apa? Laki laki itu kan yang bikin Nia nolak lo Gi?"


"Lo jangan lupa hubungi yang lain, hari ini jam latihan di majukan."


Regi terus menghindari pertanyaan perihal Agnia yang dilontarkan Aris, dia tidak ingin mengungkit apalagi terus mengingatnya. Jika ada obat penghilang perasaan, mungkin dia akan segera meminumnya.


"Regi!! Anjim lo ... nyuekin gue!"


"Bacot lo ... buruan!"


Cecilia menoleh, namun kosong. Regi telah pergi, begitu juga dengan Aris temannya. Sementara mobil juga Zian melaju begitu saja, hanya ada mereka berdua yang kini saling menatap.


"Ce ... kita balik?"


"Hm, emangnya lo mau nunggu apa disini?" Desis Cecilia mengayunkan kedua kakinya pergi.


"Tapi gue lega kalau Regi ternyata gak sama si kutu kupret."


Cecilia membuka pintu mobil, dia terus mencari keberadaan Regi yang lagi lagi pasti terluka.


"Ce ... lo denger gue ngomong gak?"

__ADS_1


"Ayo buruan masuk!"


Nita mendengus, dia buru buru membuka pintu mobil sesuai arahannya. Tak lama Cecilia melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir.


"Menurut lo si Regi kemana?"


Nita menoleh, "Ngapaian nanyain dia? Bukannya tadi bilang dia mau ke studio?"


"Ya ... enggak sih! Tapi gue rasa Regi butuh hiburan kita gak sih!"


"Anjim ... lo perhatian banget sama si Regi! Lo suka?"


"Kira kira lo kalau ngemeng! Udah gue bilang gue gak suka sama seumuran, gak ada duitnya."


"Kalau nanti lo ketemu cowok yang bikin lo klepek klepek gimana hayo? Tapi seumuran?" tukas Nita mendorong sedikit bahu Cecilia.


"Sialan! Gak usah dorong juga kali!" Ujarnya mendengus. "Tapi ya seandainya gue ketemu cowok yang bikin gue cinta mati! Gue bakal berhenti jadi sugar baby saat itu juga! Gue kubur tuh masa lalu kelam gue!"


"Laga lo Ce!"


Sementara didalam mobil, Zian terus menggerutu karena ulah Agnia yang tidak juga sadar jika dia tengah hamil. Gadis itu terdiam memikirkan apa kemarahan Zian semata mata hanya dia berlari atau jelas ada Regi.


"Hubby! Udah dong marahnya, kepala Nia pusing ini!"


"Hubby marah karena lihat Regi? Please deh ... kita gak sengaja ketemu waktu di ruangan validasi data. Itu aja kok! Lagian ya ... gak seharusnya Hubby cemburu sama Regi, disaat sekarang ada dia." Ujarnya menjelaskan dengan menarik tangan Zian lalu di letakkan di perut ratanya.


Zian menghela nafas, jelas bukan Regi yang membuatnya khawatir.


"Kau salah baby! Aku tidak cemburu dengan anak ingusan yang tidak ada apa apanya itu, yang aku khawatirkan dia dan kau baby!" ujarnya mengelus perut rata sang istri, "Aku tidak tahu akan bagaumana jika sesuatu terjadi pada kalian. Apa aku harus memohon agar kau selalu ingat diperutmu ini tengah tumbuh seorang anak." ungkapnya lagi.


"Enggak dong hubby sayang, Nia kuat dan berani. Gitu juga anak kita." Agnia terkekeh, jemarinya menjumput hidung Zian yang masih kesal. "Maafin Nia ya hubby ... baru sehari tahu hamil jadi masih kelupaan." kekehnya lagi.


Namun Zian hanya terdiam, kedua matanya menajam kearah Agnia tanpa kedipan. Seolah menahan sesuatu, dia mengatupkan bibirnya rapat. Agnia menggaruk belakang kepalanya dengan terus terkekeh.


"Udah marahnya ya. Nia kan udah minta maaf hubby. Nia janji sama diri Nia sendiri gak akan bikin khawatir lagi."


Zian menyandarkan punggungnya, lalu memejamkan matanya.


"Hubby ...!"


"Hm ...!"

__ADS_1


"Jangan marah lagi!" kali ini dia memegang lengannya dengan sedikit menggoyang goyangkannya. Trik membuat Zian luluh adalah bersikap manja.


"Heem!!"


"Hubby ih!! Maafin Nia...!"


"Berikan aku permen lagi!" ujarnya menutup mulut.


"Heh?"


"Permen ... aku mual!"


Agnia mengambil permen lalu membukanya, tak lama dia memasukkannya kedalam mulut Zian dengan cara yang sama seperti sebelumnya.


"Bagaimana aku bisa marah padamu Nia!" Zian terkekeh, lalu kembali melumaat bibir Agnia yang tengah terperangah sendiri.


Setelah pagutan bibir dengan permen yang hilir mudik terulang kembali. Zian memeluk Agnia dengan erat.


"Aku suka saat kau bisa jadi penurut baby! Padahal aku hanya bercanda saat bilang kau harus berikan permen itu dengan mulutmu."


"Iihhh ... nyebelin banget!"


"Tapi suka kan?"


.


Keduanya tiba di kantor, dengan tangan Agnia yang terus Zian genggam, bahkan dia menghentikan seorang Cleaning Servise yang tengah mengepel lantai sampai Agnia melewatinya.


"Sampai segitunya, sepatu Nia kan gak licin!"


"Menurut saja! Jangan suka membantah lagi baby!"


"Iya iya ..." dengus Agnia namun tetap mengangkat kedua ujung bibirnya.


"Gitu dong. Sekarang temani aku meeting, kalau tidak aku pasti mual mual lagi."


"Terus kalau mual, Nia harus kasih permen lagi dengan cara yang kayak tadi?"


.


.

__ADS_1


Keenakan ya pake cara begitu? Wkwkwk othor mana ada dikasih permen begitu, yang ada mungkin langsung di toyor. wkwkwk.


Kasih dukungan sebanyak banyaknya ya readers terlope lope aku, maaf Episode udah makin panjang, dilarang bosan. Hihihi


__ADS_2