
"Maaf aku nyela, sebelum kamu nanya, apa kamu tahu orang yang didalam itu adalah om nya Agnia?"
Serly menoleh ke arah kaca yang menjadi penghalang, namun dia tidak dapat melihat dengan jelas, "Om nya Nia?"
"Huum ... aku dengar tadi dia datang karena surat panggilan orang tua."
Serly mengangguk, " Mungkin aja, soalnya gue juga gak tahu, selama ini sih Nia hanya tinggal sama ibunya, ayahnya kan di singapore ... tapi mungkin itu saudara dari pihak ibu? Gak tahu juga gue! Lagian kepo amat sih lo tumbenan!"
"Aku cuma mau tahu kabar Nia aja sih! Kasian dia!"
Serly menghela nafas, "Itu juga yang mau aku tanyain sama lo, lo yakin Agnia gak pernah ke rumah lo? Kasih kabar gitu ke lo? Lo kan lebih deket sama dia, dibanding gue sekarang."
Vina memperlihatkan wajah polosnya, dengan poni yang menutupi sebagian dahinya, "Aku gak tahu, kenapa kamu gak tanya ke Adam, mungkin dia kasih kabar soalnya kan mereka sama-sama panitia?"
"Adam?"
"Huum ... aku juga sempat gak sengaja lihat mereka lagi ngobrol gitu! Tapi ... gak tahu juga deh aku takut salah lihat! Mungkin Nia sempet bilang kalau dia di skors dan gak bisa ikutan jadi panitia kan?"
Serly mendengus, " Mungkin juga, ya udah gue ke Adam dulu." lalu dia berbalik dan berjalan, "Lo mau ikut gak Vin?" Vina menggelengkan kepalanya, "Gue mau ke kelas dulu."
Serly mengangguk, dia menuju kerumunan teman-temannya dimana Adam juga disana, sebagai ketua panitia.
Vina tersenyum licik, dengan terus melihat pergerakan Serly dari atas,
"Gue harap lo bikin keributan di situ, mungpung masih rame dan seperti biasa, gue yang akan ambil keuntungannya. Sementara gue masih harus cari info disini, tapi sepertinya aman, Si Nia gak laporin gue ke keluarganya, walaupun iyi sedikit mencurigakan buat gue." gumam Vina dengan menpertajam pendengarannya.
Serly menarik lengan Adam yang tengah berada dimeja panitia, lomba basket se SMA.
"Dam, aku perlu ngomong!"
Adam mulai risih dengan kelakuan Serly dihadapan teman-temannya.
"Bisa gak cari moment yang tepat, jangan main asal tarik, aku gak enak sama mereka!" ujarnya kesal.
"Iya sorry, tapi aku memang mau ngomong sama kamu, dan ini penting!"
"Apaan?"
"Bener kan kamu ketemu Nia kemarin?"
"Iya bener, waktu dia mau pulang!"
"Terus kalian ngomong apa aja? Kok kamu gak ngomong sama aku? Kamu mulai bohongin aku ya?"
Adam mulai jengah, "Kamu tuh kenapa sih, gak lihat aku lagi sibuk ngurusin lomba, malah nuduh-nuduh gak jelas!"
__ADS_1
"Lagi pula sikapmu itu sudah keterlaluan, hanya karena Agnia lebih pintar dan lebih cantik, kamu iri, harusnya kamu seneng, dia itu teman baikmu, kamu dukung dia, malah terus di curigai."
"Kok kamu jadi belaain dia sih!! Kamu suka kan sama dia?"
"Terserah kamu aja deh, aku cape!" ucapnya sambil berlalu.
Gue memang iri sama Nia, dia terlalu baik, cantik, pintar, dan gue gak bisa ngalahin dia, bahkan gue harus nyembunyiin hubungan gue sama Adam karena gue takut. Dia punya segala yang gue mau, Tapi bukan berarti gue benci sama dia dan pengen dia ancur kayak sekarang. Maafin gue Nia.
Adam berlalu meninggalkan Serly, "Nyesel gue milih dia dari pada Nia!" gumamnya.
Tanpa mereka sadari Regi diam-diam memperhatikan mereka, dan merasa bahwa semua ada hubungannya dengan Agnia.
"Persaingan!" gumamnya.
.
Setelah menandatangani surat perjanjian, Zian keluar dari ruangan Sopian, dia mendengus karena tidak mendapatkan semua informasi yang dia butuhkan.
Vina menoleh ke arahnya, dia hendak menghampiri nya namun Iyan menghalaunya.
"Maaf!!" ujar Iyan saat melihat Vina hampir mengejar Zian.
Zian menoleh, begitupun dengan Iyan yang menyusulnya, "Kenapa? Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan."
"Sepertinya banyak yang ingin dia sampaikan, saking banyaknya, dia menunggu anda sejak tadi. Mencurigakan bukan?"
Iyan pun masuk ke pintu kemudi, namun seseorang berlari ke arahnya, mengetuk kaca mobil. Iyan membuka kaca mobil dan melihat ke arahnya.
"Maaf bisakah aku bertanya? Namaku Serly, apa benar Om ini Om nya Nia?"
Iyan menoleh ke arah belakang, melihat Zian yang mengangguk lalu diapun mengangguk, "Aku ingin tahu bagaimana kabarnya? Apa Nia baik-baik saja?"
"Baik saja!" jawab Iyan dengan datar.
"Syukurlah, tolong sampaikan salam dariku untuknya Om!"
Iyan kembali mengangguk, lalu menutup kaca mobil, dan kemudian melaju, membelah jalanan siang itu dengan terik matahari yang cukup menyengat.
"Kita ke kantor?"
"Huum ...."
.
.
__ADS_1
Agnia menatap wajahnya di cermin, bekas luka sudah mengering, namun luks dihatinya tidsk akan pernah kering, bayangan ibunya yang sedang bercum bu, perlakuannya, Perlakukan Serly dan juga Adam yang sampai saat ini belum dia fahami, Cecilia dan Nita yang membuat semua awal masalah, dan terakhir, perbuatan Vina, tak lupa juga Zian yang datang sebagai pelengkap masalahnya.
Agnia harus menyamarkan luka yang mulai mengelupas itu, untung saja Zian memberikan obat yang bagus, hingga luka di wajahnya tidak akan berbekas.
Dreet
Dreet
Ponselnya berbunyi, sebuah pesan dari nama kontak Regi ada disana. Agnia membukanya, dan segera keluar dari kamar.
"Non, kok sudah rapi? Mau kemana?" tanya pelayan rumah.
"Aku mau cari angin ya bi, delet kok di taman depan sana, lagi pula gak akan lama kok!" ujarnya lalu turun.
Pelayan itu pun menyusulnya, "Tuan Zian sudah berpesan, Non dilarang keluar rumah tanpa seijinnya."
Agnia menghela nafas, "Sebentar saja bi, gak lama kok!"
Butuh waktu 5 menit untuk sampai ke taman yang dia maksud, di mana dia bertemu Regi, dia pun berjalan mencari Regi, yang ternyata sedang cemas menunggunya.
"Hai Gi?"
"Nia ... lo gak apa-apa kan?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue baik-baik aja kok!"
"Sumpah ya, sampai saat ini gue gak percaya tentang gosip di sekolah lo, gue percaya lo gak mungkin lakuin hal itu!"
Agnia terkekeh, "Kenapa lo gak percaya! kalau gue emang beneran kayak gitu gimana?"
Regi menggeleng, "Gue tetep gak percaya kalau itu lo Nia!"
"Tadi juga Om lo ke sekolah, dia ketemu pak Sopian!"
"Om gue?"
Regi mengangguk, "Iya ... om lo!"
Siapa om gue, apa Zian? Tapi gak ada yang tahu gue dapat surat panggilan.
Agnia membuka tasnya, dimana dia menyimpan surat panggilan untuk orang tuanya, namun dia tidak menemukan surat itu dimana-mana, hingga dia teringat, semalam Zian tidur di kamar yang ditempatinya, walau tampak tidak nyaman.
Om Zian lakuin itu buat gue?
Regi melihat ke arah Agnia, dan melihat dirinya yang tengah melamun, "elah ... lo malah ngelamun sih!"
__ADS_1
"Gi ... lo mau nolongin gue gak?