
Keadaan tidak berubah, Zian kerap demam dan mengeluh sakit kepala, hingga Agnia selalu ikut bersamanya ke kantor. Dia membantu mengatur jadwal Zian dan beberapa file yang lambat laun dia kuasai. Pekerjaan Zian memang tidak mudah, sebagai pemilik sekaligus penanggung jawab utama, sosoknya memang sangat penting, maka Zian harus tetap pergi ke kantor walau dengan penjagaan super ketat. Itu pun setelah berkonsultasi dengan Irsan mengenai keluhan yang kerap Zian rasakan selama hampir dua minggu. Dan pagi ini Irsan kembali ke kantor Zian untuk mengecek kondisi Zian.
"Sebenarnya aku sakit apa Irsan?" tanyanya pada Irsan yang tengah memeriksanya.
"Menurutku sejauh ini kau hanya kelelahan saja, kurang olah raga dan pola makan yang berantakan. Stress juga bisa jadi penyebabnya." Irsan duduk dihadapannya, mencatat sesuatu kedalam buku kecil yang dia keluarkan dari tas miliknya. "Kau hanya perlu cukup tidur dan cukup istirahat." ungkapnya lagi. "Kau mungkin terus bergadang, iya kan?" tanya Irsan kemudian, dengan bibir mencekung dan juga kedua mata mencibirnya.
"Sia---!"
"Sayang, pihak developer minta waktu un----, eeh ada dokter Irsan." Agnia tergagap saat membuka pintu dan mendapati suaminya tengah bersama Irsan.
"Tidak apa Nyonya Zian, tidak perlu sungkan." jawabnya dengan mengulas senyuman.
Melihat Irsan yang tersenyum sangat manis pada sang istri, Zian menendang tungkai kakinya keras. Membuat Irsan meringis.
"Kau mau empat matanya itu aku colok?" sentaknya dengan mendengus kasar.
"Sabar Hubby ... sekalipun seluruh dunia melihatku, aku hanya akan melihatmu." kekeh Agnia yang berjalan menghampirinya lalu kemudian berlari keluar lagi.
Irsan tergelak, melihat Agnia begitu menggemaskannya. Dan Zian hanya mengulum senyum dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana kau hidup dengan anak kecil itu Zian? Pasti menyenangkan."
"Hm ... sangat menyenangkan. Lihatlah tingkahnya, kadang terlihat dewasa, tapi dia kadang kelakuannya seperti layaknya remaja seusianya."
Keduanya menatap pintu ruangan dimana Agnia yang tiba tiba masuk lalu menghilang begitu saja. Dia keluar lagi dari ruangan karena merasa kikuk sendiri.
"Sial ... gue seenak jidatnya panggil sayang sayang, kan malu ya sama dokter Irsan. Om Zian gak bilang sih dia ada didalem." gumam Agnia yang keluar dan berjalan ke arah lain, dan melewati ruangan ruangan para staff yang tengah bekerja. Senyuman terbit dari bibirnya yang tipis, berjalan dengan bahu tegak dan pandangannya bersinar. Tak jarang semua orang yang berpapasan dengan nya juga melempar senyuman pada Agnia karena dia pun sangat ramah. Walaupun Zian tidak menyukai hal itu.
Tiba tiba langkahnya terhenti saat melihat dua orang berjalan dari kejauhan. Pandangannya lamat lamat tertuju pada seorang wanita yang tampak elegan dengan setelan blazer berwarna biru. Rambut panjangnya terikat rapi bak kuncir kuda, serta wajah datar dengan tatapan tajam khas miliknya.
"Sekretaris Kim?" desisnya dengan kedua mata terus mengikuti langkah wanita yang dia tahu baru baru ini memiliki perasaan pada Zian.
Disampingnya berjalan dengan gagah, wajahnya berseri dengan senyuman terus terumbar dari sudut bibirnya. Berusaha memantaskan diri berjalan bersama Ayana Hakim.
"Agnia?"
Gadis itu kembali berbalik dan mengulas senyuman saat ayahnya memanggil namanya.
"Dad?" ujarnya dengan dua bola mata yang tertuju pada sekretaris Kim yang berdiri dengan tersenyum.
__ADS_1
"Sekretaris Kim. Apa kabar?"
Kim mengangguk kecil, "Baik Nia ... kamu sendiri?"
"Nia baik kok! Kan Om Zian yang sakit." terangnya ingin tahu reaksi Kim saat mendengarnya.
"Masih sakit?" Tanya Dave menatap putrinya yang kini tengah menganggukkan kepalanya.
"Memangnya Sekretaris Kim tidak tahu? Pasti tahu kan?" Ujar Agnia kembali menatap Kim yang masih tidak merubah raut wajahnya.
"Aku tidak tahu kalau suamimu sakit!"
"Benarkah?"
"Nia ... kita kemari untuk urusan pekerjaan, ayo Kim!" Dave melihat gelagat putrinya yang tengah menyindir tipis tipis pada sekretaris Kim, dan berusaha menghindari hal hal buruk yang dia sudah prediksi sebelum memutuskan pergi. Namun Kim tetap tidak bergeming.
"Dave ... Aku ingin bicara terlebih dulu dengan putrimu bisa kan?"
.
__ADS_1
.
Hai readers ... othor datang lagi. Jangan lupa tinggalkan like dan komen yang banyak. Dan pastikan kalian dukung othor terus ya. Makasih buat kalian yang gak pernah bosen nyemangatin othor. yang nunggu up sampe pegel wkwk. lope lope badag buat kalian semua.