
Indah terus di tarik masuk kedalam restaurant itu yang mana Indah belum melihat wajah orang yang menariknya, Indah hanya mencoba melepaskan pegangan tangan itu yang terasa sakit.
Indah tidak pernah di tarik dengan tidak sopan seperti ini maka jelas dia merasa tersakiti.
"Bisa lepas ngak, lo kira gue sapi apa main tarik aja.
Yang sopan ya,"
Bentak Indah saat pegangan itu tak kunjung lepas juga.
"Bantuin gue kali ini aja, abis itu lo boleh minta apa aja sebagai bayaran,"
Orang itu membuka suara dan itu sukses membuat Indah mendongak buat memastikan suara itu yang tidak asing lagi sebab sudah beberapa kali bicara.
"Om kira gue perempuan bayaran apa, ngak gue ngak mau ya om,"
Tolak Indah saat sudah tau siapa pemilik tangan yang sudah memegang dia tanpa izin.
"Kali ini aja, gue lagi terdesak.
Ayo jangan banyak bicara nggak malu di liatin orang apa?"
Beberapa pasang mata mengarah pada mereka.
Ada yang berfikir.
Mereka lagi berantem.
Ketahuan selingkuh cowoknya.
Cowoknya kasar.
Cewek minta putus tapi yang cowok nolak.
Yang cewek sudah ada pengganti.
Mengajak Indah duduk di meja yang sudah di pesan sebelumnya.
Orang menarik Indah tadi adalah Frans yang tiba di sana berengan sama Indah padahal tidak janjian.
"Nama gue Frans dan ingat lo harus bantuin gue kan tadi udah setuju,"
Hey om kapan Indah bilang setuju coba, jangan ngarang om dosa tau.
Belum sempat Indah menjawab seseorang datang menghampiri mereka berdua yang lagi berdebat.
"Maaf aku telat, tadi sedikit macet,"
Ucap seorang perempuan datang ke meja mereka dengan pakaian yang cukup terbuka tapi tidak menarik bagi Frans sama sekali dan entah sejak kapan tangan mereka sudah bertaut.
"Om lepas, nggak usah pegangan juga,"
Bisik Indah ingin melepaskan pegangan tangan itu, bukannya lepas malah semakin erat.
"Diam atau gue cium tuh bibir yang dari tadi ngoceh,"
Ancam Frans berhasil dan Indah memilih diam.
__ADS_1
Mana mau dia bibir perawan nya di cium sama orang asing, untung di dia dong.
Dasar om om mesum, di kira gue cewek apaan coba. Awas ya lo om tunggu pembalasan gue nanti.
Gerutu Indah dalam hati tidak terima harus berakhir di depan kedua orang yang sama sekali tidak dia kenal.
Mimpi apa dia coba semalam.
"Loh Frans, aku kan ngajak kita bertemu berdua,"
Perempuan itu terusik dengan kehadiran Indah di sana.
"Kapan, perasaan kamu cuma ngajak bertemu bukan bilang jangan bawa pasangan,"
Bicara agak formal, malas melihat perempuan yang tidak tau malu ini.
Walau di masa lalu dia pernah punya posisi spesial di hati Frans, namun tidak seiring berjalan waktu, semua pasti berubah termasuk perasaan.
"Ya udah ngak apa, kita pesan dulu ya,"
Berusaha menahan rasa kesal, tadi dari rumah dia sudah menyiapkan semua tapi tidak sampai berfikir kalau Frans datang berdua.
Sial, batinnya.
"Ngak perlu, langsung aja mau bahas apa?"
Malas berlama lama di sana, sudah tidak mengharapkan lagi.
Setelah sampai di rumah tadi Frans sudah putuskan buat mengubur masa lalu dan mengasih kesempatan pada perempuan lain.
Terdengar kejam memang tapi Frans tidak mau ambil resiko bisa saja kejadian silam terulang lagi atau bisa lebih parah serta menyakitkan.
Lirih perempuan itu dengan suara pelan namun masih bisa terdengar.
Dia mencoba meraih tangan Frans namun sebelum itu terjadi sudah lebih dulu Frans menghindar.
Takutnya gegara sentuhan itu dia terpedaya dan bisa saja mengulang luka lama.
Orang pergi dan kembali belum tentu membawa perubahan baik begitu juga sebaliknya.
Semua orang punya kesempatan tapi bukan kesempatan kembali pada dirinya, fikir Frans.
"Sudah bicaranya? hanya itu?
Aku sekarang sudah punya pasangan dan ada hati yang harus ku jaga.
Aku harap sampai sini kamu ngerti dan satu lagi di masa dan sekarang kita tetap tidak punya hubungan,"
Mengangkat tangan yang sedari tadi saling bertaut pada dia.
Wajah itu langsung pias, apa sekarang dia sudah tidak punya kesempatan kembali? dia sudah ada ganti, secepat ini.
Dada rasanya sesak melihat orang yang masih di harapkan sudah mengganti gandengan sama yang baru.
Tapi dalam hati dia tidak rela dan sampai kapan pun tidak rela melepas Frans gitu saja.
Dia akan merebut Frans nya kembali apa pun caranya.
__ADS_1
"Kalau tidak ada lagi, aku permisi,"
Menggandeng tangan Indah hingga sampai keluar dari restauran itu.
"Orang nya udah ngak ada om, jadi ngak usah pegang pegang lagi,"
Menyentak hingga pegangan itu terlepas.
Selain tidak kenal Indah juga merasa sudah tidak perlu lagi bersandiwara.
"Makasih udah bantu gue,"
Bisa bilang makasih juga ya si om.
Tapi harus sih kan tadi minta tolong.
"Kasian tau om anak orang di buat menangis,"
Indah tidak tega sebenarnya tadi, mau ikut bicara juga tidak tau dimana letak permasalahan.
Kalau salah sambung kan tidak lucu.
Indah termasuk tipe orang yang suka tidak enak hati apa lagi sesama perempuan maka tidak tega saja menyakiti.
"Gue punya alasan dan gue rasa lo udah tau itu apa,"
"Ayo gue antar pulang, ngak baik perempuan pulang malam sendiri lagi,"
Frans akan bertanggung jawab mengantar Indah pulang sebab Ines di antar Farid tadi.
"Gue bisa pulang sendiri om, lagian ini juga belum terlalu malam kan,"
Tolak Indah, kalau ibu tau mau kasih alasan apa Indah nanti pergi sama Ines pulang sama cowok bisa bisa di pengggal kepala Indah di kira sudah berani bohong.
"Gue tau apa yang lo fikirkan, tenang lo balik sama teman lo sampai rumah dia,"
Cenayang ya om tau isi fikiran Indah segala.
"Dan satu lagi jangan panggil gue om.
Nama gue Frans ngerti, ayo masuk,"
Masuk duluan ke dalam mobil.
"Suka suka Indah lah, emang lo siapa om ngatur ngatur segala,"
Gerutu Indah sambil membuka pintu mobil Frans bagian depan sebab hanya kursi di sana yang masih kosong karna mobil itu hanya muat dua penumpang.
Frans kalau di luar jam kantor maka akan menggunakan mobil itu.
"Gue dengar ya.
Apa tadi nama lo Indah? tapi kok lo ngomong ngak ada Indah Indah nya,"
Siapa juga yang mau bicara indah sama om tidak sudi Indah om.
"Bodo amat om, cepat jalan om jangan banyak omong kayak cewek om,"
__ADS_1
Malas berdebat sama Frans dan lidah Indah tidak bisa memanggil nama lebih enak manggil om sama Frans.
Bersambung.😘