Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 265


__ADS_3

"Kenapa malah bahas Regi lagi! Dia gak ada hubungannya sama hal ini! Kita lagi bahas sekretaris Kim."


"Sudahlah Baby! Aku tidak ingin mempermasalahkan hal ini! Aku sudah cukup sabar ya kali ini." Zian bangkit dari sofa dan berjalan ke arah meja kerja, menyambar jas yang tersampir di kursi kekuasaannya lalu memakainya. "Kita pulang saja oke dan jangan membahas masalah ini."


Agnia ikut bangkit, tentu saja dia masih ingin membahas masalah ini hingga tuntas. Sampai dia tahu semua hal berkaitan dengan perasaan Kim sampai kepergiannya.


"Jelasin dulu! Kenapa Om justru menghindar dan gak mau bahas masalah ini!"


Zian menghela nafas, dia semakin tidak kuasa karena Agnia terus menyulut amarahnya, kesabarannya yang tidak seberapa banyak itu semakin terkikis karena Agnia terus bertanya hingga mendesaknya.


Zian membuka pintu dan mendapati Dave tengah berdiri mematung. Kedua pria itu sama sama terkaget.


"Kau sedang apa? Menguping pembicaraan?"


Dave mendecih, "Mana ada ... aku tidak sengaja mendengarnya! Dengar Zian ... kalau kau memang tidak memiliki perasaan apapun pada Kim, tolong jelaskan pada putriku agar dia tidak salah paham."


"Aku mau jelaskan apa lagi Dave? Semua sudah aku jelaskan." terang Zian dengan berjalan melewatinya.


Agnia keluar untuk menyusulnya dan melihat Dave juga. "Daddy ada disini? Nguping?"


"Tidak sweetheart! Hanya tidak sengaja mendengarnya."


"Itu sama aja Dad!!" Tukas Agnia yang keluar menyusul Zian yang lebih dulu berjalan.


Begitu juga Dave yang ikut menyusul keduanya. Dia tidak ingin berdiam diri saat putrinya mengalami masalah.


"Nia ... sweetheart! Jangan lagi bertanya jika Zian sudah menjelaskannya, dia memang baru tahu ketika dia datang menyusul Daddy ke kantor tempo hari. Jangan terus membahasnya oke!"


"Nia hanya tanya, kenapa dia gak langsung cerita sama Nia, malah biarin Nia tahu dari orang lain! Kan gak etis Dad! Harusnya sebelum Nia tahu dari orang lain, dia sudah cerita agar Nia gak salah faham sama."

__ADS_1


Mereka terus berjalan bersampingan, sementara Zian berjalan beberapa langkah di depannya.


"Daddy rasa apa yang Zian katakan itu benar! Dia tidak ingin membahsanya karena merasa hal itu tidak penting sayang."


"Nah justru itu, dia menganggap hal itu tidak penting! Tapi buat Nia itu sebaliknya Dad!" Agnia menoleh pada Ayahnya itu, "Dan lain kali, Daddy jangan menguping pembicaraan orang lain. Daddy kayak ibu ibu tahu gak!" sungutnya lagi.


Zian menekan pintu lift khusus, belakangnya Agnia juga Dave yang ikut berhenti dan ikut masuk saat lift terbuka. Pria 34 tahun itu tetap membisu, merasai kepalanya yang semakin berdenyut.


Ketiganya terdiam, dan tidak ada yang mengeluarkan suara. Sampai Agnia melirik Zian yang terus menatap lurus kedepan dengan kedua tangan berada di dalam saku.


Kenapa dia yang marah! Harusnya kan gue yang marah, gue belum puas sama penjelasannya. Aneh banget malah marahan dia daripada gue. batin Agnia.


"Dave kabari aku secepatnya mengenai proyek itu, jika ada yang tidak kau mengerti. Kau bisa tanya pada Kim!" celetuk Zian tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya.


"Kenapa harus sekretaris Kim ... sudah tahu dia punya rasa, malah makin bikin dia baper tahu!" sungut Agnia saat mendengar ucapan Zian yang lagi lagi menyangkut nama Kim, entah kenapa dia semakin sensitif akan nama sekretaris yang dia saja kagumi sejak awal.


Zian menghela nafas, "Baby! Please ... aku benar benar tidak ingin membuat masalah diantara kita."


"Nia ... sudah! Apa yang dikatakan Zian memang benar, karena Kim selalu membantu pekerjaan Daddy. Apalagi saat ini dia kekasih Daddy. Oke!" timpal Dave, tangannya terulur mengelus bahu sang putri agar tidak terus mendesak Zian yang jelas jelas terlihat malas meladeni Agnia yang marah.


Pintu lift terbuka, ketiganya keluar bersamaan walaupun Zian tengah menahan amarahnya, namun dia juga memperlambat langkahnya agar Agnia bisa menyamainya. Zian merogoh ponsel dan menghubungi seseorang, terlihat dia menempelkan benda pipih itu di telinganya. Melihat Zian tengah menelepon, Agnia mempertajam pendengarannya serta lebih dekat padanya.


'Batal kan semua agenda hari ini!'


Setelah mengucapkannya dia menutup sambungan telepon itu dan memasukkannya kembali pada saku celananya, dan melirik Agnia sekilas lalu kembali menatap lurus.


"Ih ... apaan!" desisnya.


Sampai mereka tiba dilobby perusahaan, Zian menyuruh bawahannya memanggil supir kantor agar mengantarkannya pulang.

__ADS_1


Dave sempat menawarkan diri, namun pria itu menolaknya terang terangan. Bahkan menyuruh Dave pergi terlebih dahulu.


Keduanya masuk kedalam mobil, Zian memijit keningnya dengan bersandar pada sandaran mobil, sementara Agnia menatapnya.


"Sini Nia pijit!"


"Tidak usah! Kau juga pasti lelah."


"Gak! Udah sini."


"Baby!"


Agnia mendengus, dia bahkan menghentakkan kaki lalu ikut menyandarkan punggungnya dan menatap ke luar.


"Besok siapkan supir yang akan mengantar jemput istriku!" seru Zian pada supir yang melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Baik pak!"


"Hey ... Nia gak mau ya. Nia lebih suka naik ojek online dari pada mobil. Belum macet bikin kesel."


"Tidak usah membantah Nia! Aku tidak ingin kau pergi kesana kemari sendirian."


"Bilang saja Om gak ingin Nia nyusul ke kantor."


"Astaga Agnia!"


.


.

__ADS_1


Nia bikin kesel terus yaa... wkwkwk dah tahu om lagi pusing males ladenin. Sini Om sama othor aja di manja manja hihihi.


__ADS_2