Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 42


__ADS_3

"Enggak sih! Nia yang memilih pergi!"


"Kenapa?"


"Kare--- eh ... udah ah, kenapa malah jadi curhat!"


Zian menyunggingkan senyuman, "Tidak apa-apa, waktu ku banyak! Jika kamu ingin cerita, silahkan saja!"


Agnia menggelengkan kepalanya, rasanya seperti sedang bersama Daddy nya sewaktu kecil, dia akan bertanya apa saja dan Agnia menjawabnya, tertawa bersama, dengan memakaikan pita selanjutnya.


"Ya sudah kalau tidak mau cerita, aku pergi dulu!" ujarnya mengacak pucuk kepalanya.


"Eeh...."


Lagi lagi Zian sikap Zian sulit diartikan, Agnia hanya mengerdikkan bahunya.


Setelah rambutnya kering, Zian mencabut kembali hairdyer nya, lalu menyimpannya di meja rias. "Ya sudah kalau tidak mau cerita, aku pergi dulu!"


"Tunggu sekretaris Kim disini!" sambungnya lagi.


"Terima kasih Om!"


Agnia menatap rambutnya yang sudah kering, dia heran pria itu pandai sekali seperti pegawai salon, rambut panjangnya juga rapih sekali, dia pun tersadar jika hairdyer itu milik Dita dan sekarang berada di kamarnya.


Agnia pun bangkit kembali keluar dan berpapasan dengan sekretaris Kim, "Nia kau siap?"


"Memangnya kita mau kemana?" ujarnya dengan menyimpan hairdyer di nakas hiasan.


"Kau ikut aku ya!" ujarnya kembali turun.


Semua orang di tanya gak ada yang jelas, membuatku pusing saja. gumamnya dengan mengikuti langkah Kim.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan segera pergi. Kim melajukan kendaraannya mengarah ke mall yang tidak jauh dari rumahnya.


Sekeretaris Kim membawa Agnia ke gerai dress, "Pilihlah yang kamu suka Nia!"


"Tunggu, kenapa aku harus memakai dress?"


"Apa Zian tidak memberitahumu?"


Agnia menggelengkan kepalanya, "Tidak, memangnya apa?"


"Sore ini kamu akan menemani Zian menghadiri undangan perayaan sebuah perusahaan rekanan!"


Agnia menunjuk dirinya sendiri, "Aku ... ikut undangan? Itu kan buat bapak-bapak, dan ibu-ibu."


"Kalau kamu tidak mau bicara saja pada Zian langsung!"


"Ook---" Agnia keluar dari gerai.


"Sayangnya tidak ada penolakan!"


Agnia membulatkan matanya saat melihat Zian sudah berada di depannya, "Kok Om disini juga!"


"Aku memang sudah memesan pakaian suit ku disini, dengan dress yang akan di pakai oleh kekasihku, namun karena Dita belum bisa pulang, jadi kamu yang menggantikannya!"

__ADS_1


Dita lagi ... Dita lagi!


"Tapi kan aku tidak mau! Disana pasti membosankan," elaknya.


Zian masuk dan lagi-lagi menarik tangan Agnia, "Kim kau urus dia!"


"Tapi kan Om!"


"Ayo Nia ... hanya sebentar, kamu cukup berdiri disampingnya tanpa harus berbicara apapun."


"Tuh apalagi gitu, makin males gue...."


Sekeretaris Kim menghela nafas, "Dari pada Dita yang datang, dan membuat semuanya kacau! Lebih baik kamu yang datang!" bisiknya ditelinga Agnia.


"Ih ... kenapa harus gue sih!"


.


Setelah menunggu hampir satu jam yang penuh drama, dan kekesalan dari Zian maupun Agnia, akhirnya Agnia keluar dari fitting room, membuat Zian semakin terpesona dengan gadis kecil yang masih berumur 17 tahun itu.


Tubuhnya yang berbeda dari umurnya itu menyilapkan mata, Zian bahkan terpaku ditempatnya, saat Agnia menghampiri nya.


"Nih udah, kayak tante-tante tahu gak!"


"Kim ... selesaikan pembayarannya, aku pergi dulu!" ujarnya menarik tangan Agnia, namun kali ini dengan lembut, Agnia hanya mendengus.


Zian membuka pintu untuknya dengan senyuman mengembang, sementara Agnia masih tersungut masuk ke dalam mobil, keduanya kini saling terdiam, dengan fikirannya masing-masing, terlebih Agnia yang masih tersungut-sungut itu.


Setelah perjalanan tanpa kata-kata itu, kini Zian menghentikan mobilnya disebuah gedung hotel, Agnia kembali mendengus, "Hotel lagi ... hotel lagi."


"Ayo keluar! Kita tidak akan lama, setelah selesai, aku janji kita akan segera pulang!" ucap Zian.


"Jangan kemana-mana!!" gerutunya mengulangi perkataan Zian.


Mereka pun akhirnya masuk, sesekali Zian melirik Agnia yang memasang wajah malasnya, "Senyum, jangan membuatku malu membawamu!" gumamnya pelan.


Agnia mendengus, lalu mengangkat bibirnya melengkung, "Begini kan!" ujarnya lalu melengos.


Deg


Pandangan matanya tertuju pada sesosok pria, pria yang tengah dia gali informasinya pada Cecilia, namun kini dia melihatnya berada disini. Bersama seorang wanita, Agnia memicingkan kedua mata, menatap ke arah mereka.


Benar itu dia, dan pasti akan ada Mami juga! Celaka, jangan sampai mereka tahu!


"Nia ... ayo!" Zian kembali membawa Nia bergabung dengan rekan-rekannya, sementara dia hanya terdiam dengan senyum yang merekah dibibirnya. Zian menatapnya diam-diam, Jago juga dia berakting!


Setelah menunggu sekian lama, sosok yang dia cari tidak muncul juga, pria itu rupanya tidak datang bersama ibunya, melainkan wanita lain, yang terlihat seumuran dengan ibunya.


"Apa jika seorang pria datang dengan wanita lain, bisa di sebut selingkuh?" tanya Agnia pada Zian, membuat Zian tersedak.


"Nia, kau menyindirku? Jangan bertanya macam-macam, aku tidak mau menjawabnya!"


"Aku hanya bertanya! Aku melihat seseorang, ya teman dekat ibuku disini, tapi dia tidak datang dengan ibuku!"


Zian ikut mengedarkan pandangannya, "Aku tidak mau berspekulasi!"

__ADS_1


.


Seseorang terdengar memanggil Zian, kemudian mereka saling mengobrol, membuat Agnia mempunyai kesempatan mencari tahu lebih lagi tentang pria tersebut.


"Om ... aku mau ke toilet!" bisiknya pada Zian.


Zian terlihat mengangguk, dan kedua matanya mengikuti pergerakan Agnia hingga ujung ruangan dimana toilet berada.


"Bro ... pacaran mulu kapan kawinnya?"


"Sialan kau Dim ... !"


"Habisnya aku lihat, kamu doang nih yang betah belom nikahin pacarmu itu!"


"Nanti aku sebar undangannya."


"Seriusan, kawin sama yang mana?" Dimas tergelak.


"Sama Dita yang model itu, atau sama yang ini?" sambungnya masih tergelak.


"Lo pacaran lama ujung-ujungna kawin sama orang lain."


Zian tidak menyanggah, tidak juga mengiyakan, dia justru ikut tertawa, dengan pandangan mulai mencari Agnia yang tidak juga kembali.


Sementara itu


Agnia keluar dari toilet, berjalan kembali ke arah Zian, namun tiba-tiba melihat pria itu tengah mencium pipi wanita yang disampingnya, membuatnya semakin penasaran dan juga geram.


"Lihat saja, akan aku buat perhitungan denganmu!"


Agnia melangkah mendekati mereka, namun tangannya terasa ditarik ke belakang.


Brukk


Agnia terhuyung menabrak pria dibelakangnya.


"Sudah aku bilang, jangan kemana-mana kan!"


Keduanya kini saling menatap, dengan tangan Agnia yang berpegangan pada bahunya, "Om Zian!"


"Kamu salah arah, ke arah sana harusnya!" ujarnya lembut.


"Aku--aku tadi lihat...." gumamnya.


"Ayo kembali,"


Agnia menoleh kerah belakang, dan pria tadi sudah tidak ada, pandangan dia edarkan, dan benar saja, pria dan seorang wanita itu berjalan menuju lift. Mereka pasti ke atas, dan berbuat me sum. Kurang ajar!


"Nia lihat apa? Ayo...."


Agnia mengangguk, dan mengikuti Zian kembali.


Dia kembali duduk, begitupula dengan Zian,


"Om ... Setelah ini selesai, Nia mau ke atas!"

__ADS_1


Glek


Zian tersedak asli hanya sendiri.


__ADS_2