
"Ya ampun Nia, apa maksudnya? Mommy tidak menyukai pria itu." kilah Laras dengan mengikat rambutnya ke atas. "Mommy hanya pernah mengajak kerja sama dengan perusahaan Zian, dia bahkan mungkin tidak tahu mommy pada saat itu, karena yang mengurusnya bukan dia, mommy ingat waktu itu mommy bertemu dengan sekretarisnya, dan beberapa hari kemudian, mereka menolak proposal kerja sama mommy." terang Laras dengan sangat jelas.
Walaupun sebenarnya, Laras pun mulai tertarik dengan pembawaan Zian yang tenang dan juga tampan, gaya bicara yang seperlunya saja, tidak berlebihan dan juga percaya diri. Sangat mapan, jika bukan putrinya sendiri, dia sudah pasti akan ikut bersaing, namun karena Zianlah, putrinya terawat dengan baik, dia menjadi segan dan tahu diri.
Agnia tidak kuasa menahan rasa malu, karena berpikir yang tidak tidak terhadap ibunya, Nia lo kenapa jadi bego gini sih! Lagi pula bukan salah gue kalau gue berfikir ke arah situ, kan gue dengernya pas bagian itu doang! Jadi gak salah dong. batin Agnia mencari pembenaran atas tingkah konyolnya sendiri.
Laras menggelengkan kepalanya, "Walaupun mommy masih berharap jika Nia menemukan pria yang sepantaraan, tapi mommy tidak akan menghalangi kebahagiaan Nia, selama ini Nia sudah cukup menderita karena mommy dan juga Daddy, sayang!" ujarnya dengan mengelus rambut nya.
Agnia termenung mendengar penjelasan dari ibunya, dia pun merebahkan diri diatas paha sang ibu, "Jadi yang ditolak bukan perasaan mommy?"
"Ya bukan sayang, yang ditolak proposal kerja sama Mommy waktu itu."
Gue kira mommy sempet suka sama om Zian, gak kebayang deh kalau itu terjadi. Udah kayak sinetron sinetron yang sering ditonton bi Nur.
"Dia itu memang selektif, tidak hanya bicara, tapi dalam bekerja, buktinya mommy aja ditolaknya,"
Selektif apanya, mommy gak tahu aja kalau dia itu mesum, bicara seenaknya, bahkan kata- katanya juga kadang norak, norak banget. batin Agnia, dia ingin sekali mengatakannya, namun justru dia malu sendiri jika ibunya tahu kalau dia dan Zian pernah berciuman.
Jangan sampe mommy tahu deh!
Tak berselang lama, terdengar bel pintu berbunyi, Bi Yum tergopoh-gopoh membuka pintu. Dan Seorang pria berjas hitam berdiri di hadapannya.
"Mana Laras?" ujarnya dengan merangsek masuk.
"Maaf anda siapa?"
"Katakan padanya, aku ingin bertemu!" ucapnya dengan berjalan masuk walaupun bi Yum menghalaunya, namun pria itu tidak memperdulikan bi Yum, dia sudah berada didalam.
Laras dan Agnia pun keluar saat mendengar keributan yang terjadi diantara bi Yum dan juga pria yang tengah membelakanginya itu.
"Kau?"
__ADS_1
"Laras! Aku ingin bicara denganmu, ini penting." ujarnya serius.
Agnia mematung ditempatnya, dia mengenal pria yang kini berjalan mengejar ibunya masuk, dia Hendra. Pria hidung belang yang sempat dia kerjai habis habisan.
Hendra berhenti tepat didepan Agnia, dan menatapnya tajam, lalu dia kembali menyusul Laras yang masuk kedalam ruangan tamu.
"Bukankah sudah aku katakan aku sudah tidak ingin terlibat apapun denganmu!"
"Bukankah gadis itu putrimu?" tanya Hendra yang terus melihat ke arah belaakang.
"Hm ...!"
Hendra melingkarkan tangannya memeluk Laras, "Pantas saja, sepertinya aku tidak merasa aneh dengannya!"
"Lepaskan tanganmu Hendra!" ujar Laras dengan menepis kedua tangan Hendra dipinggangnya. "Katakan ada apa kau kemari?" ketusnya lagi.
"Aku merindukanmu Laras, kenapa kau susah sekali aku hubungi?"
"Kenapa? Apa karena usahaku sedang bangkrut? Kau tidak mau lagi? Bukankah aku sudah katakan padamu, seseorang menjebak kita!"
"Aku tidak peduli dengan usahamu Hendra, aku sudah katakan dari awal kita hanya main-main saja! Terlebih setelah kejadian beberapa waktu di hotel itu." Laras keluar dari ruangan tamu, "Sekarang pergilah, aku tidak mau putriku melihat kita dan berfikir yang bukan bukan." tegasnya lagi dengan menunjuk pintu keluar.
Agnia yang sedari tadi memang sengaja menunggu mereka keluar itu pun mendengar semuanya dengan jelas, yang mereka bicarakan itu adalah dirinya, dialah yang menjebak Hendra dan ibunya, agar ketahuan saat itu juga, namun ternyata ibunya lebih pintar hingga dia tidak berada di kamar hotel saat istri Hendra datang.
"Pergilah Hendra, jangan pernah kembali ke rumah ini lagi! Dan anggap saja permainan kita sudah selesai."
"Kau memang pintar Laras!" ujar Hendra kesal, karena keinginannya tidak terpenuhi. Dia pun keluar, namun saat kembali melewati Agnia, pria itu menyipitkan kedua mata, tak ingin kalah, Agnia pun membalasnya dengan tatapan tajam.
"Sepertinya aku pernah melihatmu!"
"Benarkah? Kau pasti salah lihat tuan!" jawab Agnia dengan ketus.
__ADS_1
Hendra mengingat tatapan tajam itu, tatapan yang sempat dia lihat sebelum akhirnya tak sadarkan diri karena pengaruh obat tidur, tapi dengan sangat jelas dia ingat kedua mata gadis pada malam itu.
Dia pun menatap Agnia cukup lama, seolah memastikan apa yang dia ingat sebelumnya, Agnia buru-buru membuka pintu rumah dan membiarkan Hendra keluar dari rumah. Namun pria itu justru menoleh dan menatapnya lama.
Agnia menatapnya dari balik jendela, "Ngapain sih dia masih diem disitu?"
Dia pun keluar dan menghampirinya, Hendra yang terdiam itu bertanya-tanya, apakah Agnia yang dia lihat itu benar benar gadis yang menemuinya dihotel dan berhasil menggasak uangnya.
"Aku fikir aku tidak salah mengenalimu nona! Kau memang Lady, gadis yang telah menipuku! Benarkan?"
Agnia awalnya merasa kaget, namun dengan cepat dia bisa mengontrol dirinya, dia pun terkekeh. "Om jeli juga ternyata!"
"Jadi benar? Kau Lady? Sekarang kembali kan uangku!" ujarnya dengan marah.
"Tidak ada!"
Hendra mencekal pergelangan tangan Agnia dengan kuat, "Dengar gadis kecil, aku tidak akan membiarkanmu kali ini! Kau bersekongkol dengan ibumu untuk menipuku. hah!"
"Lepaskan! Aku tidak melakukannya! Kau salah kira." kilah Agnia berusaha mencoba melepaskan diri.
"Aku tidak salah, kau gadis itu ... Lady! Aku mengenali mu! Aku akan mengatakannya pada Laras, kalau anaknya sendiri yang telah menjebakknya!" Sentak Hendra.
Agnia menepis tangan Hendra, "Rupanya kau jeli juga! Iya aku Lady ... dan jangan harap aku takut dengan ancamanmu, aku measih menyimpan nomor istrimu di ponselku, kalau kau masih nekad datang kemari dan berani mengganggu, aku tidak segan memberi tahu istrimu!"
"Kau pintar juga seperti Laras, tidak salah lagi ... kalian berdua yang sengaja mempermainkan ku! Aku tidak takut pada istriku, kalau kau mengancam itu percuma, aku akan tetap minta uangku kembali, dan aku akan menagihnya pada Laras ibumu."
"Apa kau tahu? Uangmu sudah aku kembalikan pada istrimu...! Sekarang pergilah, sebelum aku benar-benar akan menelepon dia."
Hendra tergelak, seorang gadis kecil berusaha menggertaknya.
"Ayo telepon dia sekarang juga!"
__ADS_1
Sialan ... dia sengaja memancingku! Duh ponsel gue mana lagi nih! Batin Agnia dengan meraba ponsel disaku belakang namun ternyata tidak ada.