
"Jadi sepanjang hari kau harus melakukan itu pada ku baby!"
Agnia terperanjat, bagaimana mungkin melakukannya sepanjang hari, tidak bisa dia bayangkan melakukan hal itu di kantor, ditempat meeting atau dimanapun itu.
"Aneh aneh deh!"
Zian mengusap perut rata Agnia dengan lembut, "Katakan pada mami mu ... dia harus melakukannya atau papi mu ini tersiksa sepanjang hari karena ulahmu."
Agnia menepis tangan pria yang kini mengulum permen dengan semangat, cara Agnia terlampau unik baginya, tidak hanya membuat mualnya hilang, namun dia juga berasa masa masa remaja yang dia lewatkan dengan berat dan juga terlewatkan begitu saja kini terasa kembali.
Tidak bisa dia pungkiri, semenjak mengenal Agnia, dunianya terasa jungkir balik. Menggeser pekerjaan didalam otaknya sedikit demi sedikit, ditambah kehadiran calon bayi yang akan membuatnya lebih sempurna. Tampan, kekuasaan, materi, kesetiaan royalitas orang orang yang bekerja padanya, istri muda yang cantik. Apalagi yang dia harapkan. Semua sudah dia gapai, namun tentu saja dibalik kesuksesannya saat ini, dia pernah mengalami hari hari paling berat dalam hidupnya.
"Mikirin apa hem? Otak mesum ya?" tanya Agnia tiba tiba saat melihat Zian yang terus mengulas senyuman, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas.
"Tidak! Aku hanya sedang memikirkan hidup ini ... hidupku sudah luar biasa saat ini, dengan adanya dirimu dan anak kita menjadi pelengkapnya."
"Uuuhh ... sweet banget sih om om ini!" Agnia menggusel kedua pipi Zian bak seorang anak kecil saking gemasnya.
"Hidup Nia juga berubah sekarang, gak hanya punya kamu yang jadi pijakan Nia semakin kuat, tapi juga keluarga Nia yang kembali. Kalau mikirin dulu dulu ... eempphh, gak kebayang Nia punya suami seperti ini! Galak, pemarah." ujarnya terkekeh. Ingatannya kembali pada sosok Zian yang mempesona tapi menyebalkan, galak dan juga pemarah.
"Tapi sekarang tidak kan? Justru kau yang lebih galak sekarang padaku," Tukas Zian dengan mencuil hidung Agnia.
Agnia terkekeh, lalu mendekatkan ewjahnya ke arah telinga Zian. "Terima kasih udah hadir dihidup Nia. I love you my Superman, My sugar daddy!"
Keduanya tertawa, dengan Zian yang menarik tubuh ibu dari anaknya yang tengah tumbuh dalam rahimnya kedalam pelukan.
"I love you too Bukan sugar baby!"
"Percaya kan sekarang kalau Nia Bukan seorang Sugar baby?"
Zian mengangguk, "Percaya ... bahkan jika tidak ada yang percaya, aku lah satu satunya yang percaya akan hal itu baby!"
Agnia semakin merekatkan pelukannya, begitu juga Zian yang terus mengecup pucuk kepala Agnia. Hingga mobil tidak lagi melaju.
"Kita sampai tuan!"
Suara supir membuyarkan moment moment hangat diantara keduanya.
"Nia masuk dulu!"
__ADS_1
"Hm ... setelah selesai, kabari aku ya! Aku akan menjemput."
"Gak usah! Nanti Nia naik ojek online aja!"
"Nia?"
"Oh gak naik motor ... tapi taksi online ya ya!" ujarnya menggeser tubuhnya, tangan kanannya sudah siap memegang handle pintu mobil.
"Baby!"
"Ya ... boleh ya! Sekali aja ... besok baru dijemput supir. Nia janji!" ujarnya merekatkan gigi putihnya.
Zian menghela nafas, "Baby ... jangan aneh aneh! Kau sedang hamil."
Agnia yang sudah membuka pintu kembali menutup pintu lalu mencondongkan wajah ke arahnya.
Cup
Kecupan mendarat di pipi Zian, hingga pria itu kembali menghela nafas, "Sekali aja ... Nia janji!"
Setelah Agnia keluar, Zian tak melepas pandangannya pada wanitanya itu, walaupun Agnia telah masuk kedalam gerbang besar fakultas dan berbaur dengan yang lain.
Hari ini hanya penyerahan data data saja, dan dipastikan hanya akan sebentar.
"Nia!" seru Nita yang melihatnya tengah mencari cari ruangan.
Agnia menoleh, dia lantas tersenyum saat melihat Nita yang bergegas menghampirinya.
"Ya ampun ... gue kangen berat sama lo!" Ujarnya dengan memeluk Agnia lalu menggoyang goyangkan tubuhnya.
"Sama Nit! Gue juga ... Mana Cecil?"
"Noh lagi di toilet! Dia bener bener gak bisa konsentrasi pas tes pertama ... bulak balik ke toilet terus!"
"Panik?"
"Kayaknya sih! Lo tahu gak ... dari malem kita gak bisa tidur mikirin dua test hari ini. Lo sih enak, masuk jalur spesial. Gak ikut ikut test lagi."
"Kata siapa ... ngarang lo! Gue test di awal dan itu bener bener berat tau gak! Tapi hasil gak akan menghianati proses kan? Gue yakin kalian juga bisa." ujar Agnia.
__ADS_1
"Gila ... udah nikah makin dewasa aja sih lo! Cocok banget jadi motivator lo!" ucap Cecilia yang memeluknya dari belakang.
"Sialan lo kagetin gue aja!"
"Sorry ibu Agnia yang terhormat," kekeh Cecelia kembali memeluk Agnia, begitupun sebaliknya. "Apakabar lo seminggu ini?" tanyanya.
"Gue baik Ce ... makin baik malah!"
"Hooh lo gak liat muka nya makin kinclong begitu! Berseri seri kayak bidadari begitu!" timpal Nita.
"Paan sih lo!"
"Bukan skincare lagi yang dia pake Nit ... tapi sumber protein tertinggi udah dia dapetin. Halal pula! Ya gak!" tambah Cecilia bersenggolan lengan dengan Nita.
"Lo lagi Ce ... ngeres pasti otak lo! Bagian begituan aja encer otak lo! Apakabar test tadi?"
"Sialan!! Nit lo cerita ...!"
"Iyalah ... emang bener, otak lo cuma encer di bagian permesuman ...!"
Agnia tak berhenti tertawa, sementara kedua temannya kini saling menjambak pelan.
"Sialan lo!"
"Lo lebih sialan!"
"Tapi liat aja ... setaun atau dua tahun dari sekarang, gue bisa ngejar lo Nia ... gue berhenti dari pekerjaan gue sekarang dan jadi nyonya besar yang bahagia!" kelakar Cecilia dengan kedua tangan yang dia rentangkan.
"Gaya lo! Siapa yang mau sama barang bekas kayak lo!" timpal Nita yang tidak rela jika Cecilia memiliki mimpinya sendiri, seolah dia tidak ingin ditinggalkan.
"Ya sama lo juga dong Nit! Lo emang gak mau kayak Cecilia?" ujar Agnia menambahkan.
Ketiganya kembali tertawa, namun tidak lama karena Nita dan Cecilia masih harus masuk ke ruangan dimana test kedua untuk mereka. Sementara Agnia kembali mencari ruangan untuk menyerahkan data miliknya.
Langkah Agnia lebih cepat setelah melihat beberapa orang yang masuk kedalam satu ruangan dengan pintu bertuliskan Penyerahan Berkas.
Agnia tersenyum lalu masuk kedalamnya dengan cepat, namun justru dia bertabrakan dengan seseorang yang hendak keluar hingga dia terjatuh.
"Aw ... pake mata dong!" Agnia berusaha bangkit dan mengambil berkasnya, namun orang yang menabraknya lebih dulu mengambil berkas miliknya.
__ADS_1
"Sorry! Gue gak sengaja. Lo gak apa apa kan?"