
"Meskipun gue mati, gak akan ada yang peduli!"
Tapi tidak ada sedikitpun terbersit dalam fikiran Agnia, dia tidak ingin mati saat itu juga, atau menerjunkan dirinya kebawah sana, sekalipun masalah dalam hidupnya selalu datang bertubi-tubi.
Lo kuat Nia, ini gak seberapa buat lo, lo pantang nyerah pada keadaan, beban lo udah banyak, masa lo kalah dan mati konyol. batinnya bicara, namun dadanya semakin sesak, dia menghela nafas merasakan perih dikedua ujung mata yang tak kunjung reda, ditambah juga hatinya yang terlanjur sakit.
"Nia...? Astaga apa yang lo lakuin?" Dua tangan kekar menarik bahunya dan membawanya menjauh dari pembatas jembatan itu, Agnia terkesiap melihat Regi kini berada dihadapannya.
"Regi?"
"Lo ada masalah apa sampe lo mau lompat Nia?"
Agnia menyusut air mata yang masih menganak di ujung matanya, "Siapa yang mau lompat?" Gue gak akan pernah ngorbanin diri gue sendiri. batinnya kemudian.
"Itu lo ngapain diem disitu? Lo bosan hidup?" Regi memarahi Agnia, gadis itu hanya menatapnya dengan berkaca-kaca.
"Astaga!!!"
Regi menarik tubuh Agnia kedalam pelukannya, dengan tangan yang mengelus lembut punggungnya, "Seenggaknya lo masih punya gue Nia! Gue bakal selalu ada buat lo."
Seketika air mata itu luruh, membasahi baju yang dikenakan Regi, namun Regi tidak peduli bajunya basah sekalipun. Sentuhan lembutnya membuat Agnia kembali tenang.
"Thanks Gi!"
"Ayo gue antar lo pulang!"
Agnia terpaku, dia sama sekali tidak ingin kembali pulang kerumah Zian.
"Sorry Gi ... tapi gue gak bakal balik ke rumah itu, gue mau pergi sejauh mungkin dari sini!"
Regi membawa Agnia duduk di kursi yang ada disana.
"Kenapa? Lo ada masalah sama Om lo? demen banget kabur-kaburan. Lo gak cape apa kabur tiap ada masalah?"
Ucapan Regi menohoknya.
Agnia menggelengkan kepalanya, "Lo gak bakal ngerti Gi!"
"Gue coba untuk ngertiin lo, itupun kalau lo izinin gue tahu semua masalah lo, gak setengah-setengah Nia!" Regi menggenggam tangan Agnia.
"Sorry Gi ... tapi!!"
"Kalau lo gak siap cerita semua sekarang, gak apa-apa!"
"Thanks Gi."
__ADS_1
Untuk beberapa waktu, mereka saling terdiam, Agnia sibuk dengan fikirannya begitupun dengan Regi yang sibuk memikirkan apa yang terjadi pada gadis idamannya itu.
Ponsel masih terus berdering, Agnia menatapnya dan melihat 150 panggilan tak terjawab dari Zian, namun dia justru mematikan daya ponselnya dan memasukkan kembali kedalam tasnya.
Sementara itu Zian kalang kabut mencari Agnia, kedatangan Dita menjadi sumber kekacauannya.
"Apa kau tidak bisa mencegah dia pergi Kim!" Zian mencengkram setir kemudi dengan kuat, suaranya keras dengan rahang kuat bicara pada sekretarisnya.
"Aku sudah mencoba! Tapi kau tahu, Agnia seperti apa!"
"Brengsekk! Ini semua gara-gara Dita, jika saja dia tidak melakukan hal itu, tidak akan membuat Nia salah faham."
Zian melajukan kendaraannya dengan pelan, berharap melihat Agnia sepanjang jalan, namun dia tidak juga menemukannya, entah berapa ratus kali dia mencoba menghubungi ponselnya, tidak sekalipun diangkatnya.
"Dan sekarang ponselnya mati!" Zian melemparkan ponsel miliknya begitu saja, hingga membentur dasboard mobilnya.
Kim juga menghubungi no Cecilia dan juga Nita, namun keduanya tidak mengetahui keberadaan Agnia.
Zian melajukan mobilnya ke rumah, berharap Agnia kembali kerumah dan saat ini mengurung dirinya di kamar.
Dia berlari masuk sesaat setelah menepikan mobilnya didepan gerbang rumahnya, lalu menaiki tangga dan segera menuju kamar Agnia.
Kosong
Tidak ada sosok yang dicari ada disana, sesuai harapannya, ranjangnya masih rapi, barang-barangnya pun masih lengkap. Zian terduduk ditepi ranjang, mencoba mengingat kemungkinan tempat yang akan Agnia tuju saat ini.
Pria bertubuh tegap itu kembali keluar dan masuk kedalam mobil, Kim yang baru saja masuk pun kembali mengikuti Zian.
"Aku ikut!"
"Kita ke apartemen bocah ingusan itu!" ujarnya dengan kembali melaju.
Tak lama kemudian mereka tiba di apartemen milik Regi, dimana terakhir Zian menjemput Agnia dulu, dia masuk begitu saja tanpa mematikan mesin mobil, hingga Kim keluar dan segera mematikan mesin mobil lalu menyusulnya masuk.
Setelah bertanya dengan nada tinggi pada resepsionis apartemen, Zian berjalan masuk kedalam lift menuju unit milik Regi.
Tak lama kemudian dia sampai, namun tidak ada yang membuka pintu kamar itu.
"Brengsekk!!" ujarnya memukul pintu dengan tangan mengepal kuat.
"Lebih baik kita cari ditempat lain!" Ujar Kim.
"Tapi kemana? Aku takut dia pergi jauh Kim!"
Kim menghela nafas, "Kita pasti akan menemukannya."
__ADS_1
Hampir semua tempat sudah mereka telusuri, namun nihil, keberadaan Agnia tidak kunjung ketemu, Zian hampir putus asa mencarinya hingga larut malam.
Kim yang khawatir pada Zian pun menyuruhnya kembali pulang, dan menunggu Agnia dirumah, namun Zian bersikeras mencarinya, tidak peduli malam yang semakin larut ataupun dirinya yang lelah.
Fikirannya semakin kalut, semua tempat sudah dia datangi, bahkan dia sudah melaporkannya berita kehilangan ke kantor polisi, walaupun polisi mengatakan harus menunggu 24 jam untuk melakukan pelaporan tersebut.
Dengan kekuatan uang yang dia miliki, saat itu juga polisi ikut mencarinya, keberbagai tempat, namun tidak menemukannya juga.
Zian akhirnya kembali pulang, berharap Agnia sudah berada dirumah, namun rumah besar itu tampak sepi, tidak ada Agnia sama sekali.
Dilain tempat, Anindita tertawa. Rencananya berhasil, kini dia hanya perlu memastikan Zian kembali padanya.
"Terima kasih Tante, tanpa bantuanmu, aku tidak akan berhasil!"
Anindita mengangkat gelas berisi wine kearah wanita berkaca mata dihadapannya.
"Kau jangan lupa janjimu Dita!" ujarnya dengan berseringai.
"Tante tenang saja, aku akan menepati janji selama Tante membantuku mencapai tujuan dan membuat Zian kembali padaku!"
Mereka berdua tertawa, lalu Dita menenggak isi gelas itu hingga habis, sementara wanita dihadapannya menyeruput es jeruk miliknya.
"Mereka masih saja bodoh!" gumam Dita.
"Aku sebenarnya kasihan pada anak itu, dia itu terlalu baik hati, sungguh berbeda denganmu yang memiliki otak licik!" Wanita itu terkekeh
"Kau benar Tante, aku memang licik ...!" Ucapnya terkekeh.
"Jabatanku dipertaruhkan disini, jadi jangan sampai tuan Zian tahu aku yang ikut membantumu,"
"Kau tenang saja! Aku tidak akan melibatkan mu, dan rencana ini tidak akan gagal! Jallangg kecil itu pasti sudah pergi jauh, dan dia tidak akan kembali mengusik rencanaku. Dan aku akan menjadi nyonya Maheswara. Karierku juga akan kembali bersinar seperti dulu!" ujarnya mulai meracau.
"Lebih baik aku pergi sekarang! Aku tidak mau gegabah dan Tuan Zian menemukanku sedang bersamamu."
Setelah kepergiannya, Dita kembali terkekeh, dengan mengetuk-ketukkan kukunya diatas meja.
"Aku tidak sabar untuk kembali bersama mu Zian."
.
.
...Hai ... readers terima kasih karena sampai episode sejauh ini kalian masih setia, mohon maaf kalau alurnya tidak sesuai harapan kalian, dan terkesan lambat tanpa ada kemajuan atau berputar-putar seperti gasing🤪, tapi ya othor harap kalian bisa menikmati setiap alur yang othor buat....
...Terima kasih buat dukungan yang begitu sangat luar biasa. Dan karena aktifitas othor sudah kembali normal, mohon maaf jika up bab nya bisa berubah- rubah....
__ADS_1
...Semangat semua❤️❤️...