
"Kenapa lagi baby?"
Agnia mencebikkan bibir ke arahnya, melihat Zian tidak juga mengerti walau dia sudah merentangkan kedua tangannya. Zian berjalan mendekatinya, namun tidak juga melakukan apa apa yang terlihat hanya dahinya saja yang berkerut.
"Kenapa hm?"
Agnia berdecak, "Peluk!!"
Pria bertubuh tegap itu mengembuskan nafasnya, dia berjalan tiga langkah lalu melingkarkan kedua tangannya pada tubuh ramping sang istri.
"Cuma mau dipeluk harus banyak drama!" Gumam Zian, "Aw! Sakit baby!" Gumamnya lagi saat Agnia memukul punggungnya.
"Jangan bilang drama drama ... Nia juga bingung kenapa sensi banget kayak gini. Om fikir aja sendiri, kenapa Nia jadi kayak gini. Om sendiri yang bikin kesel."
Zian semakin mempererat pelukannya, hingga kedua tubuh yang saling merapat itu bergoyang goyang.
"Iya ... sudah! Aku kan sudah minta maaf."
Siapa yang salah, siapa juga yang harus minta maaf. Sebanyak wanita yang membuatku cinta, rasanya hanya dia yang bisa membuatku bertekuk lutut tak berdaya seperti ini. Batin Zian.
Dengan satu kali gerakan pria matang bertubuh tegap lengkap dengan otot kuat itu mengangkatnya dengan memegang pinggang Agnia. Bak seorang anak kecil, Agnia bergelayut manja dengan kedua kaki melingkari pinggang suaminya.
"Sayangku ...!!" Ujar Zian saat Agnia membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. "Tadi marah marah sekarang sedih ya!"
Agnia menganggukkan kepalanya, dengan semakin tenggelam di leher Zian serta kedua tangan yang melingkari lehernya penuh.
"Kau ingin sesuatu hem?" Agnia menggelengkan kepalanya.
"Makan sesuatu yaa ... Es krim mau?"
"Enggak mau!"
"Terus apa dong? Pergi nonton ya? Mau...?"
"Enggak mau ...! Mau peluk aja." Ujarnya.
Zian mengulum senyuman, bak membujuk anak TK yang tengah merajuk, tidak ada lagi kekesalan apalagi ingin marah. Justru dirinya merasa bahagia saat tahu Agnia bersikap manja, dan semakin yakin istri kecilnya itu akan semakin manja karena kehamilannya.
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan dalam posisi Agnia yang bergelayut, Zian pun membawanya duduk dan Agnia tidak merubah posisinya, dia tetap memeluknya erat. Tangan Zian terulur mengelus punggung Agnia, dan memberikan pijatan lembut yang menenangkan.
"Baby!"
Tidak ada jawaban dari sang istri, namun embusan hangatnya terasa begitu lembut mengenai kulitnya.
"Apa kau tidur?"
Zian mengulas lagi senyuman, hari ini hari pertama dirinya tahu jika dia akan menjadi seorang ayah, dan terasa cukup melelahkan mengimbangi mood istrinya yang turun naik. Namun Zian tidak mengeluh, dia begitu bahagia bisa menikmati saat saat terindah dalam hidupnya.
Agnia tertidur dalam posisi duduk dipangkuan Zian, dia membawanya ke atas ranjang dengan pelan pelan bak memindahkan seorang bayi. Menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Baby ... i love you so much." Bisiknya lembut lalu mengecup keningnya lama dan dalam.
Lalu Zian beralih pada perut rata dimana saat ini tengah tumbuh calon anaknya.
__ADS_1
"Sehat sehat diperut Mami sayang, jangan nakal dan membuat mami repot ya ... jangan biarkan mami terus marah marah sama Papi. Kau harus mendukung Papi oke. Kalau Mami marah, cegah dia. Ya ... ya anakku sayang." Ucapnya dengan elusan lembut, seolah Zian tengah berbicara dan apa yang ada di dalam perutnya mengerti.
"Iya ... sayang! Jaga Mami ya." Ucapnya lagi mendaratkan kecupan sebanyak dua kali.
Setelah itu barulah Zian turun dari ranjang, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Senyuman di bibirnya tidak hilang juga sampai dia selesai dengan ritualnya. Dia keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaiannya dengan terus melihat sang istri yang terlelap.
Setelah itu dia kembali keluar dari kamar dan berjalan turun ke bawah, namun langkahnya terhenti di anak tangga terakhir saat melihat dua orang yang tengah bertukar saliva di atas sofa.
Zian kembali mengulum senyuman, dia juga bahagia melihat keduanya terutama Kim yang akhirnya terlihat bekerja keras membuka hatinya pada Dave.
Ekhem
Zian berdehem membuat aktifitas menyenangkan itu berhenti, Dave menoleh ke arahnya dengan kekesalan yang membuncah, sementara Kim menyusut bibirnya dengan tangannya.
"Brengsekk ... kau mengganggu saja!"
"Dave!" Desis Kim mencekal lengannya.
Zian berjalan ke arah mereka dengan terkekeh, "Bagaimana rasanya diganggu? Tidak enak kan! Rasakan itu."
Dave melemparkan bantal sofa ke arah Zian yang kembali berjalan lurus menuju ruangan kerja. Dengan terus mencibirnya dan menghindari lemparan bantal yang sama sekali tidak mengenainya.
"Dave sudahlah!"
"Kurang ajar sekali dia ... dasar menantu biadab!" Serunya dengan suara keras.
Dan sepersekian detik terdengar gelak tawa dari balik ruangan kerja. "Kim jangan lupa besok penerbangan pagi."
"Sudahlah ... ayo pulang!" Kim mengangkat bokongnya lalu meraih tasnya. Mereka berdua keluar dari rumah Zian.
"Aku akan mengantarmu." Dave membukakan pintu mobil untuknya.
"Tapi aku kan bawa mobil Dave!"
"Tidak apa ... kau bisa menyimpan mobil mu disini bukan?"
Kim terdiam, dia tampak berfikir mengenai tawaran yang Dave utarakan.
"Baiklah!"
"Yes!" gumam Dave yang masih memegang pintu mobil, Kim masuk kedalam mobilnya, dia pun menutup pintu nya saat Kim sudah masuk dengan tersenyum.
Dave bersiul siul dengan kunci yang dia putar putar di jari telunjuknya.
"Tingkahnya masih seperti itu. Bisa bisa kunci itu jatuh." gumam Kim yang melihat tingkah Dave.
Rasanya lidahnya masih basah saat mengucapkannya, Dave terlihat membungkuk seolah mengambil sesuatu, Dave masuk ke dalam mobil.
"Kunci ku jatuh!" kekehnya dengan menatap Kim.
"Sudah aku duga!" desisi Kim.
"Kau bawa mobil ku saja Dave. Aku akan kembali ke apartemenku malam ini," Ujar Kim menyerahkan kunci mobilnya padanya.
__ADS_1
Dave mengernyit, tak lama Kim keluar dari mobil milik Dave dan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menunggu Dave. Sementara pria itu masih tertegun dibalik kemudi.
"Dave ... ayo! Kau membuang waktu!"
Dengan langkah gontai Dave masuk kedalam mobil milik Kim, dan wajahnya ditekuk.
"Kau akan pergi besok pagi?"
"Hm!!"
"Lalu aku bagaimana?"
Kim menoleh, "Ayolah Dave! Tidak usah bersikap ke kanak kanakan. Aku harus mengurus pekerjaanku."
"Aku pasti akan merindukanmu."
Kim mendengus pelan, "Jalankan mobilnya!"
Dave mematung, dia hanya meraih tangan Kim dan mengecupnya berulang kali. Tampak Kim yang kembali mendengus.
"Dave!!"
Sementara Laras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia hendak pulang ke rumah. Namun tiba tiba mesin kendaraannya menjadi lambat dan berhenti sendiri.
"Kenapa nih!" ucapnya. "Sial ... jangan bilang ini mobil mogok lagi."
Laras keluar dari mobil untuk mengecek mesin kendaraannya yang tiba tiba mati. Dia membuka kap mobil dan menyalakan lampu senter dari ponsel miliknya. Mesin kendaraan itu tampak mengeluarkan asap dan membuatnya kaget sendiri.
Laras berdecak, dia lantas menghubungi nomor montir dan memintanya datang untuk membantu, dia pun akhirnya kembali masuk ke dalam mobil dan menunggu.
Cukup lama dia menunggu, hingga satu mobil menepi di depannya.
Satu pria keluar dari mobil dan melihat ke arahnya. "Mobilmu mogok?"
"Kau dari mana saja! Aku sudah menunggu dari tadi!" ujarnya pada pria yang kini justru mengernyit.
"Kau menungguku?"
"Kau orang suruhan bengkel yang aku hubungi kan?"
Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Laras keluar dari mobil dan menunjukan mesin yang tadi mengeluarkan asap. Pria berkaos putih pun mengikutinya.
"Aku akan coba memeriksanya!"
"Jangan hanya mencoba, kau aku hubungi untuk membantu!"
.
.
Nah lho....hihihi
Selamat hari senin selamat beraktifitas kembali, jangan lupa like dan komen juga vote nya yaaa... makasih, lope lope badag buat kalian.
__ADS_1