
Dave masih menopang dagu dengan kedua tangan yang di relakan bersamaan, dengan tatapan lurus pada wanita yang berada di hadapannya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Dengus Kim dengan penuh penekanan.
Dave yang tidak mengedipkan mata, namun kepalanya menggeleng, "Kau tahu, kita adalah jiwa yang sama, terjebak dalam situasi yang membuat kita tiba bisa maju maupun mundur, aku masih belum rela sepenuh hatu saat tahu Zian memperlakukan Agnia dengan baik, sampai saat ini bahkan sampai Zian melakukan tugasnya, You know...." Dave menggerakkan tangannya hingga bertumpuk lalu di gerakkan seperti tepuk tangan dengan pelan, melihat itu Kim membelalak. "You know that i mean ... but, aku merasa sakit hati, dan bayangan pertama yang aku lihat adalah Jasmine, aku tidak mau Agnia mengalami hal yang sama dengan nya." Dave terlihat menghela nafas, "Tapi dibalik semua itu aku sendiri yang menyetujui pernikahan mereka, karena aku tahu Zian tidak akan melakukan apa yang aku lakukan pada Jasmine dulu. Kau faham betapa rumitnya diriku ini?"
Sekretaris Kim hanya menghela nafasnya pelan, mungkin dia bisa mengerti apa yang di lakukan Dave seperti yang dikatakan Agnia, dia kerap mengganggu Zian dan memastikan dia tidak menyentuh Agnia saat ini.
"Dan entahlah ...!" Dave menjeda ucapannya, lalu mengacak rambutnya dengan kasar.
"Sudah aku katakan bukan! Kau hanya perlu berdamai dengan masa lalu, memaafkan dirimu sendiri sepenuhnya agar bisa hidup bahagia ke depannya."
"Seperti membiarkan Agnia bahagia dengan Zian?"
Kim mengangguk, "Bukankah itu yang aku maksudkan? Aku pergi sejenak hanya untuk mengobati hatiku sendiri, aku butuh ketenangan untuk diriku sendiri karena aku ingin melihat mereka bahagia."
Dave tertegun, sikap Kim tidaklah sama dengan orang pada umumnya, dia menyerah sebelum berperang, bahkan tidak memberikan kesempatan pada dirinya sendiri dengan mengungkapkan semua perasaannya pada Zian, disaat orang lain akan berusaha merebut bahkan melakukan banyak cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, Kim sama sekali tidak ingin melakukan hal itu, dia menjadi dengan baik amanah yang Mahesa berikan padanya sebagai bentuk terima kasihnya selama ini karena Mahesa lah, dia bisa berdiri ditempatnya saat ini.
"Kalau kau membutuhkan teman saat kau pergi, aku bersedia menemani mu! Karena aku rasa aku juga membutuhkan itu!" ujarnya menohok.
"Ta---tapi Dave!"
"Kim ... please? Aku tidak akan mengganggumu, kalau perlu kita berperan seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal, oke! Kau hanya perlu katakan padaku kemana kau akan pergi."
Kim menggelengkan kepalanya, "Kau benar benar keras kepala ... dan aku tahu sekarang dari mana Agnia memiliki sifat itu."
Dave tergelak, "Tentu saja karena dia putriku!"
"Kenapa kau tidak kembali saja pada Laras, Dave?"
__ADS_1
"Kau fikir dia masih akan menerimaku setelah ini Kim? Jika aku melakukan hal itu ... aku bener benar pria pecundang, brengsekk bukan? Kembali padanya setelah aku tidak memiliki apa apa Kim? Benar benar seorang brengsekk."
Kim tergelak kecil, "Tahu diri juga rupanya!"
"Ya walaupun pada awalnya aku mencobanya, namun setelah aku berfikir lagi dengan otakku yang cerdas ini ... aku merasa kasian padanya!"
"Hm ... kau yang meninggalkannya, tapi kau juga yang mengemis ingin kembali! Sungguh tidak tahu diri!" Sela Kim dengan masih tergelak walaupun datar.
"Itu yang aku maksud!"
Setelah pembicaraan panjang lebar itu, mereka semakin akrab, Dave maupun Kim tahu apa yang mereka rasakan, memiliki perasaan yang sama walaupun berbeda situasi. Kesamaan mereka itulah yang akhirnya membuat keduanya semakin terbuka, namun hubungan mereka juga tidak lebih dari sebatas teman.
Keduanya keluar dari kafe, berjalan sepanjang jalan dengan terus mengobrol.
"Kau akan pergi kapan?"
Namun Kim tidak menjawabnya, dia hanya mengulas senyuman, dia masih berfikir apa pergi dengan Dave adalah hal benar.
Kimbbenar benar mengajukan surat cuti dengan waktu yang tidak terbatas, dia juga memberikan catatan penting yang harus Agnia lakukan selama dirinya Pergi, semua hal hal berkaitan dengan urusan perusahaan juga pribadi dari Zian.
'Nia ... belajarlah dengan giat! Dan aku tahu lain pasti bisa.'
Note itu Kim tulis di buku catatan yang Agnia pegang saat ini, buku catatan yang dititipkan pada bi Nur yang harus di berikan saat Agnia dan Zian pulang dari hotel xxx.
"Apa sekretaris Kim benar benar pergi?" tanyanya pada Zian yang kala itu duduk di sofa, melihat semua jadwal untuk beberapa waktu ke depan. Ada perasaan yang sulit dia ungkapkan saat ini karena selama ini dia sangat bergantung pada Kim, kesal tentu, wanita itu baru sekarang pergi meninggalkannya hingga waktu yang dia sendiri tidak tahu.
"Apa ada masalah yang terjadi diantara kalian sebelumnya? Karena sekretaris Kim pergi tiba tiba kayak gini! Dia juga bilang gitu tadi pas aku nungguin meeting."
"Tidak ada baby! Sekesal kesalnya dia padaku, dia tidak pernah pergi seperti ini! Dia pasti hanya akan menggertak jika aku membuatnya marah, tapi tidak pernah sekalipun pergi."
__ADS_1
"Aneh ... seperti orang yang patah hati!" gumam Agnia.
Zian tergelak, "Mungkin juga ... dia patah hati karena kencannya selalu gagal, tidak usah kau fikirkan. Nanti juga dia kembali." tukas Zian dengan kembali membuka ipad yang berisi jadwal meeting dan juga bertemu klien.
Agnia duduk disamping Zian, membaca satu per satu catatan Kim yang banyak itu.
Apa gue bisa? Gue harus bisa. Batinnya dengan sepenuh hati.
Setelah menyimpan buku catatan itu, Agnia mulai membuka laptop miliknya, hari ujian pun akan tiba, dia harus benar benar belajar agar biss lulus dan masuk universitas favorit yang dia inginkan.
Dave datang dengan tatapan menyipit ke arah keduanya, dia lantas duduk di sofa dihadapan mereka.
"Daddy? Kau sudah pulang?" ucaonya dengan menghampirinya lalu duduk disampingnya.
"Hm ... Daddy baru saja pulang sayang, dan mungkin Daddy besok akan pindah kembali ke apartemen."
"Kenapa terburu buru!" Celetuk Zian tanpa mengalihkan pandangannya pada Ipad yang dia pegang.
"Iya ... Daddy kenapa gak tinggal disini aja sih! Iya kan om?"
"Tentu ...!"
Zian tidak lagi ingin mempermasalahkan hal itu, tentu saja, karena dia dan Agnia sudah melakukan hal itu.
"Karena Daddy rasa Daddy menang sudah waktu nya kembali sweetheart, Daddy tidak ingin membuat seseorang kesal pada Daddy karena terus mengganggunya!" ujarnya dengan merangkul Agnia. Sementara Zian berdecih, dia sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Tapi Daddy akan sesekali kemari mengunjungi Nia."
Agnia mengangguk lalu melingkarkan tangan pada tubuh ayahnya itu. "Daddy sangat sayang Nia sweetheart."
__ADS_1
Zian baru saja menoleh ke arah mereka, saat suara dave terdengar bergetar, dia mengernyit lalu mengulum senyuman.
"Apa kau tidak ingin memeluk menantumu ini?"