
Zian tengah kesal, laporan yang diberikan para kepala cabang perusahaannya sangat berantakan, dan itu membuatnya marah. Semua terjadi karena tidak ada nya sosok Kim yang biasanya mengatur semua hingga berjalan mulus tanpa kesalahan. Sepertinya tidak ada yang mengerti selain Kim jika berkaitan dengan perusahaan.
Sedangkan Agnia yang tidak tahu apa apa kini merengut kesal. Pasalnya, dia yang tidak tahu apa apa itu harus menghadapi kemarahan Zian seorang diri.
Pria itu masuk kedalam lift khusus tanpa melepaskan genggamannya pada tangan sang istri, dengan mulut terkunci namun terdengar giginya bergemelatuk.
"Om lagi marah ya?" tanya gadis berusia setengahnya dari usia Zian.
"Hm!"
"Kesal ya?"
"Hmm...!"
Agnia menghela nafas, dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi orang yang tengah marah karena pekerjaan.
"Tapi Nia gak bikin salah kan?"
Zian menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus kedepan, padahal dihadapannya hanya ada pintu lift yang tengah tertutup.
"Nia gak bikin salah lho Om Superman." Gadis itu memperlihatkan gigi putih yang berderet rapi kearahnya, walaupun Zian tidak melihatnya juga.
Zian tidak banyak bicara, dia malas berargumen yang tentu saja nantinya akan memicu perdebatan, hingga mereka sampai diruangan Zian hanya diam membisu.
Agnia duduk di sofa, sedangkan Zian memeriksa berkas yang telah di bereskan istrinya itu di atas meja, hampir setengah jam ruangan itu senyap, tidak ada yang memulai pembicaraan, alih alih merayu Zian agar tidak lagi kesal, Agnia memilih bermain game di ponselnya, walaupun sedikit sedikit melirik Zian, begitupun dengan pria matang berumur 34 tahun itu. Dia terus melirik Agnia yang justru sibuk sendiri dibandingkan menemaninya.
"Lain kali jangan sentuh apapun yang ada di meja ini!"
Agnia menoleh, dia mematikan ponselnya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Zian. Dia merogoh ponsel milik Zian didalam saku lalu menyimpannya di atas meja.
"Nia pulang sekolah kesini tadinya hanya ingin bantuin pekerjaanmu, walaupun Nia gak tahu apa Nia membantu atau tidak! Kalau om marah karena pekerjaan, marah aja! Tapi gak usah marah marah ke Nia!" ujarnya lalu membalikkan tubuhnya dan menyambar tas miliknya.
Zian berdiri dengan cepat dan mencegahnya saat Agnia hendak membuka pintu dan keluar, menahan tangannya agar tidak pergi.
"Jangan pergi!" ucapnya dengan nada lirih.
"Nia mau pergi aja! Ngapain juga di sini, yang ada malah bingung dan bikin Om tambah marah!"
__ADS_1
Zian menarik tangannya perlahan, hingga posisi Agnia menghadap ke arahnya. "Aku tidak marah padamu!"
"Terus dari tadi diem aja! Difikir enak, Nia jadi gak tahu mesti gimana?" Agnia mengerdikkan bahu, menatap wajah Zian yang kali ini terlihat rahangnya tegasnya sudah mulai mengendur.
"Kau sendiri sibuk bermain game!"
"Ya karena Nia gak tahu harus gimana?"
"Kenapa tidak membujukku ata---"
"Oh jadi pengen dibujuk?" selanya, lalu mengerdikkan bahu, "Mana Nia tahu!"
Zian membawanya duduk disofa, dia menatap wajah sang istri yang memang masih terlalu kecil untuk paham dan mengerti dunia pekerjaan yang menguras emosi, dia juga tidak paham apa keinginannya.
Zian memeluknya dengan erat, "Maaf baby ... aku tak seharusnya melibatkanmu dalam kemarahanku."
"Nia justru ingin terlibat, tapi Nia juga gak tahu harus apa!"
"Tidak perlu melakukan apa apa, diam saja dan memelukku."
"Issh ...! Manja."
"Kayak Aya aja!"
"Baby, aku serius!"
Agnia menghela nafas, dia lalu melingkarkan tangannya pada tubuh Zian, bahkan dia menepuk nepuk pelan punggungnya, "Begini?"
Zian mengangguk, "Begini saja!"
"Issshhh ... ngomong aja minta dipeluk, dibujuk bujuk dirayu rayu, dasar!" sungutnya dengan mengelus punggung Zian.
Agnia terkekeh, "Orang lain gak akan percaya kalau Ziandra Maheswara bisa manja juga!"
"Kalau mereka tahu! Berarti kamu yang membocorkannya."
"Ih ... mana ada!"
__ADS_1
"Karena mereka membuatku kesal, biasanya laporan itu diperiksa Kim terlebih dahulu sebelum sampai di tanganku! Dia tidak akan membiarkan kesalahan sedikitpun, karena dia tahu! Aku tidak akan menerima kesalahan walau sedikit!" keluhnya dengan menenggelamkan kepala diceruk leher sang istri.
"Kenapa harus terus bergantung sama sekretaris Kim?"
"Aku masih harus menyesuaikan diri baby sayang! Lihat saja saat dia kembali, aku akan membuatnya menyesal, pergi begitu saja tanpa memikirkan perusahaan, sangat tidak bertanggung jawab!" keluhnya, masih mengadu layaknya seorang anak kecil.
Agnia terkekeh, walau sampai hari ini dia maupun Zian tidak tahu alasan kepergian Kim. Dan baru kali ini rasanya Agnia melihat Zian yang merajuk bak anak kecil.
"Sebentar lagi ada meeting dengan PT Gemilang kan?"
Zian mengangguk, "Kau mau ikut baby?"
"Kenapa? Kok sekarang ngajak Nia?" Agnia mengulum senyuman, tangannya masih sibuk menepuk nepuk punggung Zian yang memeluknya erat.
"Ini karena meeting diluar kantor, agar kamu tidak bosan saja terus berada di ruangan ini!"
"Nia gak akan ganggu?"
Zian menengadahkan kepalanya, "Tidak sayang, sama sekali tidak menganggu."
"Udah gak kesel?" tanya Agnia dengan mencubit hidung Zian.
Zian mengangguk lalu tersenyum, "Tidak! Kan ada kamu!"
"Ya ampun udah norak, pake ngambek ngambek segala, manja juga ternyata."
"Biarin saja! Aku hanya melakukan hal ini padamu."
Tiba tiba terdengar ketukan di pintu, Zian pun mengurai pelukannya dan kembali duduk tegak dengan bahu yang rata, wajahnya kembali serius saat menyuruh seseorang yang mengetuk pintu itu masuk kedalam. Sementara gadis yang berada disampingnya itu hanya melongo, dan sedetik kemudian berdecak dengan gelengan kepala.
Dasar om om labil, pintar juga berpura pura.
.
.
Si Om gitu ya ternyata kalau marah, mau di peluk peluk. wkwkwk manjanya udah lewat Om ...gak pantes.
__ADS_1
Kalian gitu juga gak? Atau ikut marah ... Atau cuekin aja. Kalau othor jadi Nia, othor kasih balon deh buat Om. wkwkwk