Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode 263


__ADS_3

"Kau lihat putrimu Dave?" Zian menyenggol lengan Dave dengan menelisik ke arah Agnia. "Keras kepala dan tidak ingin mengalah." gumamnya lagi.


Dave terkekeh, jemarinya mencubit lembut pipi sang putri yang masih mencebik kesal menatap suaminya itu, sementara Zian mengulas senyuman.


"Ayo ke ruanganku!" Rengkuhnya pada bahu Agnia, menariknya lalu membuka pintu ruangannya.


"Kau tidak bersama Kim kemari Dave?"


"Sekretaris Kim?" Agnia melepaskan tangan Zian yang berada di bahunya, namun juga dia tidak melepaskan tangannya, justru menempelkan telapak tangannya pada kulit Zian yang masih terasa lebih hangat dari biasanya. "Apa maksudnya Daddy tahu kemana sekretaris Kim?"


"Ayahmu bukan hanya tahu! Tapi kemungkinan besar jika Kim akan menjadi ibu sambungmu nanti." Bisik Zian tepat ditelinganya.


Namun Agnia tidak terlalu fokus dengan apa yang diucapkan Zian, justru merasakan hembusan nafasnya yang berhembus lebih hangat.


"Sini sebentar!" Gadis itu menarik lengan Zian, lalu membawanya duduk disofa dimana Dave sudah duduk lebih dulu.


Dia mengeluarkan alat pengukur suhu tubuh yang sengaja dia bawa lalu memasukkannya langsung di mulut Zian.


"Heh ...!"


"Diem sebentar! Nia pengen tahu sedemam apa om Zian sampai masih bisa kerja dan maksain diri."


"Aku tidak sakit kok baby! Hanya pusing saja tadi pagi, tapi sekarang tidak!" ujarnya melepaskan termometer dari mulutnya.


Agnia berdecak lalu kembali memasukkan alat itu pada mulutnya, "Diem sebentar bisa gak?"


Dave terkekeh, melihat interaksi keduanya yang sama sama keras kepala tapi menggemaskan. Sedetik kemudian dia teringat pada Kim yang lebih keras kepala dan juga susah di tebak itu.


"Baby ... aku tidak sakit!"


"Pokoknya aku tidak mau tahu ya! Harus periksa dokter."


"Aku bilang tidak apa apa!"


Agnia mendengus, lalu melemparkan termometer tepat diatas pangkuan Zian, "Ya udah ... kalau tiba tiba parah Nia gak mau tahu!"


"Bisa cari suami baru ya Sweetheart ... Yang muda dan tampan, umurnya juga masih panjang." Timpal Dave dengan tergelak, yang dari tadi benar benar gemas melihat mereka berdua yang sama sama keras.


Zian membulatkan kedua matanya tajam ke arah Dave, lalu melemparnya dengan vas bunga kecil yang berada di tengah meja.

__ADS_1


"Sialan kau! Tidak usah memprovokasi!"


"Bener kok yang Daddy bilang! Lagian juga capek kali maksa maksa yang kepala batu.


"Heh ... kau bilang apa? Kepala batu! Kau sendiri apa?" Zian mencubit pipi Agnia.


"Ya makanya bandel sih! Padahal Nia kan sayang ... gak mau nanti ada apa apa."


Zian menghela nafas. Lalu mengambil ponsel diatas meja untuk menelepon Irsan. Temannya yang merupakan dokter.


Setelah mengotak ngatik ponsel, Zian kembali duduk bersandar. Kepalanya kembali terasa pusing walau pun tidak tubuhnya tidak sedemam tadi pagi.


"Iya kan ... pusing kan! Maksain sih. Disuruh istirahat juga."


"Iya baby ... udah tidak marah lagi oke! Aku sudah menghubungi Irsan agar dia kemari terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit." Terang Zian dengan kembali bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja kerja miliknya, dan terlihat mencari sesuatu dalam tumpukan berkas.


"Cari apa? Biar Nia bantu."


"Berkas kerja sama di map warna kuning." ujarnya dengan terus menyisir tumpukan berkas itu.


Agnia melebarkan pupilnya mencari benda yang di maksud. Dan menemukannya berada di samping jajaran berkas yang sudah selesai.


"Iya ...!"


"Mau diapain? Biar Nia yang ngerjain."


"Tidak usah Baby ...!"


"Hubby?" Gumamnya dengan penuh penekanan.


"Oke baby! Oke ... itu berkas yang akan aku tawarkan pada Ayahmu."


Agnia yang berdiri kemudian menoleh pada Dave yang tengah duduk memainkan ponsel.


"Daddy?"


"Hm ... !" Zian kembali duduk diikuti oleh Agnia yang memegang berkas.


"Aku berniat mengajakmu kerja sama Dave! Kau pelajari dulu berkasnya ... setelah itu kabari aku."

__ADS_1


"Kau tidak salah salah Zian? Menawarkan diri sebagai investor pembangunan di perusahaanku?"


"Daddy ...! Pelajari dulu saja! Nanti kabarin setelah kesehatan Om Zian fit lagi." cegah Agnia dengan menutup kembali berkas yang diberikan Zian padanya.


Zian mengulum senyuman, mengelus punggung Agnia yang kini berubah menjadi semakin pemarah. Dave juga hanya mengangguk saja.


Tak lama Irsan datang, masuk dengan tas penuh peralatan dokter miliknya.


"Apanya yang sakit? Gerd mu kambuh?"


"Tidak! Aku hanya merasa pusing dan demam saja."


"Kau kurang istirahat Zian, terlalu rajin bekerja. Apa Kim tidak siapkan vitamin vitaminmu?" ujar Irsan dengan mengeluarkan sebotol Vitamin dari dalam tasnya.


"Kenapa harus disiapkan sekretaris Kim? Nia juga bisa siapkan vitamin begini."


Irsan mengernyit, menatap Agnia tanpa tahu dia itu istri Zian.


"Dia putriku!" ucap Dave.


"Istriku!" timpal Zian, mengambil botol vitamin itu dari tangan Irsan. "Sepertinya memang iya! Berberapa hari ini aku jarang minum yang ini." terangnya lagi.


"Aku sudah ingatkan Kim untuk selalu memberimu vitamin ini, selain untuk suplemen, ini cocok untuk gerd mu agar tidak mudah kambuh."


"Kim mungkin tidak akan lagi bekerja denganmu Zian, jadi kau perlu orang untuk menggantikannya." celetuk Dave yang tidak bergerak di tempatnya


"Kenapa sekretaris Kim harus berhenti?" tanya Agnia penasaran.


Irsan menggelengkan kepalanya, seraya memasukkan kembali peralatan kedokterannya kedalam tas. "Apa mungkin dia sudah menyatakan cinta padamu Zian? Dan kau menolaknya?"


.


.


.


...Nah kan si Irsan keceplosan tiba tiba ngomong kayak gitu!...


...Satu bab lagi buat hari ini. Maaf othor masih belum bisa crazy up lagi. Karena othor mengriweh dulu yaa readers. Makasih buat yang sudah like, komen, dan kasih othor dukungan yang luar biasa ini....

__ADS_1


__ADS_2