Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 150


__ADS_3

Pagi ini, keadaan kelas terdengar ricuh sekali, anak anak mengeluh karena pelajaran yang terbilang semakin sulit, ditambah tugas yang semakin bertambah seiring semakin dekatnya ujian nasional.


Dan yang membuat sorak keluhan terdengar saat Zian yang masuk jadwal pagi memberikan quis dadakan, tentu saja membuat siswa siswi semakin mengeluh.


"Elah ... pake kasih quis dadakan kayak gini sih?" gumam Agnia yang sejak datang wajahnya terus mengkerut.


Membuat Zian bertanya tanya apa yang terjadi pada gadisnya itu.


"Pak udah dong, tugas kita udah makin berat nih! Masa udah mau lulus tapi masih dikerjaain juga sih!"


"Iya nih pak! Udah dong nanti aja, kasih otak kita waktu buat santai!" tukas yang lainnya.


Zian menggelengkan kepalanya, dia tidak menggubris perkataan siswa laki laki yang menolak quis yang akan diberikan, namun melihat Agnia yang terus menghela nafas dengan wajah yang ditekuk membuatnya merasa bersalah.


"Baiklah ... tapi nilai quis hari ini akan tetap aku tagih, kalian selesaikan tugas modul yang kemarin hari ini juga, dan kumpulkan dimeja dalam waktu sepuluh menit."


Beberapa terdengar bersorak, namun ada juga yang mendengus pelan, "Sama aja bohong gila ... sepuluh menit ngerjain semua!"


Agnia masih tetap menopang dagu, dengan menatap buku dihadapannya, fikirannya merasa tidak tenang, ucapan bi Yum semalam, kejadian kemarin, kedatangan kakeknya tiba- tiba dan kolapsnya perusaahan Ayahnya berkeliaran didalam kepalanya.


"Nia ikut keruangan ku sekarang!"


Zian keluar lebih dulu, disusul oleh Agnia yang awalnya tersentak namun juga tidak bisa menolaknya karena mereka tengah berada disekolah.


Gadis berambut panjang itu berjalan gontai menuju ruang guru, bahkan dia tidak menyadari jika Zian menunggunya diambang pintu hingga dia menabrak dadanya.


"Kenapa wajahmu ditekuk begitu Hem?" tanya Zian yang melihat reaksi Agnia lebih banyak diam dari pada sebelumnya.


"Gak apa-apa!"


Zian memicingkan kedua matanya, "Kau tidak bohong padaku Nia! Katakan ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu."


Agnia duduk dikursi dihadapan meja milik Zian tanpa disuruh, dengan wajah ditekuk.


"Wajahmu tidak bisa berbohong Nia? Katakan ... apa kamu ingin aku cium? Makanya bete begitu?" godanya dengan mendaratkan bokongnya dikursi.


"Apaan sih!"


"Kalau begitu ... katakan apa yang membuat kamu hari ini tidak bersemangat begitu? Apa ada hal yang mengganggu fikiranmu? Atau kau ingin aku bermain tebak tebakan?"


"Om ... jangan bercanda deh, Nia gak mood bercanda!"


"Siapa yang bercanda, aku seriuse sayang!"

__ADS_1


Agnia membulatkan kedua matanya, dia lantas mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, takut seseorang mendengar Zian memanggilnya sayang.


"Hem?"


Agnia menempelkan jari telunjuknya pada bibir yang tengah mengerucut itu, "Suutthh!! Kau sengaja ya ingin semua orang tahu."


Zian mengangguk pasrah, "Apalagi kalau kamu masih bandel dengan menyelesaikan masalah mu sendirian dan tidak melibatkan aku!"


"Ih ... Udah tua juga! Kelakuan kayak ABG."


"Ayo sa___"


Ucapan Zian terhenti saat melihat pintu terbuka, seorang guru wanita masuk dan menganggukkan kepala ke arahnya.


"Sayangkan kalau nilai kamu turun hanya karena sering melamun dikelas Agnia!" ujarnya meneruskan ucapannya yang terhenti. Membuat Agnia menahan tawa melihat sikap Zian yang berubah drastis.


"Syukurin!" gumamnya tanpa suara.


"Pak Zian, kenapa?" tanya guru wanita itu yang kini duduk dikursi disamping Zian.


"Oh ... tidak Bu, dia hanya sering melamun saat jam pelajaran kelas saya saja."


"Biasa pak ... anak anak sering begitu, entah bertengkar dengan pacarnya atau masalah yang lain." timpalnya ikut mencampuri.


"Ada lagi yang ingin bapak katakan? Kalau tidak aku ingin kembali ke kelas, agar tidak ketinggalan tugas yang bapak berikan."


Zian mengangguk, "Kembalilah!"


"Pak Zian ayo pak, sarapan! Aku bawa kue ini khusus untuk bapak." sela guru wanita itu, membuat Agnia menajamkan kedua bola mata ke arahnya.


"Terima kasih Bu! Saya sudah sarapan tadi."


"Sudah Agnia, kembali ke kelas!" ujarnya lagi.


Namun Agnia justru mematung ditempatnya, masih dengan tatapan tajam pada bok berisi kue yang disodorkan ke arah Zian didepan matanya sendiri.


Dasar wanita gatel, awas aja sampai dia ambil kue itu.


Zian hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi , justru dia melirik ke arah Agnia diam-diam.


Agnia menghentakkan kakinya keluar dari ruang guru, dengan perasaan yang semakin buruk,


"Gue tuh lagi bete, eeh sekarang malah tambah bete!! Males banget, awas aja kalau dia berani macam-macam! Gue bejek bejek tuh mukanya yang so ganteng itu!" gerutunya sambil berjalan.

__ADS_1


Bukannya kembali ke kelas, Agnia justru berjalan ke selasar gedung, hatinya yang tidak karuan membuatnya malas kembali ke kelas, dia mengarah ke taman kecil yang berada di bawah.


Hampir semua siswa sibuk dengan kelasnya masing masing, mereka yang tengah belajar menimba ilmu, namun Agnia justru ingin menyendiri.


Setelah melewati selasar gedung, dia kembali berjalan melalui lorong, dimana disana kelas tujuh dan kelas delapan berada. Suasana yang hening juga angin sepoi sepoi mulai terasa, membuatnya berjalan dengan tenang.


Namun tiba tiba tangannya terasa ditarik dari belakang, Agnia sontak kaget, dia hendak berteriak namun sebuah tangan dengan cepat membekap mulutnya yang kecil.


Dia lantas dibawa ke sebuah lorong, ada ruangan kesenian yang memang sudah jarang dipakai. Dia ditarik masuk kedalam ruangan itu.


"Hei siapa kau?" ujarnya saat tangan tersebut terlepas dari mulutnya.


Agnia berbalik guna melihat sosok yang menariknya dan membawanya ketempat yang jarang sekali dimasuki siswa lain. Hanya anak kesenian yang kerap datang, itu pun hanya satu dua orang saja.


"Kamu!! Iih nyebelin banget, ngapain sih?" ketusnya saat melihat orang yang menariknya tengah terkekeh.


"Aku yang seharusnya bertanya Nia, kenapa kamu tidak kembali ke kelas, kenapa justru kemari?"


"Aku mau ke taman! Aku ingin sendiri, lagi bete tahu gak?"


"Gara gara masalah kamu? Atau gara gara guru tadi?"


"Tahu ahk!" ujarnya dengan duduk dikursi, didepannya terdapat sebuah gamelan. Agnia mengambil alat pemukul kecil namun dengan cepat Zian merebutnya.


"Heh ... kenapa?"


"Kamu mau kita ketahuan berduaan disini?"ujarnya dengan mencondongkan kepalanya mendekat.


Agnia mengerjapkan kedua matanya, "Apaan ... orang kita gak ngapa ngapain."


Zian menarik tubuh Agnia hingga Agnia berdiri dan menabrak tubuhnya sendiri. "Kata siapa?"


Deg


"Om ... kita disekolah!"


"Aku tahu! Tapi aku tidak bisa menahan diri melihatmu terus kesal seperti tadi. Katakan atau aku benar benar akan menciummu disini!"


Baru saja bicara, namun justru Zian sendiri sudah bergerak menyambar bibir Agnia, Melu mat nya lembut dengan tangan yang merekat dipinggangnya.


Agnia sendiri selalu tidak bisa menolaknya, melupakan sejenak masalah masalah yang datang terus menerus dalam hidupnya. Dan nyatanya memang hanya Zian yang bisa menenangkan fikiran dan hatinya.


"Kita disekolah!" ujar Agnia saat tautan bibirnya dia lepaskan.

__ADS_1


"Aku tidak peduli!" jawab Zian dengan kembali Melu mat bibir tipis merah delima itu.


__ADS_2