
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Zian tak henti-henti nya tersenyum, betapa tidak, kehadiran Agnia dalam hidupnya mampu merubah sesuatu dalam dirinya, tentang cinta yang teramat dalam dan juga sakit hati yang teramat dalam terhadap Dita, wanita idaman nya yang seharusnya sudah menjadi istrinya kemarin.
Ya, kemarin adalah hari dimana seharusnya mereka menikah. Itu sebabnya emosi Zian tidak bisa di kontrol, ditambah Agnia yang selalu memancing amarahnya.
Sekretaris Kim tidak keluar dari ruangannya pagi itu, dia tengah sibuk meladeni para penelepon dari pihak W O, pihak gedung dan juga yang lainnya yang menanyakan perihal acara pernikahan yang di gadang-gadang akan menjadi pesta termewah tahun ini.
"Kim ... ke ruanganku sekarang!" ujar Zian saat intercom tersambung ke ruangan Kim yang berada disebelahnya.
Ceklek
Pintu pintu terbuka, Kim masuk dengan wajah kesalnya, pasalnya dia lelah menjelaskan pembatalan acara pada semua pihak, sementara Dita sudah lebih dulu menghubungi mereka dan mengatakan semua akan berjalan seperti biasa.
"Ada apa!"
Zian menunjukan ponsel kepadanya, "Apa ini?"
"Aku akan menemui Dita dan memberinya pelajaran yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya!"
Kim menyimpan kembali ponsel milik Zian itu ke atas meja, yang memperlihatkan undangan yang dia buat untuk para pers yang selama ini menunggu kabar pernikahan Zian dan Dita. "Lebih baik tidak usah datang, kau hanya mempermalukan dirimu sendiri jika mengadakan konferensi pers itu sendiri, biarkan Dita yang menjadi bulan- bulanan pers, lebih baik kita mengurus ini. Aku sudah menghandle sebagiannya."
"Thanks Kim! Hanya kau yang bisa aku andalkan, aku memang berencana tidak akan datang! Agar Dita sendiri yang menjelaskannya. Tapi aku akan mengirimkan bukti-bukti ini." ujarnya dengan mengacungkan flash disk yang ditemukan Kim tempo hari di ruangan Iyan yang ternyata berisi Foto serta video kedekatan keduanya.
Zian menghela nafas, flash disk yang membuat amarahnya kembali memuncak, benda kecil yang menyimpan rahasia selama 2 tahun. Selama itu Dita membohonginya pula, dan mereka berdua bermain dengan rapi, bahkan keduanya terlihat tidak peduli satu sama lain jika berada di tempat yang sama saat ada Zian.
Zian mengepalkan tangan diatas meja, Kim kemudian mengambil flash disk itu.
"Hm ... semua sudah tugasku! Aku akan mengurusnya." ujarnya dengan kembali keluar dari ruangan Zian.
Zian pun keluar dari ruangan, Kim yang hendak masuk kedalam ruangannya pun menoleh, "Kau mau kemana?"
"Aku akan keluar sebentar," menghela nafas, "Hanya cari angin segar sebentar!"
"Jangan bilang kau akan menemui Nia lagi di sekolah!"
"Astaga, Kim kau ini gila apa? Siapa yang akan sekolah, tadi pagi kan sudah!" ujarnya terkekeh lalu pergi begitu saja.
"Dasar aneh, setiap pagi hanya melihat Agnia di sekolah, tapi tidak berani meminta maaf. Menyulitkan diri sendiri!" gumam Kim lalu masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Zian pergi ke suatu kafe, bertepatan sebuah taksi yang yang juga berhenti. Agnia yang berpenampilan cantik dan juga seksi turun dari mobil yang menghalanginya untuk parkir itu, hingga Zian dapat melihatnya dengan jelas.
"Agnia ... sedang apa dia disini?" gumamnya dengan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Zian mengurungkan niatnya untuk masuk, dia hanya menunggu Agnia sampai keluar tanpa tahu apa yang dikerjakannya, dia hanya melihat Agnia menemui seorang pria tua yang berhasil membuat emosinya kembali memuncak.
"Kelakuanmu tidak berubah Nia! Kau pintar membuat emosi ku turun naik." geramnya dengan mencengkram kuat kemudi mobilnya.
"Aku harus membawanya kembali pulang hari ini juga, apapun yang terjadi."
Untuk pertama kalinya, Zian menunggu seseorang dalam waktu yang lama, hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa! Dia ingin melihat Agnia keluar sendiri.
Drett
Drett
__ADS_1
Ponselnya berdering, tanpa melihat siapa yang menelepon, Zian langsung mengangkatnya.
"Baby ... kau dimana? Wartawan sudah menunggu kita disini! Kita janji kan akan menjelaskan pada mereka, pernikahan ini tidak akan batal."
Zian mengernyit, lalu menatap layar ponsel yang menyala itu, ternyata Anindita yang meneleponnya, "Sial ...!"
Zian memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak tanpa menjawab apapun lagi Lalu dia memblokir nomor kontak Dita. Dan kembali melihat ke arah pintu masuk kafe.
Tak berselang lama ponselnya kembali berdering, kali ini Zian menatap layar dan mengetahui jika Kim yang menghubunginya.
"Kau dimana?"
"Kafe xx, aku melihat Agnia disini! Bersama seorang pria tua, yang jelek dan nyaris mati." sarkasnya.
"Jangan menambah masalah dengannya Zian! Kau hanya akan memperumit keadaan."
"Aku akan membawanya hari ini Kim!"
Tut
Zian kembali memutuskan sambungan teleponnya, bertepatan dengan Agnia yang keluar dengan pria yang tua, jelek dan nyari mati seperti yang dia katakan pada Kim.
Kejadian itu menambah emosinya melonjak dengan cepat, bahkan dia ingin sekali menghabisi pria tua, namun untuk apa bersusah payah mengeluarkan otot-otot jika otak yang berbicara.
Zian memakai uangnya untuk mengganti waktu yang akan mereka habiskan setelah keluar dari kafe, yang sudah dipastikan akan berujung di hotel, maka dari itu Zian membawanya ke hotel, dan berusaha melakukan sesuatu yang didasari oleh amarah nya sendiri, namun ternyata tidak bisa, hati Zian teriris saat melihat Agnia yang menangis, namun juga kesal saat Agnia yang suka memberontak.
Hingga Kim datang dan menyelamatkannya, bukan hanya Agnia, diapun terselamatkan dari hawa naf su yang menguasai dirinya saat itu.
Dan kembali memuncak saat melihat Agnia bersama pria yang seumuran dengannya, Regi.
Trek
Trek
Agnia menjentik-jentik kan jarinya tepat didepan wajah Zian yang tengah melamun. Suara klakson dari arah belakang yang kini terdengar nyaring memekik gendang telinganya.
"Om ... ayo jalan itu lampu sudah ijo! Gimana sih kalau mau mati jangan ajak-ajak Nia dong! Benar benar yah nih orang tua!" gerutunya.
Zian tersentak dari lamunan panjangnya, dan melajukan kembali mobilnya, "Sembarangan kalau bicara!" ujarnya pelan.
"Ya habisnya di lampu merah malah melamun! Kalau banyak pikiran itu diam di rumah! Bahaya tahu!"
Zian tersenyum, " Bahaya ya ... cie Perhatian nih ceritanya!"
"Bukan, tapi bahaya karena Nia masih muda, masih banyak cita-cita dan keinginan, kalau Om kan udah tua, mau mati juga udah gak bakal penasaran!" tukasnya dengan melipat tangan di atas dadanya.
Zian menggelengkan kepalanya, tapi justru kali ini dia tidak merasa kesal lagi, Agnia yang terus menggerutu itu membuat wajahnya semakin lucu.
"Oh ya, memangnya apa cita- citamu?"
"Kepo!!"
"Aku kan hanya bertanya, wajar dong!" tukas Zian. "Yang jelas keluar dari sampinganmu dan hidup dengan baik ok!" sambungnya lagi.
__ADS_1
"Terserahlah ... tapi satu hari nanti Om bakal tahu, kalau Nia tidak pernah melakukan hal yang selama ini Om tuduhkan!"
Zian menyunggingkan senyuman, "Aku adalah orang yang paling bahagia jika itu benar!"
Agnia menoleh, "Dasar aneh!"
Pria itu mengerdikkan bahu, sesaat mobilnya menepi di depan gerbang sekolah. Agnia baru merasa lega setelah sampai sekolah.
"Awas kalau berani masuk dan nungguin kayak kemarin." ujarnya saat melihat Zian sudah melepaskan seat belt ditubuhnya.
"Tidak aku hanya akan berterima kasih pada temanmu!" ucapnya dengan menunjuk ke arah luar dimana Cecilia menunggu dengan membawa tas milik Agnia.
"Astaga ...! Nia hampir lupa. Kenapa Om tahu nomor Cecilia."
"Tahulah ... semua yang berkaitan denganmu, aku harus tahu, paham! Dan berhenti membantunya kalau urusan itu." ujarnya kemudian turun.
Agnia melongo, dia masih tidak mengerti apa yang Zian maksudkan.
"Kenapa dia tahu aku membantu Cecilia!" ujarnya lalu turun dari mobil.
Zian sudah lebih dulu menghampiri Cecilia, dan mengucapkan terima kasih karena membawa tas milik Agnia.
"Sama-sama Om, gak Om suruh pun sebenarnya udah mau aku bawa! Aku tahu kok kalau dia pasti sekolah hari ini."
"Kalau begitu aku permisi!" ujar Zian mengambil tas milik Agnia lalu berbalik, dan Agnia melonjak kaget karena Zian.
"Ini tasmu, aku akan menjemputmu nanti!"
"Eeh ... gak usah Om! Aku ada urusan dulu!"
Zian mencubit pipinya lembut, "Jangan suka membantah orang tua, tidak baik! Aku tetap akan menjemput, jangan kemana-mana dan pergi. Ingat!" ujarnya lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Agnia mematung ditempatnya, Perlakuan apa barusan? Pake cubit cubit segala. Dasar aneh!
"Cie ... yang dapet gandengan Om-Om!" ujar Cecilia dengan menyikut lengannya.
"Apaan sih Lo!"
"Alah udah lah, terima aja, jarang- jarang lho ada Om ganteng begitu suka sama cewe seumuran kita!"
Agnia mengerdikkan bahu, "What ... suka!! Gak ... enggak, dia hanya sebatas nolongin gue aja! Dia lagi patah hati, dan you know what, orang patah hati tidak akan mudah lagi suka sama orang lain secepat ini!"
"Cie ... ngarep juga kan Lo! Coba kalau dia gak patah hati kan. Lo pasti mau gitu kan?" Cecilia terkikik.
"Apaan sih! Aneh Lo! sama kayak dia aneh!" ucapnya dengan melangkah lebih cepat lagi.
Cecilia mengejar langkahnya, dan terkikik sampai mereka menaiki tangga.
"Eh ... Ce, lo cerita sama dia kalau gue gantiin Lo nemuin Daddy Lo?"
.
.
__ADS_1
.
Wah makasih lho yaa, pagi-pagi udah banyak dapet vote, like dan komen. Aku terhura, lope lope semua❤️