Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 154


__ADS_3

Tak terasa, hampir satu jam Agnia tertidur, dengan kepala tertelengkup di meja kerja milik Zian, dengan seragam sekolah yang masih dikenakannya.


Zian masuk kedalam ruangan, menatap gadis kecil nya itu tertidur pulas.


"Astaga ... dia bahkan belum berganti pakaian, padahal dia sendiri yang heboh ingin mengganti baju karena tidak ingin mereka tahu jika dia masih seorang siswa sekolah!" gumam Zian dengan berjalan menghampirinya.


Kim membuka pintu, dengan mengernyit dia meletakkan berkas diatas meja.


"Aku sudah memesan tempat untuk makan siangmu." ujarnya dengan menatap Agnia.


Pria itu melonggarkan dasi yang membuat lehernya terasa sesak, "Pesankan saja makanan dan bawa kemari! Mana bisa membangunkan dia jika sudah begini."


Kim mengulum senyuman, "Aku bisa bayangkan, dia akan tidur saat kau mengajaknya bercinta nanti! Atau...."


"Kim!!" seru Zian dengan kedua mata membola.


Kim tergelak, dia lantas keluar dari ruangan itu, rasanya baru sekarang Kim merasa sedikit santai melihat hubungan bosnya itu dengan seorang gadis, biasanya dia akan bersikap arogan dan ataupun tak acuh pada hubungan Zian. Terlebih pada seorang Dita dan segala keburukannya.


Kim memesan makan siang, sesuai permintaan Zian, dan telah diantarkan oleh petugasnya langsung ke ruangannya.


Gadis yang masih terlelap itu mengendus ngendus sepiring nasi dengan ayam goreng yang sengaja Zian letakkan dimeja.


Sementara Zian duduk di sofa dengan iPad yang dia letakkan di atas kedua pahanya, wajahnya serius menatap layar layar bercahaya dengan sebuah grafik berwarna merah.


Sesekali dahinya berkerut, kedua alis yang kerap mengernyit, atau dengan lengkungan bibir. Pun dengan jarinya yang lincah menggulir setiap layar putih menyala itu.


"Astaga ... gue ketiduran lagi!" gumam Agnia dengan menggeliat, kedua tangan dia rentangkan agar ototnya yang meregang itu menjadi nyaman.


"Senyaman itulah kantor ku sampai kamu terus tertidur disini?" ujar Zian tanpa mengalihkan pandangannya pada iPad.


"Terlalu percaya diri! Aku itu kelelahan menunggumu rapat, sampai aku tertidur." ujarnya dengan menatap sepiring nasi dengan ayam goreng di hadapannya. Namun dia hanya melihat sepiring makanan, dan juga juice alpukat didepannya itu, pandangannya pun beralih pada meja didepan Zian.


"Makanan ini buat aku?"


"Hm ... makanlah, kau pasti lapar!"


"Jelas aku lapar, tapi kenapa aku makan sendirian? Kan gak enak ya ...,"


"Makanlah ... aku sudah makan tadi!" jawab Zian apa adanya, dia memang sudah makan sebelum Agnia bangun.

__ADS_1


"Kenapa tidak bangunin aku sih! Makan makan sendirian,"


"Karena kamu tampak lelah sayang, sekrang makanlah, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


"Eeh ... gak mau ... aku gak akan pulang sebelum memastikan kakek tua itu gak akan datang ke rumahku dan mengancam membawaku pergi."


"Kamu harus pulang, dan itu tidak akan terjadi!"


Agnia menyuapkan sesendok nasi, "Kenapa? Jangan bilang Om mau membantu kakek."


Zian terkekeh, membuat Agnia mencebikkan bibirnya.


"Benarkan?"


"Tidak Nia ..."


"Lalu kenapa Om ketawa,"


Zian meletakkan iPad diatas meja, dia lantas menghampiri Agnia dan menarik kursi dihadapannya. "Karena kamu lucu sekali, makan yang benar, kau bukan anak TK kan!" ujarnya dengan mengambil remahan nasi di ujung bibir Agnia.


Gadis itu menepis tangan Zian, dengan wajah merah menahan malu.


"Tidak perlu malu, kau memang masih kecil!" godanya dengan tergelak, lalu kembali ke arah sofa dan duduk.


Tak disangka Zian semakin tergelak, "Pedo fil bagaimana? Bahkan kau sangat menikmatinya."


Agnia melemparkan garpu kearahnya, namun Zian berhasil mengelak, dengan tergelak dia mengambil kembali garpu yang terjatuh di lantai.


"Nyebelin banget sih!"


Tak lama setelah itu, mereka dikagetkan oleh pintu yang dibuka dengan kencang, sesosok pria menerjang masuk walau sudah dihalau oleh Kim dan juga seorang pria berpakaian security.


"Zian!! Apa yang kau lakukan?"


Kedua netra mereka beradu dengan tajam, sementara Agnia membola sempurna saat melihat ayahnya masuk dengan tiba tiba.


"Jangan kau fikir karena kau dekat dengan putriku, kau bisa melakukan hal itu Zian! aku tetap tidak setuju." ujarnya lagi penuh emosi.


"Dan kau tidak usah jadi sok pahlawan!" tambahnya lagi dengan dada yang naik turun.

__ADS_1


Zian yang menatapnya dengan datar tanpa ekspresi itu mendengus pelan. "Duduklah ... bisakan?"


"Ada apa lagi ini?" gumam Agnia.


Dave melemparkan sebuah berkas tepat di atas meja, membuat Kim kembali mendorong Dave agar keluar dari ruangan itu.


"Kau sengaja kan melakukan hal ini Zian? aku sudah bersekongkol, bahkan dengan Karina." tuduh Dave.


Zian masih menatapnya datar, apa yang dituduhkan tidaklah benar, dia hanya menatap berkas merah diatas meja yang dilemparkan oleh Dave. Justru Agnia yang bangkit dari kursi kebesaran Zian dan mengambil berkas itu.


Dia mengamati setiap tulisan dalam surat itu, keputusan pengadilan atas akusisi yang terjadi dan tengah bergulir, dan justru pihak Zian yang mendapatkannya.


Kedua bola mata Agnia membola, walaupun dia tidak mengerti bisnis, namun sedikitnya dia tahu apa arti surat keputusan pengadilan mengenai akusisi sebuah perusahaan walaupun perusahan yang dimiliki oleh ayahnya dan Zian sangat berbeda, bahkan bertolak belakang.


"Apa ini maksudnya Om benar-benar membantu kakek?" tanyanya dengan suara pelan dan benar-benar tidak menyangka akan hal itu.


"Kau memang sengaja melakukannya, agar bisa memiliki putriku bukan?" tuduh Dave dengan jari telunjuk yang mengacung ke arahnya.


Zian mengulas senyuman, "Sama sekali tidak, aku melakukannya karena aku memang ingin melebarkan kerajaan bisnisku! Kalau pun itu berkaitan dengan Nia ... aku anggap itu bonus."


Dave maju beberapa langkah dan merangsek kerah baju Zian, "Aku tidak percaya ... dan jangan harap aku akan memberikan restuku untukmu Zian!"


Kim yang sedari tadi mematung kini tak lagi bisa terdiam, dia menarik lengan Dave dengan kasar.


"Bisakah kau bersikap seperti seorang pria tuan Dave? Apa yang dikatakan tuan Zian memang benar, kau bisa melihat surat ini sebelum bicara. Kami tidak melakukan apa yang anda tuduhkan, bahkan kami tidak berniat membantu tuan Arkhan seperti dugaanmu, apalagi hanya untuk mendapatkan putrimu."


"Seperti yang anda tahu tuan Dave, putri mu dan tuan Zian memiliki hubungan, untuk apa lagi tuan Zian melakukan hal itu?" ungkapnya lagi.


Dave terdiam, dia semakin tidak mengerti apa yang terjadi, bagaimana bisa pengadilan Swiss memutuskan bahwa Zianlah yang memenangkan akusisi itu dan menjadikannya 85 persen saham di perusahaannya menjadi miliknya.


"Yang dia jelaskan mungkin cukup membuatmu paham Dave?" Zian berdiri dengan satu tangan masuk kedalam saku celananya.


"Ini tidak mungkin!"


"Mungkin saja! Mantan istrimu menjual sahamnya sendiri, dan aku baru tahu saham itu ternyata saham diperusahaanmu Dave! Bukankah kau tahu kalau aku tidak mengenal Karina seperti aku juga tidak mengenal Laras?" ujarnya menohok.


"Aku tetap tidak setuju, kau pasti melakukan proxy vote ( Membujuk pemegang saham untuk menjual sahamnya, atau bahkan mengganti jajaran direksi) untuk hal itu." kilah Dave.


Dia bersikeras tidak mau mengakui bahkan saat ini Zianlah pemegang kendali di perusahaannya, bahkan dia bisa menendangnya kapan saja.

__ADS_1


Agnia hanya menatap nya bergantian, dia tidak mengerti apa yang terjadi, namun dia juga tahu Zian tidak mungkin berbohong.


"Kenapa kau bersikeras Dave? Kenyataan nya adalah keputusan itu sudah sah, perusahaanku yang mengakusisi perusahaan mu! Kau bisa bertanya pada Karina langsung."


__ADS_2