
"Mana istriku?"
Zian membentak Nita dengan keras, saking kerasnya, tubuh Nita hingga berjingkat. Dengan gemetar, dia menunjuk ke arah belakang, dimana toilet wanita berada. Pria matang berumur 34 tahun itu mengayunkan langkahnya masuk.
"Minggir! Kau menghalangi jalanku!" Sentaknya dengan keras, lengannya yang kekar menubruk tubuh tidak seberapa Nita hingga terdorong ke samping.
Manik hitamnya menyisir seluruh ruangan toilet yang didalamnya terdapat lima bilik toilet, dan salah satunya terbuka. Sosok yang dia cari muncul dari sana, bersandar dengan rambut acak-acakan serta nafas yang masih terengah engah. Zian bergegas menghampirinya, lalu memeluknya dengan erat, dia tidak peduli jika saat ini dia tengah berada di toilet wanita.
"Kau tidak apa apa baby?"
Agnia menggelengkan kepalanya, dengan merekatkan kedua tangannya ditubuh kekar pria pemilik hatinya.
"Ayo kita pulang!" Suara keras kini berubah, kemarahan sepanjang jalan serta kekesalannya hilang begitu saja saat melihat gadis pujaan hatinya baik baik saja. Dia pun tidak banyak bertanya, bahkan tidak ada bahasan mengenai kenapa gadisnya itu bisa mabuk, setidaknya untuk saat ini.
"Kau masih kuat berjalan?"
"Y--yaa...." ucapnya dengan suara lemah, bagaiamana tidak, saat ini tubuhnua bergetar karena Cecilia menariknya sekuat tenaga, mereka berlari bak dikejar seekor anjing, jarak mereka dengan Zian hanya berbeda satu lorong, dan kembali masuk bilik toilet tepat pada saat Zian sampai.
Bahkan tungkai kaki Agnia terasa sangat lemas sesudahnya, hingga pria yang kini memapahnya akhirnya menggendongnya. "Kau tidak apa apa?"
Agnia menatapnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain kemudian baru menggelengkan kepalanya, dia tidak berani menatapnya lama lama karena takut ketahuan berbohong, hingga dia memilih menyembunyikan kepalanya didada Zian.
Zian menghela nafas, meninggalkan tempat karaoke itu, meninggalkan Nita, bahkan Cecilia yang berada di dalam bilikpun tidak berani keluar. Mereka keluar pada saat Zian sudah pergi.
Tubuh Cecilia ambruk di lantai, segala kekhawatiran, rasa was was dan ketakutannya hilang sudah, "Nit ... akhirnya!"
"Ce lo gak apa apa kan?" Nita menyandarkan punggungnya di dinding saking lemas nya.
"Lemes Nit! Seumur umur gue baru lari kayak marathon tadi. Kaki gue sakit!" jawabnya dengan posisi kaki yang dia selonjorkan.
"Sama ... jantung gue juga gak berhenti deg degan!"
Zian membawa Agnia keluar melalui basement, dia menggendongnya hingga masuk ke dalam mobil. "Pakai sabuk pengamanmu." ucapnya saat tubuh Agnia menempel di seat mobil.
Gadis itu mengangguk, namun tangannya masih terasa lemas, hingga terlihat bergetar.
Zian mengambilnya, dia lantas memasangkannya dengan terus menatap Agnia.
"Kamu pasti kelelahan baby,"
Tangannya terulur di dahi Agnia, merapikan rambutnya yang sudah tidak karuan miliknya. Sementara Agnia hanya mengangguk pelan, "Dasar nakal!" sambungnya sebelum menutup pintu.
__ADS_1
Zian melangkah ke arah sebelahnya, masuk kedalam pintu kemudi, dan langsung menancap pedal gas, Agnia memejamkan matanya, selain benar benar lelah, dia juga masih takut ketahuan berbohong.
Sementara Cecilia dan Nita baru saja turun, setelah membiarkan Zian dan Agnia pergi duluan, mereka baru turun, berjalan bersampingan dengan kedua tangan saling melingkari lengan.
"Mereka udah jauh belum ya?" gumam Nita,
Kedua manik mereka menyisir area basement dan sudah tidak menemukan mobil Zian,
"Sepertinya udah!"
Lantas keduanya kembali berjalan menuju mobil dan masuk, "Gue capek! Lo yang bawa mobil!"
"Sama!" jawab Nita memejamkan mata dengan punggung bersandar disebelah kemudi.
"Tapi gue yang lari, lo cuma diem!" gumam Cecilia yang sama sama bersandar di belakang kemudi.
"Ya oke Fine, gue nyetir Ce!"
Mereka kembali keluar dari mobil hendak berganti posisi, dan melihat Regi berjalan ke arah mereka.
"Lo belum balik Gi?"
"Lo pasti nungguin Nia! Segitunya lo Gi." tambah Nita, "Lo pasti sayang banget sama dia, sampai lo masih peduli banget sama dia."
"Kalian juga pasti capek! Nih minum!"
"Thanks Gi!"
"Gue cabut ya! Good luck ujiannya!" ujar Regi berbalik arah dan kembali ke tempat parkir motor.
"Kasian Regi!" Gumam Nita dengan membuka botol air mineral ditangannya.
"Kalau kasian, kasih dia duit yang banyak! Percuma kita gak bisa bantu kalau masalah hati," seru Cecilia kembali berjalan masuk ke mobil.
"Sewot lo Ce!" Nita menyusulnya masuk ke dalam pintu kemudi.
Sementara Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hatinya mulai tenang karena Agnia tidak terlalu parah dan juga meracau. Dia berfikir efek alhokol tidak terlalu kuat karena Agnia hanya minum sedikit.
Untuk beberapa waktu Agnia terus memejamkan kedua matanya itu namun masih tidak tenang, Gimana kalau Zian marah pada Nita juga Cecilia.Tapi Zian benar benar gak tanya ini itu sama gue, dia juga gak marah kayaknya. Tapi kasian Nita, tadi sampai dia bentak. Agnia membatin, hingga dia perlahan membuka kembali kedua manik hitamnya, dia menoleh sedikit ke arahnya, melihat Zian dengan pandangan lurus ke arah jalan, lamat lamat dia membuka suaranya.
"Hubby?"
__ADS_1
"Hem ...? Kenapa?"
"Kau marah?"
"Tidak! Sedikit ....!" jawabnya dengan ibu jari dan telunjuk yang dia rekatkan.
"Ini bukan salah mereka, tapi aku yang salah, aku gak sengaja minum karena aku kira orange juice, hanya sedikit, tidak sampai satu gelas kok! Tapi karena aku gak pernah minum jadi pusing banget, dan mereka panik. Please jangan salahkan mereka dan memarahi mereka."
"Istirahatlah, jangan banyak bicara!"
"Tapi mereka benar benar gak salah kok!"
"Kenapa masih membela mereka? Hm...! Kau takut aku melarangmu bergaul lagi dengan mereka?"
Agnia mengangguk, "Please?"
Zian menghela nafas, "Tidurlah, aku bangunkan jika kita sampai di rumah."
"Nia gak ngantuk, Jadi please jangan marahin mereka!"
Zian menghela nafas panjang lagi."Tapi mereka membawa pengaruh buruk padamu Nia!"
"Enggak kok! Mereka baik banget malah," ujarnya dengan nada lirih.
"Kita bicara nanti ya baby! Sekarang kau diam dan tidur!"
Agnia memilih mengatupkan bibirnya lagi,
Mobil melaju dengan kecepatan sedang itu tiba di rumah, Zian keluar lalu berlari kecil membuka pintu untuk Agnia, gadis kecil itu sudsh bersiap turun, namun Zian segera menggendongnya.
"Aku sudah bisa jalan kok!"
"Tidak apa apa! Kau pasti lelah hm, seperti sudah berlari jauh." ucapnya dengan membawa Agnia masuk, mereka langsung naik ke atas.
"Bi Nur buatkan air jahe!" teriaknya pads Bi Nur yang baru saja keluar dari arah belakang, kedua mata Aya bergerak mengikuti keduanya naik.
Gadis berusia 17 tahun itu melambaikan tangan ke arahnya, dan begitu pun dengan Aya.
"Jangan banyak bergerak! Nanti kita jatuh."
"Cuma melambai tangan kok jatuh!" gumam Agnia yang terus melirik Aya yang berada di bawah.
__ADS_1
"Dasar nakal!"