
Beberapa hari berlalu, tidak ada perubahan bagi Agnia di kantor tempatnya magang, semua sama sejak dari awal, tidak pernah sekalipun dirinya merasa membantu, saat ingin membantu pun mereka menolaknya secara halus, membuatnya benar-benar bosan setiap hari, berbanding terbalik dengan kedua sahabatnya itu, mereka mengeluh setiap saat, pekerjaan yang tiada henti dan melelahkan, bukan hanya satu orang yang menyuruhnya, melainkan hampir semua staff yang berada di divisi umum.
Dan sampai 2 minggu berlalu, mereka tidak tahu kalau Zianlah pemilik kantor itu, Zian memang jarang sekali datang, sekalinya datang dia hanya melihat Agnia dari jauh, kesibukannya yang padat pun menyulitkannya datang setiap hari.
Hingga satu hari Agnia pulang ke rumah dengan wajah yang muram, bukan muram karena kelelahan tapi muram karena tidak melakukan apa-apa selama berada dikantor Golden globe. Dia merasa aneh dengan semua perlakuan yang didapatnya disana, tapi sampai saat ini pun dia tidak tahu apa penyebabnya.
Zian yang tengah menatap foto Agnia di layar telepon genggamnya itu tersentak kaget karena tiba-tiba Agnia datang dengan membanting tubuhnya disofa.
"Ada apa? Capek ya?"
"Enggak! Orang aku gak ngapa-ngapain!"
"Bagus dong, kamu kan disana memang bukan untuk kerja Nia!"
Agnia menoleh ke arah Zian, "Kenapa enggak, aku sanggup kok sekalipun pekerjaan itu butuh tenaga ekstra."
Zian mendekati gadis menggemaskan itu, "Banyak hal yang butuh tenaga ekstra, tapi tidak harus bekerja!"
Agnia mengernyit, "Ngapain?"
Zian mencondongkan kepalanya, menjadi lebih dekat dengan wajah Agnia, "Aku bisa membuatmu berkeringat tanpa harus bekerja!"
Agnia mendorong wajah Zian kebelakang, "Udah tua mesum juga!"
Zian terkekeh, "Ayo ....!"
"Heh ... ayo kemana? Nia gak mau....!"
"Makan Nia ... menangnya apa? Atau kau mau aku makan!"
"Ya ampun Om...!"
Zian kembali tergelak, lalu menarik tangan Agnia dan membawanya ke ruang makan, menarik kursi lalu menekan kedua bahu Agnia sampai terduduk. Tak lama kemudian dia menarik kursi disamping Agnia dan juga duduk.
Bibi pelayan rumah datang tergopoh-gopoh membawa makanan, dan menatanya dimeja.
"Lho bibi belum pulang?"
"Belum Non ... setelah ini baru mau pulang!"
__ADS_1
"Boleh Nia ikut ke rumah bibi? Nia bosan disini terus." ujarnya dan langsung mendapat tatapan tajam dari pria disampingnya.
"Tidak boleh kemana-mana! Kalau Nia bosan kita bisa pergi kemana saja asal pergi denganku!" Agnia menghela nafas,
"Bagaimana kalau ke pasar malem lagi?"
"Gak mau! Besok Nia masih harus pergi magang!"
" Kalau begitu kita pergi ke Mall bagaimana?"
"Enggak!"
"Oh aku tahu, lebih baik kita ke kantor catatan sipil saja!" ujarnya dengan tersenyum.
Agnia menoleh, "Gila ... mau ngapain?"
"Menikah lah! Biar kamu bisa berkeringat tanpa harus bekerja seperti yang aku katakan tadi!"
Agnia beranjak dari duduknya "Sinting!" lantas dia pergi begitu saja ke lantai atas dan masuk kedalam kamarnya.
"Udah makin gila Om Zian! Tiba-tiba ngajak ke kantor catatan sipil, gimana dengan sekolah dan kuliah gue!" gumamnya dengan mendudukkan dirinya di meja rias.
"Boleh aku masuk?"
Agnia menoleh, lalu mengangguk pelan, Zian masuk dan duduk ditepi ranjang, sementara Agnia menatap pantulan dirinya didalam cermin.
"Aku serius dengan ucapanku Nia! Aku ingin menikahimu agar hubungan kita semakin jelas!"
"Dasar mesum!" gumam Agnia.
"Bukan karena hal itu saja, tapi aku benar-benar tidak bisa jauh darimu Nia! Aku juga tidak ingin kamu pergi, apalagi dimiliki oleh orang lain, hiduplah denganku selamanya!"
"Bagaimana dengan sekolah dan nanti kuliah Nia?" Agnia memutarkan tubuhnya hingga menghadap kearahnya.
Zian berlutut dengan satu kaki menekan pada lututnya, "Kamu masih bisa sekolah, masih bisa kuliah? Memangnya kampus akan melarang mahasiswanya untuk menikah?"
Agnia yang memang semakin menyukai Zian itu pun terdiam, tidak bisa dipungkiri, selama tinggal dengan nya, dan semakin mengenalnya. Agnia tahu Zian itu pria baik, namun dirinya tidak juga yakin jika menikah adalah jalan terbaik saat ini. Mimpinya masih banyak, cita-citaku juga masih belum tercapai semua, dan yang paling penting, Bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika mereka tahu.
"Aku akan menemui orangtua mu untuk melamarmu segera!" Zian menggenggam kedua tangan mungil Agnia, seolah bisa membaca fikiran Agnia.
__ADS_1
"Jangan! Biar Agnia yang bicara sama mereka duluan! Kalau Om kesana tiba-tiba, mereka akan kaget, dan mikir hal buruk tentang Nia."
"Jadi kamu mau menikah denganku?"
Agnia kembali terdiam, dengan wajah yang menunduk, "Kasih Nia waktu!"
Zian mengangguk, "Anything for you."
.
.
Setelah pembicaraan keduanya yang terbilang sangat serius itu, Agnia merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar. Memang selama ini hanya Zianlah yang peduli padanya, memberi kasih sayang yang tidak pernah Agnia terima di rumahnya sendiri, yang pasti menghargai keberadaannya walaupun perkataannya acap kali mengarah mesum.
Agnia mengambil ponsel miliknya, sejak perdebatan terakhir dengan Mommynya, tidak pernah sekalipun ibu yang melahirkannya itu menghubunginya, bahkan dia juga tidak pernah lagi mengirimkan uang bulanannya sesuai ancamannya saat itu.
Sedangkan Daddy nya yang tinggal bersama keluarga barunya disingapure sudah pasti tidak tahu apa-apa selama ini, walaupun sesekali menghubunginya hanya untuk memberitahukan jika jatah bulanannya sudah dikirim, jangankan tahu keadaannya saat ini, bertanya kabar saja tidak pernah.
Agnia mengetikkan pesan untuk ibunya, namun urung dia kirimkan, dia kembali menghapusnya dan memilih menemuinya langsung.
"Besok aja gue balik kerumah dan bilang sendiri sama Mommy!" gumamnya lalu kembali meletakkan ponsel diatas nakas, kemudian dia menarik selimut dan memilih untuk tidur.
Keesokan pagi
Agnia terbangun karena suara ribut-ribut terdengar di bawah sana. Dengan malas Agnia membuka pintu kamar dan melihat apa yang terjadi.
Zian berdiri dengan sorot mata yang menatap tajam perempuan di hadapannya yang tengah menangis.
"Sudah aku katakan berapa kali Dita! Jangan pernah datang kemari lagi! Aku sudah melupakanmu, kita sudah berakhir."
"Tidak Zian ... tolong kasih aku kesempatan! Aku ingin memperbaiki hubungan kita seperti dulu lagi! Jangan lakukan ini padaku! Aku tidak bisa hidup tanpamu Zian!" kata Dita dengan menyentuh wajah Zian.
Dengan cepat Zian menepisnya dan mundur beberapa langkah, "Terima lah kenyataannya Dita! Kau yang menghancurkan hubungan kita! Bukan aku, dan kamu bukan tidak bisa hidup tanpa aku, tapi tanpa uangku! Begitu kan?" ujarnya menohok.
Agnia berdiri terpaku melihat keduanya yang tengah bertengkar, sedetik kemudian Dita mengenadahkan wajah kearahnya, "Apa karena jalangg kecil itu Zian?"
Zian mengepalkan tangannya, "Tidak usah bawa-bawa Agnia dalam masalah ini! Semua orang tahu sumber masalah itu dirimu sendiri Dita!"
Anindita mendecih, "Kau melupakan aku demi gadis kecil macam dia? Bodoh kau Zian!"
__ADS_1
"Ya ... aku mencintainya dan akan segera menikahinya."